Fiqih https://www.fiqih.co.id/ Media Fiqih Online Mon, 05 Dec 2022 00:06:14 +0000 id-ID hourly 1 https://wordpress.org/?v=5.8.6 https://www.fiqih.co.id/wp-content/uploads/2020/04/cropped-favicon-2-60x60.png Fiqih https://www.fiqih.co.id/ 32 32 Hal Berkaitan Dengan Mayat : Ada Empat Perkara Yang Wajib https://www.fiqih.co.id/hal-berkaitan-dengan-mayat/ Mon, 05 Dec 2022 00:06:14 +0000 https://www.fiqih.co.id/?p=332 Hal Berkaitan Dengan Mayat : Ada Empat Perkara Yang Wajib – Pada kesemptan kali ini Fiqih.co.id akan menerangkan tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan mayat. Sebgaimana yang telah kita ketahui bahwa kewajiban kita pada mayat itu ada empat.

Hal Berkaitan Dengan Mayat : Ada Empat Perkara Yang Wajib

Terkait dengan masalah kewajiban yang hidup pada mayat, maka di sini kami akan menjelaskannya sesuai yang kami baca menurut pandangan fiqih dalam mdzhab Syafi’i.

Mukodimah

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ،  وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ الْكَرِيْمِ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ

Kaum Muslimiin wal-mukminiin, dan Para Santri, yang dirahmati Allah. Puji dan Syukur senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanhu wa Ta’ala. Shalawat teriring Salam semoga tetap tercurah kepada jungjunan kita Nabi Agung Muhammad, SAW.

Pembaca yang kami banggakan, mari kita ikuti bersama uraian tentang Perkara yang berhubungan dengan mayat.

Sesuatu Yang Berkaitan Dengan Mayat

Sebagaimana telah diterangkan dalam Fathul-qorub pada satu fasal.

 (فَصْلٌ): فِيْمَا يَتَعَلَّقُ بِالْمَيِّتِ مِنْ غُسْلِهِ وَتَكْفِيْنِهِ وَالصَّلَاةِ عَلَيْهِ وَدَفْنِهِ (وَيَلْزَمُ) عَلَى طَرِيْقِ فَرْضِ الْكِفَايَةِ (فِيْ الْمَيِّتِ) الْمُسْلِمِ غَيْرِ الْمُحْرِمِ وَالشَّهِيْدِ (أرْبَعَةُ أَشْيَاءَ غُسْلُهُ وَتَكْفِيْنُهُ وَالصَّلَاةُ عَلَيْهِ وَدْفَنُهُ)

Pasal : Menerangkan tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan mayat, seperti : memandikan, membungkus, menshalati dan menanam. Dan wajib kifayah dalam hal urusan mayat orang Islam.

selain mayat yang sedang Ihram dan mayat yang mati syahid, atas 4 perkara, yaitu :

  1. Memandikan.
  2. Membungkus.
  3. Menshalati.
  4. Menanamnya.

Kewajiban Yang Hidup Terhadap Mayat

وَإِنْ لَمْ يَعْلَمْ بِالْمَيِّتِ إِلَّا وَاحِدٌ تَعَيَّنَ عَلَيْهِ مَا ذُكِرَ، وَأَمَّا الْمَيِّتُ الْكَافِرُ فَالصَّلَاةُ عَلَيْهِ حَرَامٌ حَرَبِياً كَانَ أَوْ ذِمِيّاً. وَيَجُوْزُ غُسْلُهُ فِي الْحَالَيْنِ وَيَجِبُ تَكْفِيْنُ الذِّمِّيِّ وَدَفْنُهُ دُوْنَ الْحَرَبِيِّ وَالْمُرْتَدِ، وَأَمَّا الْمُحْرِمُ إِذَا كُفِنَ فَلَا يُسْتَرُ رَأْسُهُ، وَلَا وَجْهُ الْمُحْرِمَةِ وَأَمَّا الشَّهِيْدُ فَلَا يُصَلَّى عَلَيْهِ كَمَا ذَكَرَهُ الْمُصَنِفُ بِقَوْلِهِ

Jika tidak ada orang yang mengetahui adanya mayat kecuali hanya seorang saja, maka menjadi nyata, bahwa kewajiban itu tadi harus dilakukan oleh seorang tersebut. Adapun mayat orang kafir, baik kafir harbi ataupun dzimmi, maka haram menshalatinya. Tetapi keduanya boleh dimandikan.

Wajib membungkus mayat kafir dzimmi dan menanamnya, tidak wajib bagi kafir harbi dan orang yang murtad. Adapun orang yang sedang Ihram ketika dibungkus, maka kepalanya tidak boleh ditutupi demikian juga perempuan yang sedang ihram, maka wajahnya tidak boleh ditutupi. Sedangkan orang yang mati syahid, maka tidak boleh dishalati. Sebagaimana keterangan mushannif, bahwa :

Mayat Yang Tidak Dimandikan Dan Dishalatkan

(وَاِثْنَانِ لَا يُغْسَلَانِ وَلَا يُصَلَّى عَلَيْهِمَا) أحَدُهُمَا (الشَّهِيْدُ فِيْ مَعْرِكَةِ الْمُشْرِكِيْنَ) وَهُوَ مَنْ مَاتَ فِيْ قِتَالِ الْكُفَّارِ بِسَبَبِهِ سَوَاءٌ قَتَلَهُ كَافِرٌ مُطْلَقاً أَوْ مُسْلِمٌ خَطَأً، أَوْ عَادَ سِلَاحُهُ إِلَيْهِ أَوْ سَقَطَ عَنْ دَابَّتِهِ أَوْ نَحْوِ ذَلِكَ، فَإِنْ مَاتَ بَعْدَ اِنْقِضَاءِ الْقِتَالِ بِجَرَاحَةٍ فِيْهِ يَقْطَعُ بِمَوْتِهِ مِنْهَا، فَغَيْرُ شَهِيْدٍ فِيْ الْأَظْهَرِ وَكَذَا لَوْ مَاتَ فِيْ قِتَالِ الْبُغَاةِ أَوْ مَاتَ فِيْ الْقِتَالِ لَا بِسَبَبِ الْقِتَالِ

ada dua mayat yang tidak boleh dimandikan dan dishalati, yaitu :

Pertama Mati Syahid :

Mayat orang yang mati syahid di dalam suatu pertempuran dengan orang-orang musyrik, yaitu orang yang mati disebabkan karena bertempur dengan para orang kafir, baik yang membunuh itu benar-benar orang kafir atau orang Islam yang salah (dalam membunuh) atau juga karena senjatanya membalik pada dirinya sendiri atau jatuh dari kendaraannya dsb.

Seandainya orang tersebut mati setelah pertempuran selesai disebabkan karena luka-luka (akibat perang) yang menyebabkan kematiannya, maka ia tidak termasuk mati syahid. Demikian menurut pendapat yang lebih jelas.

Demikian juga tidak termasuk mati syahid orang yang mati karena memerangi para pemberontak, atau memang mati di tengah-tengah pertempuran tetapi ia mati bukan karena berperang.

(وَ) الثَّانِي (السِّقْطُ الَّذِيْ لَمْ يَسْتَهِلُ) أَيْ لَمْ يَرْفَعْ صَوْتَهُ (صَارِخاً) فَإِنْ اِسْتَهَلَ صَارِخاً أَوْ بَكَى فَحُكْمُهُ كَالْكَبِيْرِ، وَالسِّقْطُ بِتَثْلِيْثِ السِّيْنِ الْوَلَدُ النَّازِلُ قَبْلَ تَمَامِهِ مَأْخُوْذٌ مِنَ السُّقُوْطِ (وَيُغْسَلُ الْمَيِّتُ وِتْراً) ثَلَاثاً أَوْ خَمْساً أَوْ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ (وَيَكُوْنُ فِيْ أَوَّلِ غُسْلِهِ سِدْرٌ) أَيْ يُسَنُّ أَنْ يَسْتَعِيْنَ الْغَاسِلُ فِيْ الْغُسْلَةِ الْأُوْلَى مِنْ غَسَلَاتِ الْمَيِّتِ بِسِدْرٍ أَوْ خَطْمِيٍّ،

Kedua Mati Keguguran :

 Bayi yang gugur (dalam kandungan) yang belum dapat bersuara dengan menjerit-jerit. Jika sudah bersuara menjerit-jerit atau menangis, maka setatus hukumnya seperti orang dewasa.

Lafadz Wassiqthu dengan dibaca tasydid Sinnya adalah maksudnya “bayi yang gugur” yaitu anak yang lahir sebelum masa mengandung sempurna sampai batas waktunya. Dan dimandikan si mayat dengan jumlah ganjil yakni 3 atau 5 kali atau lebih banyak dari itu.

Di dalam permulaan memandikan mayat hendaknya dicampuri dengan daun bidara, yakni disunnahkan bagi orang yang memandikan untuk memberikan pertolongan dalam pemandian yang pertama dari beberapa siraman kepada mayat yang airnya diberi daun bidara atau daun khathmy.

Keterangan Daun Khatmy

Pengertian “daun khathmy” menurut yang berkembang di kalangan masyarakat di Indonesia, adakalanya yang dimaksud ialah daun asam, atau daun pohon delima atau daun-daunnan yang sebangsa dengan itu.

Adanya perbendaan dalam memberikan ketentuan tersebut dikarnakan bila yang dikehendaki dengan daun khathmy sesuai dengan pengertian dan gambar tumbuhan yang terdapat di dalam Al-Munjid ternyata memang tumbuh-tumbuhan tersebut tidak terdapat di negeri kita ini, mungkin saja terdapat di dataran semenanjung Arab.

Akhir Siaraman Memandikan Mayat

وَ) يَكُوْنُ (فِيْ آخِرِهِ) أَيْ آَخِرِ غُسْلِ الْمَيِّتِ غَيْرِ الْمُحْرِمِ (شَيْءٌ) قَلِيْلٌ (مِنْ كَافُوْرٍ) بِحَيْثُ لَا يُغَيِّرُ الْمَاءَ وَاعْلَمْ أَنَّ أَقَلَّ غُسْلِ الْمَيِّتِ تَعْمِيْمُ بَدَنِهِ بِالْمَاءِ مَرَّةً وَاحِدَةً، وَأَمَّا أَكْمَلُهُ فَمَذْكُوْرٌ فِيْ الْمَبْسُوْطَاتِ)

Pada akhir siraman mandi mayat, maka dicampuri kapur barus sedikit yang tidak haram, sekiranya tidak merobah air.

Ketahuilah, bahwa memandikan mayat itu paling sedikit adalah menyiram air satu kali yang dapat merata keseluruh badannya. Sedangkan yang sempurna adalah sebagaimana yang disebutkan di dalam kitab yang panjang lebar keterangannya.

Mengkafani Mayat Laki-laki

وَيُكْفَنُ الْمَيِّتُ ذَكَراً كَانَ أَوْ أُنْثَى بَالِغاً كَانَ أَوْ لَا (فِيْ ثَلَاثَةِ أَثْوَابٍ بِيْضٍ) وَتَكُوْنُ كُلُّهَا لَفَائِفَ مُتَسَاوِيَّةً طُوْلاً وَعَرْضاً تَأْخُذُ كُلُّ وَاحِدَةٍ مِنْهَا جَمِيْعَ الْبَدَنِ (لَيْسَ فِيْهَا قَمِيْصٌ وَلَا عَمَامَةٌ) وَإِنْ كُفِنَ الذَّكَرُ فِيْ خَمْسَةٍ فَهِيَ الثَّلَاثَةُ الْمَذْكُوْرَةُ وَقَمِيْصٌ وَعَمَامَةٌ

Dan supaya mayat itu dibungkus dengan 3 lapis kain putih. Baik mayat laki-laki atau perempuan, sudah baligh atau belum baligh. 3 lapis tersebut masing-masing panjang dan lebarnya sama sekira dapat dipergunakan untuk melengkap seluruh badannya mayat. 3 lapis itu tadi tidak termasuk baju kurung dan surban.

Jika menghendaki mayat laki-laki dibungkus 5 lapis, maka 3 lapis kain putih sebagai yang tersebut di atas itu, kemudian ditambah baju kurung dan surban.

Mengkafani Mayat Perempuan

أَوْ الْمَرْأَةُ فِيْ خَمْسَةٍ فَهِيَ إِزَارٌ وَخِمَارٌ وَقَمِيْصٌ وَلِفَافَتَانِ، وَأَقَلُّ الْكُفْنِ ثَوْبٌ وَاحِدٌ يَسْتُرُ عَوْرَةَ الْمَيِّتِ عَلَى الْأَصَحِّ فِيْ الرَّوْضَةِ وَشَرْحِ الْمُهَذَّبِ، وَيَخْتَلِفُ بِذُكُوْرَةِ الْمَيِّتِ وَأُنُوْثَتِهِ، وَيَكُوْنُ الْكُفْنُ مِنْ جِنْسٍ مَا يَلْبَسُهُ الشَّخْصُ فِيْ حَيَاتِهِ

Atau mayat perempuan yang dibungkus 5 lapis, maka perinciannya sebagai berikut :

  1. 1 kain yang biasa dipakai rangkapan di waktu shalat.
  2. 1 kain tutup kepala di waktu oshalat.
  3. 1 kain baju kurung.
  4. 2 lapis kain putih.

Paling sedikit, mengkafani (membungkus) mayat perempuan ialah 1 lapis kain putih yang dapat menutupi auratnya. Demikian menurut pendapat yang lebih shaheh yang tersebut di dalam kitab Raudhah dan syarah kitab Muhadzdzab.

Dan berbeda kadar kain kafan yang disebabkan karena mayat itu laki-laki dan perempuan. Oleh karena itu maka kain kafan tersebut adalah terdiri dari jenis kain yang dipakai seseorang dalam hidup sehari-harinya.

Hal Berkaitan Dengan Mayat Ada Empat Perkara Yang Wajib

Demikian Uraian kami tentang: Hal Berkaitan Dengan Mayat : Ada Empat Perkara Yang Wajib – Semoga bermanfaat dan memberikan tambahan ilmu pengetahuan untuk kita semua. Abaikan saja uraian kami ini jika pembaca tidak sependapat.Terima kasih atas kunjungannya. Wallahu A’lamu bish-showab.

]]>
Berpakaian : Hukum Memakai Sutra Dan Emas Bagi Laki-laki https://www.fiqih.co.id/berpakaian/ Mon, 05 Dec 2022 00:06:14 +0000 https://www.fiqih.co.id/?p=328 Berpakaian : Hukum Memakai Sutra Dan Emas Bagi Laki-laki – Pada kesemptan kali ini Fiqih.co.id akan menerangkan tentang Berpakaian. Yang kami maksudkan berpakaian di sini adalah memakai Sutra dan Emas bagi laki-laki mernurut fiqih.

Berpakaian : Hukum Memakai Sutra Dan Emas Bagi Laki-laki

Terkait dengan masalah berpakain sutra dan emas khusus bagi laki-laki. Maka di sini kami akan menjelaskannya sesuai yang kami baca dalam pandangan fiqih dalam madzhab Syafi’i.

Mukodimah

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ،  وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ الْكَرِيْمِ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ

Kaum Muslimiin wal-mukminiin, dan Para Santri, yang dirahmati Allah. Puji dan Syukur senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Shalawat teriring Salam semoga tetap tercurah kepada jungjunan kita Nabi Agung Muhammad, SAW.

Pembaca yang kami banggakan, mari kita ikuti bersama uraian tentang Hukum Memakai Sutra dan Emas bagi laki-laki.

Uraian ini kami akan mengutipnya darui kitab Fathul-qorib. Untuk lebih jelasnya mari kita ikuti pada pasal berikut ini.

Hukum Berpakaian

Di dalam islam cara berpakain pun ada tata tertibnya, yakni ada aturannya. Jadi tidak asal suka dan mampu lalu tanpa memperhatikan hukum halal haram langsung pake aja. Oleh karena itu baik dalam hadits maupun fiqih itu sudah dijelaskan mengenai hukum berpakaian. Dan dalam fiqih sebagaiman dijelaskan dalam satu pasal berikut:

فَصْلٌ): فِيْ اللِّبَاسِ (وَيَحْرُمُ عَلَى الرِّجَالِ لُبْسُ الْحَرِيْرِ وَالتَّخَتُّمِ بِالذَّهَبِ) وَالْقَزِّ فِيْ حَالَةِ الْاِخْتِيَارِ، وَكَذَا يَحْرُمُ اِسْتِعْمَالُ مَا ذُكِرَ عَلَى جِهَةِ الْاِفْتِرَاشِ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنْ وُجُوْهِ الْاِسْتِعْمَالَاتِ)

Pasal : Menerangkan tentang hukumnya berpakaian. Haram bagi setiap laki-laki memakai sutra dan memakai cincin yang terbuat dengan emas dan juga haram memakai sutra dalam keadaan ikhtiyar. Demikian pula haram memakai benda-benda tersebut tadi alas (duduk atau tidur) dan lain sebagainya dari bentuk bentuk pakaian.

Hukum Berpakaian Karena Terpaksa Bagi laki-laki.

Memakai Sutra ataupun Emas bagi laki-laki itu tidak diperbolehkan kecuali darurat, sebagaimana dijelaskan dalam Fathul-qorib sebagai berikut:

وَيَحِلُّ لِلرِّجَالِ لُبْسُهُ لِلضَّرُوْرَةِ كَحَرٍّ وَبَرْدِ مُهْلِكَيْنِ

Halal bagi setiap laki-laki memakai sutra karena terpaksa sekali kondisi panas dan dingin yang membahayakan (merusakkan).

Memakai Sutra Dan Emas Bagi Perempuan Dan Anaka Kecil

وَيَحِلُّ لِلنِّسَاءِ) لُبْسُ الْحَرِيْرِ وَافْتِرَاشِهِ وَيَحِلُّ لِلْوَلِيِّ إِلْبَاسُ الصَّبِيِّ الْحَرِيْرَ قَبْلَ سَبْعِ سِنِيْنَ وَبَعْدَهَا (وَقَلِيْلُ الذَّهَبِ وَكَثِيْرُهُ) أَيْ اِسْتِعْمَالُهُمَا (فِيْ التَّحْرِيْمِ سَوَاءٌ وَإِذَا كَانَ بَعْضُ الثَّوْبِ إِبْرَيْسَماً) أيْ حَرِيْراً (وَبَعْضُهُ) الْآخَرُ (قَطْناً أَوْ كَتَاناً) مَثَلاً (جَازَ) لِلرَّجُلِ (لُبْسُهُ مَا لَمْ يَكُنِ الْإِبْرَيْسَمُ غَالِباً) عَلَى غَيْرِهِ فَإِنْ كَانَ غَيْرُ الْإِبْرَيْسَمِ غَالِباً حَلَّ وَكَذَا إِنْ اِسْتَوَيَا فِي الْأَصَحِ

Boleh bagi orang wanita memakai sutra dan menggunakan alas dari sutra. Dan halal bagi wali (orang yang menguasai anak) memberikan pakaian anaknya yang terdiri dari sutra pula sebelum berumur 7 tahun dan sesudahnya. Memakai emas sedikit atau banyak dalam hal keharamannya adalah sama saja.

Apabila pakaian itu sebagian terdiri dari sutra dan sebagian yang lain terdiri dari kapas atau katun misalnya, maka boleh bagi orang lakilaki memakainya selama bahan sutranya tidak lebih banyak dari lainnya. Jika bahan yang bukan dari sutra itu lebih banyak, maka boleh memakainya dan demikian juga bila keadaan keduanya itu sama, maka boleh memakainya sebagaimana pendapat yang lebih shaheh.

Berpakaian Hukum Memakai Sutra Dan Emas Bagi Laki-laki.jpg
Berpakaian Hukum Memakai Sutra Dan Emas Bagi Laki-laki.jpg

Demikian Uraian kami tentang: Berpakaian : Hukum Memakai Sutra Dan Emas Bagi Laki-laki – Semoga bermanfaat dan memberikan tambahan ilmu pengetahuan untuk kita semua. Abaikan saja uraian kami ini jika pembaca tidak sependapat.Terima kasih atas kunjungannya. Wallahu A’lamu bish-showab.

]]>
Shalat Khauf : Cara Melaksanakan Shalat Dalam Keadaan Gawat https://www.fiqih.co.id/shalat-khauf/ Sun, 04 Dec 2022 00:03:57 +0000 https://www.fiqih.co.id/?p=322 Shalat Khauf : Cara Melaksanakan Shalat Dalam Keadaan Gawat – Pada kesemptan kali ini Fiqih.co.id akan menerangkan tentang Shalat Khauf. Yang dimaksud dengan Shalat Khauf adalah dalam keadaan gawat.

Shalat Khauf : Cara Melaksanakan Shalat Dalam Keadaan Gawat

Terkait dengan pelaksanaan  Shalat dalam keadaan mencekam sangat gawat. Uraian prihal tersebut kami jelaskan dari satu pasal yang terdapat dalam Fathul-qorib.

Mukodimah

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ،  وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ الْكَرِيْمِ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ

Kaum Muslimiin wal-mukminiin, dan Para Santri, Rahimakumllah. Puji dan Syukur senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanhu wa Ta’ala. Shalawat dan Salam semoga tetap tercurah kepada jungjunan kita Nabi Agung Muhammad, SAW.

Pembaca yang dirahmati Allah, mari kita ikuti bersama uraian tentang Shalat dalam keadaan gawat.

Dan kali ini kami akan menerangkan tentang shalat khauf. Untuk lebih jelasnya mari kita ikuti pada pasal berikut ini.

Shalat Khauf

﯁(فَصْلٌ): فِيْ كَيْفِيَّةِ صَلَاِة الْخَوْفِ. وَإِنَّمَا أَفْرَدَهَا الْمُصَنِفُ عَنْ غَيْرِهَا مِنَ الصَّلَوَاتِ بِتَرْجَمَةِ، لِأَنَّهُ يُحْتَمَلُ فِيْ إِقَامَةِ الْفَرْضِ فِي الْخَوْفِ مَا لَا يُحْتَمَلُ فِيْ غَيْرِهِ (وَصَلَاةُ الْخَوْفِ) أَنْوَاعٌ كَثِيْرَةٌ تَبْلُغُ سِتَّةَ أَضْرُبٍ كَمَا فِيْ صَحِيْحِ مُسْلِمٍ اِقْتَصَرَ الْمُصَنِفُ مِنْهَا (عَلَى ثَلَاثَةِ أَضْرُبٍ

Pasal: Menerangkan tentang cara melaksanakan shalat dalam waktu yang gawat. Mushannif menyendirikan pembicaraannya dari shalat-shalat yang lainnya dengan pasal tersendiri pula. Karena sesungguhnya semua perkara yang tidak diampuni diluar waktu gawat maka mengerjakan fardhu di waktu gawat itu diampuni.

Bagian Shalat Khauf

Shalat khauf itu macamnya banyak sampai ada enam macam sebagaimana yang tersebut di dalam kitab shaheh Muslim. Kemudian mushannif meringkas dari enam macam itu menjadi 3 macam yaitu :

  1. Jika musuh tidak di arah qiblat, sedang musuh tersebut jumlahnya sedikit dan kaum muslimin banyak jumlahnya.
  2. Bila musuh itu berada di arah qiblat dengan jumlah yang banyak.
  3. Jika berada dalam keadaan yang gawat sekali karena berkecamuknya peperangan.

Bagian Pertama

أَحَدُهَا أَنْ يَكُوْنَ الْعَدُوُّ فِيْ غَيْرِ جِهَةِ الْقِبْلَةِ) وَهُوَ قَلِيْلٌ وَفِي الْمُسْلِمِيْنَ كَثْرَةٌ بِحَيْثُ تُقَاوِّمُ كُلُّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ الْعَدُوَّ (فَيَفُرِّقُهُمُ الْإِمَامُ فِرْقَتَيْنِ فَرْقَةً تَقِفُ فِيْ وَجْهِ الْعَدُوِّ) تَحْرُسُهُ (وَفِرْقَةً تَقِفُ خَلْفَهُ) أَيْ الْإِمَامِ (فَيُصَلِّي بِالْفِرْقَةِ الَّتِيْ خَلْفَهُ رَكْعَةً ثُمَّ) بَعْدَ قِيَامِهِ لِلرَّكْعَةِ الثَّانِيَّةِ (تَتِمُّ لِنَفْسِهَا) بَقِيَّةَ صَلَاتِهَا (وَتَمْضِيْ) بَعْدَ فِرَاغِ صَلَاتِهَا (إِلَى وَجْهِ الْعَدُوِّ) تَحْرُسُهُ (وَتَأْتِيْ الطَّائِفَةُ الْأُخْرَى) الَّتِيْ كَانَتْ حَارِسَةً فِي الرَّكْعَةِ الْأُوْلَى. (فَيُصَلِّي) الْإِمَامُ (بِهَا رَكْعَةً) فَإِذَا جَلَسَ الْإِمَامُ لِلتَّشَهُدِ تُفَارِقُهُ (وَتَتِمُ لِنَفْسِهَا) ثُمَّ يَنْتَظِرُهَا الْإِمَامُ (وَيُسَلِّمُ بِهَا) وَهَذِهِ صَلَاةُ رَسُوْلِ اللهِ بِذَاتِ الرِّقَاعِ، سُمِّيَتْ بِذَلِكَ لِأَنَّهُمْ رَقَعُوْا فِيْهَا رَايَاتِهِمْ وَقِيْلَ غَيْرُ ذَلِكْ

Pertama : Jika musuh tidak di arah qiblat, sedang musuh tersebut jumlahnya sedikit dan kaum muslimin banyak jumlahnya, sekiranya tiap-tiap kelompok kaum muslimin mampu membandingi musuh.

Maka hendaknya imam membagi mereka menjadi 2 kelompok. Satu kelompok berdiri ke arah musuh menjaganya dan satu kelompok lagi berdiri di belakang imam.

Selanjutnya imam mengerjakan shalat satu rakaat dengan kelompok yang ada dibelakangnya. Sesudah imam berdiri menuju rakaat kedua, maka kelompok ini (yang ada dibelakang imam) menyempurnakan sendiri kepada shalatnya.  Dan kelompok ini setelah selesai shalatnya kemudian terus menghadap musuh menjaganya.

Kelompok yang semula menjaga musuh cepat-cepat menyusul di belakang imam. Kemudian imam mengerjakan shalat satu rakaat lagi dengan kelompok ini.

Ketika imam telah duduk karena hendak tahiyyat, maka kelompok ini supaya memisahkan diri dengan imam dan menyempurnakan shalatnya.

Sedangkan imam tetap duduk menantikan selesainya kelompok ini yang pada akhirnya melakukan salam bersama-sama.

Dan inilah shalatnya Rasulullah saw. ketika berada di desa ”Dzatir Riqa”. Pemberian nama yang demikian itu, karena mereka kaum muslimin di desa tersebut sama menambal kendaraannya.

Dan dikatakan oleh yang lain bahwa Dzatir Riqa’ itu maksudnya tidak demikian.

Bagian kedua

﯁(وَالثَّانِي أَنْ يَكُوْنَ فِيْ جِهَةِ الْقِبْلَةِ) فِي مَكَانٍ لَا يَسْتُرُهُمْ عَنْ أَعْيُنِ  الْمُسْلِمِيْنَ شَيْءٌ، وَفِيْ الْمُسْلِمِيْنَ كَثْرَةٌ تَحْتَمِلُ تَفَرُّقُهُمْ (فَيَصِفُهُمُ الْإِمَامُ صَفَيْنِ) مَثَلاً (وَيَحْرُمُ بِهِمْ) جَمِيْعاً (فَإِذَا سَجَدَ) الْإِمَامُ فِيْ الرَّكْعَةِ الْأُوْلَى (سَجَدَ مَعَهُ أَحَدُ الصَّفَيْنِ) سَجْدَتَيْنِ (وَوَقَفَ الصَّفُ الْآخَرُ يَحْرُسُهُمْ فَإِذَا رَفَعَ) الْإِمَامُ رَأْسَهُ (سَجَدُوْا وَلَحِقُوْهُ) وَيَتَشَهَدُ الْإِمَامُ بِالصَّفَيْنِ وَيُسَلِّمُ بِهِمْ وَهَذِهِ صَلَاةُ رَسُوْلِ اللهِ بِعَسْفَانَ، وَهِيَ قَرْيَةٌ فِيْ طَرِيْقِ الْحَاجِ الْمِصْرِيِّ بَيْنَهَا وَبَيْنَ مَكَّةَ مَرْحَلَتَانِ، سُمِّيَتْ بِذَلِكَ لِعَسْفِ السُّيُوْلِ فِيْهَا

Kedua : Bila musuh itu berada di arah qiblat di suatu tempat yang tidak terdapat sesuatu yang menutupi musuh dari penglihatan kaum muslimin yang jumlahnya banyak, maka boleh membagi-bagi kaum muslimin.

Maka hendaknya imam membagi kaum muslimin menjadi dua baris. Imam takbiratulihram dengan semuanya, ketika imam sujud, maka salah satu dari dua shaf itu supaya melakukan dua sujud beserta imam. Dan tetap berdiri kelompok barisan yang satunya menjaga musuh-musuh.

Ketika imam mengangkat kepalanya, maka sujudlah kelompok barisan yang satu ini dan terus menyusul imam dan bertahiyyatlah imam dengan dua kelompok barisan serta salam bersama-sama.

Inilah shalatnya Rasulullah saw. sewaktu berada di desa ”’Asfan” yaitu suatu desa di jalan menuju haji bagi orang Mesir, dua kali perjalanan antara ‘Asfan dan Mekkah. Dan dinamakan yang demikian itu ‘Asfan” itu merupakan tempat penentu banjir.

Bagian Ketiga

﯁(وَالثَّالِثُ أَنْ يَكُوْنَ فِيْ شِدَّةِ الْخَوْفِ وَالتِّحَامِ الْحَرْبِ) هُوَ كِنَايَةٌ عَنْ شِدَّةِ الْاِخْتِلَاطِ بَيْنَ الْقَوْمِ بِحَيْثُ يَلْتَصِقُ لَحْمُ بَعْضِهِمْ بِبَعْضٍ، فَلَا يَتَمَكَّنُوْنَ مِنْ تَرْكِ الْقِتَالِ وَلَا يَقْدِرُوْنَ عَلَى النُّزُوْلِ إِنْ كَانُوْا رُكْبَاناً، وَلَا عَلَى الْاِنْحِرَافِ إِنْ كَانُوْا مَشَاةً (فَيُصَلِّي) كُلٌّ مِنَ الْقَوْمِ (كَيْفَ أَمْكَنَهُ رَاجِلاً) أيْ مَاشِياً (أَوْ رَاكِباً مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ وَغَيْرَ مُسْتَقْبِلٍ لَّهَا) وَيُعَذَّرُوْنَ فِيْ الْأَعْمَالِ الْكَثِيْرَةِ فِيْ الصَّلَاةِ كَضَرَبَاتٍ مُتَوَالِيَّةٍ

Ketiga : Jika berada dalam keadaan yang gawat sekali karena berkeca muknya peperangan. Ini merupakan petunjuk dari suatu keadaan kritis dalam peperangan antara kaum, sekiranya sebagian daging mereka bertemu dengan daging sebagiannya.

Maka tidak memungkinkan bagi kaum meninggalkan medan pertempuran dan tidak dapat turun jika mereka itu berada di atas kendaraan dan tidak dapat membelok jika mereka berjalan kaki.

Maka hendaknya tetap mengerjakan shalat dengan berjalan kaki menurut kemampuannya. Atau naik kendaraan dengan menghadap qiblat atau tidak.

Dan diampuni melakukan perbuatan-perbuatan di dalam shalat disebabkan karena mereka dalam keadaan ‘udzur, seperti memukul-mukul secara sambung menyambung.

Shalat Khauf Cara Melaksanakan Shalat Dalam Keadaan Gawat.jpg
Shalat Khauf Cara Melaksanakan Shalat Dalam Keadaan Gawat.jpg

Demikian Uraian kami tentang: Shalat Khauf : Cara Melaksanakan Shalat Dalam Keadaan Gawat – Semoga bermanfaat dan memberikan tambahan ilmu pengetahuan untuk kita semua. Abaikan saja uraian kami ini jika pembaca tidak sependapat.Terima kasih atas kunjungannya. Wallahu A’lamu bish-showab.

]]>
Shalat Istisqa : Memohon Siraman Air Hujan Dari Allah https://www.fiqih.co.id/shalat-istisqa/ Sun, 04 Dec 2022 00:03:57 +0000 https://www.fiqih.co.id/?p=316 Shalat Istisqa : Memohon Siraman Air Hujan Dari Allah – Pada kesemptan kali ini Fiqih.co.id akan menerangkan tentang Shalat Istisqa. Shalat meminta hujan dari Allah adalah disunnahkan.

Shalat Istisqa : Memohon Siraman Air Hujan Dari Allah

Mengenai Shalat Istisqa ini akan kami terangkan secara ringkas. Keterangan tentang Shalat Istisqa kami mengutip dari satu pasal yang terdapat dalam Fathul-qorib.

Mukodimah

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ،  وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ الْكَرِيْمِ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ

Jam’ah, dan Para Santri, Rahimakumllah. Puji dan Syukur senantiasa kita panjatkan kepada Allah Subhanhu wa Ta’ala. Shalawat dan Salamsemoga tetap tercurah kepada jungjunan kita Nabi Agung Muhammad, SAW.

Pembaca yang dirahmati Allah, mari kita ikuti secara seksama uraian tentang Shalat Istisqa.

Dan kali ini kami akan menerangkan tentang prihal tersebut. Untuk lebih jelasnya mari kita ikuti pasal berikut ini.

Hukum Shalat Istisqa

﯁(فصل): فِيْ أَحْكَامِ صَلَاةِ الْاِسْتِسْقَاءِ. أَيْ طَلَبِ السُّقْيَا مِنَ اللهِ تَعَالَى (وَصَلَاةُ الْاِسْتِسْقَاءِ مَسْنُوْنَةٌ) لِمُقِيْمٍ وَمُسَافِرٍ عِنْدَ الْحَاجَةِ مِنْ اِنْقِطَاعِ غَيْثٍ أَوْ عَيْنِ مَاءٍ وَنَحْوِ ذَلِكَ، وَتُعَادُ صَلَاةُ الْاِسْتِسْقَاءِ ثَانِياً وَأَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ، إِنْ لَمْ يُسْقَوْا حَتَّى يَسْقِيْهِمُ اللهُ

Pasal: Menerangkan tentang beberapa hukum shalat Istisqa, yaitu shalat meminta hujan dari Allah swt. Shalat istisqa itu hukumnya disunnahkan bagi orang yang berada ditempat tinggal dan orang yang bepergian, ketika ada kebutuhan yaitu hujan terputus atau sumbernya air juga terputus dan sebagainya. Dan diulang kembali shalat istisqa sampai dua kali dan boleh juga lebih dari itu, jika memang belum diberi hujan sampai Allah menurunkan hujan kepada mereka.

Sunnahnya Bagi Pemimpin Setempat

(فَيَأْمَرُهُمْ) نُدْباً (اْلإيمَامُ) وَنَحْوُهُ (بِالتَّوْبَةِ) وَيَلْزِمُهُمْ اِمْتِثَالُ أَمْرِهِ كَمَا أَفْتَى بِهِ النَّوَوِيُّ وَالتَّوْبَةُ مِنَ الذَّنْبِ وَاجِبَةٌ أَمَرَ الْإِمَامُ بِهَا أَوْلاً (وَالصَّدَقَةِ وَالْخُرُوْجِ مِنَ الْمَظَالِمِ) لِلْعِبَادِ (وَمَصَالِحَةِ الْأَعْدَاءِ وَصِيَامِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ) قَبْلَ مِيْعَادِ الْخُرُوْجِ فَيَكُوْنُ بِهْ أَرْبَعَةً (ثُمَّ يَخْرُجُ بِهِمْ فِيْ الْيَوْمِ الرَّابِعِ) صِيَاماً غَيْرَ مُتَطَيِّبِيْنَ وَلَا مُتَزَيِّنَيْنَ بَلْ يَخْرُجُوْنَ (فِيْ ثِيَابِ بِذْلَةٍ) بِمُوَحِدَّةٍ مَكْسُوْرَةٍ وَذَالٍ مُعْجِمَةٍ سَاكِنَةٍ، وَهِيَ مَا يُلْبَسُ مِنْ ثِيَابِ الْمُهِنَّةِ وَقْتَ الْعَمَلِ (وَاسْتِكَانَةٍ) أَيْ خُشُوْعٍ (وَتَضَرُّعٍ) أيْ خُضُوْعٍ وَتَذَلُّلٍ، وَيَخْرُجُوْنَ مَعَهُمْ الصِّبْيَانُ وَالشُّيُوْخُ وَالْعَجَائِزُ وَالْبَهَائِمُ (وَيُصَلِّي بِهِمُ) الْإِمَامُ أَوْ نَائِبُهُ (رَكْعَتَيْنِ كَصَلَاةِ الْعِيْدَيْنِ) فِيْ كَيْفِيَتِهِمَا مِنَ الْاِفْتِتَاحِ وَالتَّعَوُّذِ وَالتَّكْبِيْرِ سَبْعاً فِيْ الرَّكْعَةِ الْأُوْلَى، وَخَمْساً فِيْ الرَّكْعَةِ الثَّانِيَّةِ يَرْفَعُ يَدَيْهِ

Sunnah bagi imam dan yang sepadan dengannya agar memerintahkan kepada mereka untuk bertaubat. Dan wajib bagi mereka melaksanakan perintahnya imam, sebagaimana fatwa imam Nawawi, bahwa taubat dari dosa itu adalah wajib, baik imam memerintahkan atau tidak.

Dan memerintahkan supaya bershadaqah, keluar dari kedurhakaan kepada manusia, berbuat baik kepada musuh dan puasa 3 hari sebelum hari ketentuan untuk keluar. Sesampainya hari ketentuan (mengerjakan shalat istisqa,) puasanya berjumlah 4 hari.

Kemudian hendaknya mereka keluar pada hari yang keempat dalam keadaan masih berpuasa dengan tidak memakai wangi-wangian dan juga tidak sama berhias diri, tetapi mereka keluar dalam keadaan memakai pakaian biasa yang dipakai di waktu bekerja.

Dan berjalan dengan Khusyu’, merasa hina dan hendaknya ikut keluar beserta mereka para anak kecil, para orang tua, para orang tua yang sudah lemah dan binatang piaraan.

Hendaknya imam atau gantinya, mengerjakan shalat dua rakaat beserta mereka, sebagaimana shalat dua Hari Raya di dalam hal cara-caranya dari membaca do’a iftitah, ta’auwwudz, takbir 7 kali dalam rakaat yang pertama dan takbir 5 kali di dalam rakaat yang kedua dengan mengangkat

dua tangannya.

Khuthbah Istisqa Bagi Imam

﯁(ثُمَّ يَخْطُبُ) نُدْباً خُطْبَتَيْنِ كَخُطْبَتَيْ الْعِيْدَيْنِ فِيْ الْأَرْكَانِ، وَغَيْرِهَا لَكِنْ يَسْتَغْفِرُ اللهَ تَعَالَى فِيْ الْخُطْبَتَيْنِ بَدَلَ التَّكْبِيْرِ أَوْلَهُمَا فِيْ خُطْبَتَيِ الْعِيْدَيْنِ، فَيَفْتَتِحُ الْخُطْبَةَ الْأُوْلَى بِالْاِسْتِغْفَارِ تِسْعاً وَالْخُطْبَةَ الثَّانِيَّةَ سَبْعاً. وَصِيْغَةُ الْاِسْتِغْفَارِ أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ الَّذِيْ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ

Kemudian imam sunnah melakukan dua khutbah seperti dua khuhbah Hari Raya dalam rukun-rukunnya, dan lain-lainnya. Tetapi di dalam dua khuthbah itu beristighfar (meminta ampun) kepada Allah swt. sebagai gantinya takbir pada permulaannya dua khuthbah dalam shalat dua Hari Raya.

Maka hendaknya khothib memulai khuthbah yang pertama dengan membaca istighfar 9 kali dan dalam khuthbah kedua 7 kali.

Adapun bentuk lafadlnya istighfar ialah:

أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ الَّذِيْ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ

Aku bermohon ampun kepada Allah yang Maha Agung, tiada Tuhan yang disembah kecuali Dia yang hidup dan yang berdiri. Aku bertaubat kepada-Nya.

Waktu Pelaksanaan Dua Khuthbah Istisqa

وَتَكُوْنُ الْخُطْبَتَانِ (بَعْدَهُمَا) أَيْ الرَكْعَتَيْنِ (وَيُحَوِّلُ) الْخَطِيْبُ (رِدَاءَهُ) فَيْجْعَلُ يَمِيْنَهُ يَسَارَهُ وَأَعْلَاهُ أَسْفَلَهُ، وَيُحَوِّلُ النَّاسُ أَرْدِيَتَهُمْ مِثْلَ تَحْوِيْلِ الْخَطِيْبِ (وَيُكْثِرُ مِنَ الدُّعَاءِ( سِراًّ وَجَهْراً، فَحَيْثُ أَسَرَّ الْخَطِيْبُ أَسَرَّ الْقَوْمُ بِالدُّعَاءِ، وَحَيْثُ جَهَرَ أَمَنُوْا عَلَى دُعَائِهِ (وَ) يُكْثِرُ الْخَطِيْبُ مِنَ (الْاِسْتِغْفَارِ) وَيَقْرَأُ قَوْلَهُ تَعَالىَ: {اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إنَّهُ كَانَ غَفّاراً يُرْسِل السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَاراً} (سورة نوح، الآيتان: ١٠ – ١١) وَفِيْ بَعْضِ نُسْخِ الْمَتْنِ زِيَادَةٌ، وَهِيَ (وَيَدْعُوْ بِدُعَاءِ رَسُوْلِ اللهِ

Dua khuthbah itu dilakukan sesudah selesai mengerjakan shalat dua rakaat. Hendaknya khathib memindahkan selindangnya dari arah kanannya ke arah kirinya dan dari atas selindang ke bagian bawahnya.

Demikian pula hendaknya makmum memindahkan selindang mereka sendiri, sebagaimana khathib memindahkan selindangnya.

Dan juga hendaknya memperbanyak di dalam mendo’a, baik dengan suara rendah atau keras, sekiranya khathib merendahkan suaranya maka para makmum pun merendahkan suara dalam mendo’a, dan sekiranya khathib mengeraskan suaranya, maka para makmum sama mengAmiini do’anya khathib tersebut.

Khathib supaya memperbanyak dalam membaca istighfar dan membaca firman Allah Ta’ala : “Hendaknya kamu sekalian memohon ampun kepada Tuhanmu. Sesungguhnya Dialah Maha Pengampun, maka akan Dia turunkan hujan dari langit dengan lebat (deras).

Tersebut di dalam sebagian keterangan Kitab Matan, terdapat tambahan yaitu berdo’alah kamu sekalian sebagaimana do’a Rasulullah shollallahu ‘alaihi was alam.

Doa Istisqa

اللَّهُمَّ اجْعَلْها سُقْيا رَحْمَةٍ وَلا تَجْعَلْها سُقْيا عَذَابٍ وَلا مَحقٍ وَلا بَلاءٍ، وَلا هَدْمٍ وَلا غَرَقٍ، اللَّهُمَّ عَلَى الظِّرَابِ وَالآكَامِ وَمَنَابِتِ الشّجَرِ وَبُطُونِ الأودِيَةِ، اللَّهُمَّ حَوَالَيْنا وَلاَ عَلَيْنَا، اللَّهُمَّ اسْقِنا غَيْثاً مغِيثاً هَنِيئاً مَرِيئاً مُرِيعاً سَحّاً عامّاً غَدَقاً طَبَقاً مُجَلَّلاً دَائِماً إِلَى يَوْمِ الدِّينِ، اللَّهُمَّ اسْقِنَا الْغَيْثَ وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ القَانِطِينَ، اللَّهُمَ إنَّ بِالعِبادِ وَالبِلاَدِ مِنَ الجهْدِ وَالْجوعِ وَالضَّنْكِ مَا لَا نَشْكُو إلاّ إلَيْكَ، اللَّهُمَّ أَنْبِتْ لَنَا الزّرْعَ وَأَدِرَّ لَنَا الضَّرْعَ وَأَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكاتِ السَّمَاءِ وَأنْبِتْ لَنَا مِنْ بَرَكَاتِ الأَرْضِ، وَاكْشِفْ عَنّا مِنَ البَلاءِ مَا لاَ يَكْشِفُهُ غَيْرُكَ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَغْفِرُكَ إنَّكَ كُنْتَ غَفَّاراً فَأَرْسِل السَّمَاءَ عَلَيْنَا مِدْرَاراً

Arti Doa Istisqa

Ya Allah. Jadikanlah hujan itu, hujan yang memberi rahmat. Jangan Engkau jadikan hujan siksa, bukan hujan yang menghilangkan bukan hujan yang mendatangkan bala”, bukan hujan yang menghancurkan dan bukan hujan yang menenggelamkan.

Ya Allah, Hendaknya Engkau turunkan hujan pada tempat-tempat yang tinggi dan yang rendah, tempat tumbuhnya pohon-pohonan dan bagian dalamnya jurang. Ya Allah. Engkau turunkan hujan di kanan kiri kita dan jangan Engkau turunkan hujan yang menyengsarakan kita. Ya, Allah, Engkau turunkan hujan yang memberikan pertolongan, enak, mudah, menuju aliran-aliran air yang tawar, mengalir, pangkat, yang besar dan yang abadi sam pai hari kiyamat. Ya Allah. Semoga Engkau mem berikan hujan (siraman) kepada kita semua dan jangan sampai kita ini termasuk daripada orang-orang yang memutuskan rahmat-Mu. Ya Allah. Sesungguhnya para penduduk, beberapa negeri berada dalam kepayahan, kelaparan dan

kesempitan. Keadaan ini bukanlah aku melaporkan kepada-Mu. Ya, Allah. Somoga Engkau tumbuhkan tanamanku, Engkau lebatkan susu, turunkan atas diriku beberapa berkah dari langit, tumbuhkan atas diriku beberapa berkah bumi dan hindarkanlah diriku dari bahaya sebab tiada

yang dapat menghilangkannya selain Engkau. Ya, Allah. Aku memohon ampun kepada-Mu, sesungguhnya Engkau itu adalah yang Maha Pengampun, maka turunkan atas diriku hujan yang lebat (bermanfaat).

Setelah Hujan Turun

وَيَغْتَسِلُ فِيْ الْوَادِي إذَا سَالَ وَيُسَبِّحُ للرَّعْدِ وَالبَرْقِ”) اِنْتَهَتِ الزِّيَادَةُ وَهِيَ لِطُوْلِهَا لَا تُنَاسِبُ حَالَ الْمَتْنِ مِنَ الْاِخْتِصَارِ والله أعلم

Ketika hujan turun, air sudah mulai mengalir maka hendaknya sama mandi di dalam jurang dan membaca tasbih sebab ada petir dan kilat. Selesailah sudah tambahan yang terdapat di dalam kitab Matan, karena panjangnya tambahan itu, menjadikan tidak sesuai keadaannya kitab Matan yang bentuknya ringkas. Hanya Allah yang Maha Mengetahui.

Shalat Istisqa Memohon Siraman Air Hujan Dari Allah.jpg
Shalat Istisqa Memohon Siraman Air Hujan Dari Allah.jpg

Demikian Uraian kami tentang: Shalat Istisqa : Memohon Siraman Air Hujan Dari Allah – Semoga bermanfaat dan memberikan tambahan ilmu pengetahuan untuk kita semua. Abaikan saja uraian kami ini jika pembaca tidak sependapat.Terima kasih atas kunjungannya. Wallahu A’lamu bish-showab.

]]>
Tata Cara Shalat Gerhana : Niat Dan Bacaanya https://www.fiqih.co.id/tata-cara-shalat-gerhana/ Sat, 03 Dec 2022 00:02:38 +0000 https://www.fiqih.co.id/?p=310 Tata Cara Shalat Gerhana : Niat Dan Bacaanya – Pada kesemptan kali ini Fiqih.co.id akan menerangkan tentang Tata Cara Shalat Gerhana. Shalat Gerhana Bulan adalah Sunnat Muakkad.

Tata Cara Shalat Gerhana : Niat Dan Bacaanya

Mengenai Hukum Shalat Gerhana Bualan dan Gerhana Matahari ini akan kami terangkan secara ringkas. Keterangan tentang Shalat Grhana kami mengutip dari satu pasal dalam fiqih bermadzhab Syafi’i.

Mukodimah

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ،  وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ الْكَرِيْمِ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ

Kaum Muslimiin, dan Para Santri, Rahimakumllah. Mari kita senantiasa bersyukur kepada Allah Subhanhu wa Ta’ala. Mudah-mudahan shalawat dan Salam tetap tercurah kepada jungjunan kita Nabi Agung Muhammad, SAW.

Pembaca yang dirahmati Allah, berbicara tentang Gerhana, maka mari kita pelajari hukumnya.

Dan kali ini kami akan menerangkan tentang hukum shalat gerhana. Untuk lebih jelasnya mari kita ikuti pasal berikut ini.

Tata Cara Sholat Gerhana Bulan

Berikut tata cara shalat sunah gerhana bulan yaitu :

  1. Niat di dalam hati ketika takbiratul ihram.
  2. Mengucap takbir ketika takbiratul ihram sambil niat di dalam hati.
  3. Baca taawudz dan Surat Al-Fatihah. Setelah itu baca Surat Al-Baqarah atau selama surat itu dibaca dengan jahar (lantang).
  4. Ruku’ dengan membaca tasbih selama membaca 100 ayat Surat Al-Baqarah.
  5. Itidal, bukan baca doa i’tidal, tetapi baca Surat Al-Fatihah. Setelah itu baca Surat Ali Imran atau selama surat itu.
  6. Rukuk dengan membaca tasbih selama membaca 80 ayat Surat Al-Baqarah.
  7. Baca doa i’tidal.
  8. Sujud dengan membaca tasbih selama rukuk pertama.
  9. Duduk di antara dua sujud
  10. Sujud kedua dengan membaca tasbih selama rukuk kedua.
  11. Duduk istirahat atau duduk sejenak sebelum bangkit untuk mengerjakan rakaat kedua.
  12. Bangkit dari duduk, lalu mengerjakan rakaat kedua dengan gerakan yang sama seperti rakaat pertama. Hanya saja bedanya, di rakaat kedua pada diri pertama dianjurkan membaca surat An-Nisa. Sedangkan pada diri kedua dianjurkan membaca Surat Al-Maidah.
  13. Salam.
  14. Imam atau orang yang diberi wewnang menyampaikan dua khutbah shalat gerhana dengan taushiyah agar jamaah beristighfar, semakin takwa kepada Allah, taubat, sedekah, memerdekakan budak (pembelaan terhadap kelompok masyarakat marjinal), dan lain sebagainya.

Niat dan Bacaan Shalat Gerhana Bulan

Apabila kita hendak melakukan sholat gerhana, sebelum shalat ada baiknya imam atau jamaah melafalkan niat terlebih dahulu sebagai berikut:

 أُصَلِّى سُنَّةَ خُسُوْفِ الْقَمَرِ رَكْعَتين (مَأْمُوْمًا / إِمَامًا) لِلَّهِ تَعَالَى اللهُ اَكْبَرْ

Ushalli sunnata khusufil-qomari rak‘ataini (imaman/makmuman) lillahi ta‘ala Allahu Akbar

Artinya, “Saya shalat sunah gerhana bulan dua rakaat sebagai imam/makmum karena Allah SWT. Allahu Akbar”

Bacaan setelah Takbirotul-Ihram Shalat Gerhana

  • Baca Iftitah
  • Baca fatihah seperti biasa.
  • Baca surat-suratan kalau bisa baca Surat Al-Baqarah, Kalau tidak hapal, maka surat apa saja yang hapal.
  • Ruku’ membaca Tasbih ruku’ seperti biasa.
  • I’tidal, tapi tidak baca doa I’tidal. Justru baca fatihah lagi, kemudian baca surat Ali Imran kalau hafal kalau tidak baca saj surat yang hafal.
  • Ruku’ lagi, baca Tasbih ruku’ seperti biasa.
  • Baca doa i’tidal.
  • Sujud dengan membaca tasbih selama ruku’ pertama. Duduk di antara dua sujud, kemudian duduk istirohah, kemudian Bangkit Rokaat kedua.
  • Selanjutnya lakukan seperti rakaat yang pertama, bacaan suratnya setelah fatihah kalau bisa, maka baca surat An-Nisa. Dan yang kedua baca Surat Al-maidah.
  • Lanjut samapia duduk terakhir, Kemudian Salam

Khutbah Gerhana

Setelah salam, maka Imam Menyampaikan Dua Khutbah Gerhana. Dua Khuthbah untuk shalat gerhana bulan itu sama sebagaimana khuth bah jum’at, baik dalam rukun-rukunnya dan syarat-syaratnya.

Tata Cara Sholat Gerhana Matahari

Pada dasarnya dalam pelaksanaan shalat gerhana matahari juga sama sebagainman dalam pelaksanaan shalat gerhana bulan. Adapun perbedaannya adalah sir dan jahar. Kalau dalam pelaksanaan shalat gerhana bulan bacaannya dijaharkan, sedangkan shalat Gerhana Matahari itu bacaannya disirkan.

Niat Shalat Gerhana Matahari:

 أُصَلِّى سُنَّةَ كُسُوْفِ الشَّمْسِ رَكْعَتين (مَأْمُوْمًا / إِمَامًا) لِلَّهِ تَعَالَى اللهُ اَكْبَرْ

Ushalli sunnata kusufis-syamsi rak‘ataini (imaman/makmuman) lillahi ta‘ala Allahu Akbar

Artinya, “Saya shalat sunah gerhana matahari dua rakaat sebagai (imam/makmum) karena Allah SWT. Allahu Akbar”

Adapun Materi Khutbah Gerhana Matahari mangga klik pada link ini : ⇒ Khutbah Gerhana Matahari : Memperkuat Iman Dan Taqwa 

Tata Cara Shalat Gerhana Niat Dan Niat Bacaanya
Tata Cara Shalat Gerhana Niat Dan Niat Bacaanya

Demikian Uraian kami tentang: Tata Cara Shalat Gerhana : Niat Dan Bacaanya – Semoga bermanfaat dan memberikan tambahan ilmu pengetahuan untuk kita semua. Abaikan saja uraian kami ini jika pembaca tidak sependapat.Terima kasih atas kunjungannya. Wallahu A’lamu bish-showab.

]]>
Shalat Gerhana : Hukum Shalat Gerhan Bulan Dan Matahari https://www.fiqih.co.id/shalat-gerhana/ Sat, 03 Dec 2022 00:02:38 +0000 https://www.fiqih.co.id/?p=305  

 

Shalat Gerhana : Hukum Shalat Gerhan Bulan Dan Matahari – Pada kesemptan kali ini Fiqih.co.id akan menerangkan tentang Shalat Gerhana. Shalat Gerhana Bulan dan Gerhana Matahari adalah Sunnat Muakkad.

Shalat Gerhana : Hukum Shalat Gerhan Bulan Dan Matahari

Mengenai Hukum Shalat Gerhana Bualan dan Gerhana Matahari ini akan kami terangkan secara ringkas. Keterangan tentang Shalat Grhana kami mengutip dari satu pasal dalam fiqih bermadzhab Syafi’i.

Mukodimah

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ،  وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ الْكَرِيْمِ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ

Kaum Muslimiin, dan Para Santri, Rahimakumllah. Mari kita senantiasa bersyukur kepada Allah Subhanhu wa Ta’ala. Mudah-mudahan shalawat dan Salam tetap tercurah kepada jungjunan kita Nabi Agung Muhammad, SAW.

Pembaca yang dirahmati Allah, berbicara tentang Gerhana, maka mari kita pelajari hukumnya.

Dan kali ini kami akan menerangkan tentang hukum shalat gerhana. Untuk lebih jelasnya mari kita ikuti pasal berikut ini.

Pasal Shalat Gerhana

فصل): وَصَلَاةُ الْكُسُوْفِ لِلشَّمْسِ وَصَلَاةُ الْخُسُوْفِ لِلْقَمَرِ كُلُّ مِنْهُمَا (سُنَّةٌ مٌؤَكَّدَةٌ فَإِنْ فَاتَتْ) هَذِهِ الصَّلَاةُ (لَمْ تُقْضَ) أَيْ لَمْ يُشْرَعْ قَضَاؤُهَا)

Pasal: Menerangkan tentang shalat gerhana matahari dan gerhana bulan. Masing-masing keduanya adalah sunnah yang ditekankan. Jika seseorang terlambat mengerjakannya, (yakni shalat Kusufisy-Syamsi dan Khusyufil-qomar) maka tidak perlu diulang kembali (qadhak).

Shalat Kusupisy-Syamsi Dan Khusyufil-Qomar

﯁(وَيُصَلِّي لِكُسُوْفِ الشَّمْسِ وَخُسُوْفِ الْقَمَرِ رَكْعَتَيْنِ) يَحْرُمُ بِنِيَّةِ صَلَاةِ الْكُسُوْفِ، ثُمَّ بَعْدَ الْاِفْتِتَاحِ وَالتَّعَوُّذِ يَقْرَأُ الْفَاتِحَةَ، وَيَرْكَعُ ثُمَّ يَرْفَعُ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوْعِ، ثُمَّ يَعْتَدِلُ ثُمَّ يَقْرَأُ الْفَاتِحَةَ ثَانِياً، ثُمَّ يَرْكَعُ ثَانِياً أَخَفَ مِنَ الَّذِيْ قَبْلَهُ، ثُمَّ يَعْتَدِلُ ثَانِياً ثُمَّ يَسْجُدُ السَّجْدَتَيْنِ بِطُمَأْنِيْنَةٍ فِيْ الْكُلِّ، ثُمَّ يُصَلِّي رَكْعَةً ثَانِيَةً بِقِيَامَيْنِ وَقِرَاءَتَيْنِ وَرُكُوْعَيْنِ، وَاعْتِدَالَيْنِ وَسُجُوْدَيْنِ وَهَذَا مَعْنَى قَوْلِهِ (فِيْ كُلَّ رَكْعَةٍ) مِنْهُمَا (قِيَامَانِ يُطِيْلُ الْقِرَاءَةَ فِيْهِمَا) كَمَا سَيَأْتِي

Shalat gerhana matahari dan bulan itu dilakukan dengan dua rakaat. Bertakbiratul ihram disertai niat shalat gerhana.

Kemudian membaca doa iftitah, membaca Ta’awwudz, membaca Fatihah terus ruku’  lalu mengangkat kepalanya dari ruku’, beri’tidal, membaca Fatihah yang kedua kali, lalu ruku’ dua kali.

Ruku’ yang kedua lebih ringan (cepat) dari pada yang pertama. Kemudian i’tidal dua kali, lalu sujud dua kali masing-masing disertai thuma’ninah.

Setelah itu, maka mengerjakan rakaat yang kedua dengan dua berdiri, membaca Fatihah dua kali, ruku’ dua kali, i’tidal dua kali dan sujud dua kali.

Dan ini adalah yang dikehendaki dengan makna perkataan mushannif, bahwa di dalam masing-masing rakaat terdiri dari dua kali berdiri yang panjang-panjang bacaannya, sebagaimana keterangan yang akan dating.

Satu Rakaat Dua kali Ruku’

﯁(وَ) فِيْ كُلِّ رَكْعَةٍ (رُكُوْعَانِ يُطِيْلُ التَّسْبِيْحَ فِيْهِمَا دُوْنَ السُّجُوْدِ) فَلَا يُطَوِّلُهُ، وَهَذَا أَحَدُ وَجْهَيْنِ، لَكِنْ الصَّحِيْحُ أَنَّهُ يُطَوِّلُهُ نَحْوَ الرُّكُوْعِ الَّذِيْ قَبْلَهُ

Dalam masing-masing rakaat itu terdiri pula dua kali ruku’ dengan memanjangkan bacaan tasbihnya yang tidak terjadi dalam sujud. Maka dalam sujud ini adalah perlu memanjangkan sujudnya. Ini adalah merupakan salah satu dari dua pendapat.

Tetapi menurut pendapat yang shaheh, sujud itu perlu dipanjangkan sebagaimana ruku’ yang dilakukan sebelum sujud.

Khuthbah Duanya

﯁(وَيَخْطُبُ) الْإِمَامُ (بَعْدَهُمَا) أَيْ بَعْدَ صَلَاةِ الْكُسُوْفِ وَالْخُسُوْفِ (خُطْبَتَيْنِ) كَخُطْبَتَيِ الْجُمْعَةِ فِي الْأَرْكَانِ وَالشُّرُوْطِ، وَيَحُثُّ النَّاسَ فِيْ الْخُطْبَتَيْنِ عَلَى التَّوْبَةِ مِنَ الذُّنُوْبِ، وَعَلَى فَعْلِ الْخَيْرِ مِنْ صَدَقَةٍ وَعِتْقٍ وَنَحْوِ ذَلِكَ

Dan hendaknya imam berkhuthbah untuk shalat gerhana mata hari dan bulan dengan dua khuthbah, sebagaimana khuth bah jum’at, baik dalam rukun-rukunnya dan syarat-syaratnya.

Khotib hendaknya menganjurkan kepada manusia di dalam khutbahnya, agar bertaubat dari segala dosa, dan supaya berbuat baik seperti memberi shadaqah, memerdekakan dan lain sebagainya.

Bacaan Sir Dan Jahar

﯁(وَيَسِرُّ) بِالْقِرَاءَةِ (فِيْ كُسُوْفِ الشَّمْسِ وَيَجْهَرُ) بِالْقِرَاءَةِ (فِي خُسُوِفِ الْقَمَرِ)﯁

Bagi imam hendaknya merendahkan suaranya di dalam shalat gerhana matahari dan mengeraskan suaranya dalam shalat gerhana bulan.

Batas Waktu Shalat

وَتَفُوْتُ صَلَاةُ كُسُوْفِ الشَّمْسِ بِالْاِنْجِلَاءِ لِلْمُنْكَسِفِ وَبِغُرُوْبِهَا كَاسِفَةٌ، وَتَفُوْتُ صَلَاةُ خُسُوْفِ الْقَمَرِ بِالْاِنْجِلَاءِ وَطُلُوْعِ الشَّمْسِ لَا بِطُلُوْعِ الْفَجْرِ وَلَا بِغُرُوْبِهِ خَاسِفاً فَلَا تَفُوْتُ الصَّلَاةُ

Shalat Kusupisy-Syamsi dapat menjadi tertinggal sebab gerhananya pulih (kembali asal) dan sebab terbenamnya matahari, sedangkan gerhananya masih berlangsung. Dan menjadi tertinggal shalat Khusyupil-Qomar disebabkan juga karena gerhananya pulih kembali, tetapi tidak tertinggal shalat tersebut disebabkan terbitnya fajar. Dan demikian pula tidak tertinggal shalatnya sebab terbenamnya bulan sedangkan gerhana itu masih berlangsung.

Kemudian untuk tata caranya shalat tersebut maka klik saja di link berikut ini : ⇒ Tata Cara Shalat Gerhana : Niat Dan Niat Bacaanya

"<yoastmark

Demikian Uraian kami tentang: Shalat Gerhana : Hukum Shalat Gerhan Bulan Dan Matahari – Semoga bermanfaat dan memberikan tambahan ilmu pengetahuan untuk kita semua. Abaikan saja uraian kami ini jika pembaca tidak sependapat.Terima kasih atas kunjungannya. Wallahu A’lamu bish-showab.

]]>
Haiat Jum’at, Hukum Shalat Sunnah Saat Imam Berkhutbah https://www.fiqih.co.id/haiat-jumat/ Fri, 02 Dec 2022 00:02:26 +0000 https://www.fiqih.co.id/?p=288 Haiat Jum’at, Hukum Shalat Sunnah Saat Imam Berkhutbah  – Pada kesemptan kali ini Fiqih.co.id masih menerangkan tentang Jum’at. Namun Pada Artikel berikut ini adalah tentang Haiatnya. Dalam Pembahasan tentang Sunnah haiat Jum’at ini kami akan sampaikan juga dari kitab fathul qorib, Fiqih Madzhab Syafi’i.

Haiat Jum’at, Hukum Shalat Sunnah Saat Imam Berkhutbah

Untuk Mengerjakan Shalat Jum’at, selain dari fardhunya juga ada sunnah haiatnya. Uaraian ini adalah lanjutan dari pembahasan sebelumnya tentang Shalat Jum’at.

Mukodimah

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ،  وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ الْكَرِيْمِ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ

Para Pembaca, Kaum Muslimiin, dan Para Santri, Rahimakumllah. Dalam pembahasan ini kami sampaikan tentang Sunnah Haiat Jum’at. Dan dalam uraiannya tetap kami sesuaikan dengan aslinya dari Fathul qorib, salahsatu fiqih Madzhab Sayfi’i.

Dan apabila pembaca merasa kurang nyaman dengan uraian kami ini, maka abaikan saja. Kemudian untuk lebih jelsanya mari kita baca bersama Penjelasannya berikut ini:

Sunnah Haiat Jum’at

﯁(وَهَيْئَاتُهَا) وَسَبَقَ مَعْنَى الْهَيْئَةِ (أَرْبَعُ خِصَالٍ) أَحَدُهَا (الْغُسْلُ) لِمَنْ يُرِيْدُ حُضُوْرَهَا مِنْ ذَكَرِ أَوْ أُنْثَى حُرٍّ أَوْ عَبْدٍ مُقِيْمٍ أَوْ مُسَافِرٍ، وَوَقْتُ غُسْلِهَا مِنَ الْفَجْرِ الثَّانِيْ وَتَقْرِيْبِهِ مِنْ ذِهَابِهِ أَفْضَلُ، فَإِنْ عَجَزَ عَنْ غُسْلِهَا تَيَمَّمَ بِنِيَّةِ الْغُسْلِ لَهَا (وَ) الثَّانِي (تَنْظِيْفُ الْجَسَدِ) بِإِزَالَةِ الرَّيْحِ الْكَرِيْهِ مِنْهُ كَصَنَانٍ فَيَتَعَاطَى مَا يُزِيْلُهُ مِنْ مِرْتَكٍ وَنَحْوِهِ (وَ) الثَّالِثُ (لُبْسُ الثِّيَابِ الْبِيْضِ) فَإِنَّهَا أَفْضَلُ الثِّيَابِ (وَ) الرَّابِعُ (أَخْذُ الظَّفْرِ) إِنْ طَالَ وَالشَّعْرِ كَذَلِكَ فَيَنْتِفُ إِبْطَهُ، وَيَقُصُّ شَارِبَهُ، وَيَحْلُقُ عَانَتَهُ (وَالتَّطَيُّبُ) بِأَحْسَنِ مَا وُجِدَ مِنْهُ (وَيُسْتَحَبُّ الْإِنْصَاتُ) وَهُوَ السُّكُوْتُ مَعَ الْإِصْغَاءِ (فِي وَقْتِ الْخُطْبَةِ) وَيُسْتَثْنَى مِنَ الْإِنْصَاتِ أُمُوْرٌ مَذْكُوْرَةٌ فِيْ الْمُطَوَلَاتِ مِنْهَا إِنْذَارُ أَعْمَى أَنْ يَقَعَ فِيْ بِئْرٍ، وَمَنْ دَبَّ إِلَيْهِ عَقْرَبٌ مَثَلاً

Adapun beberapa sunnah haiatnya jum’at (sudah diterangkan di muka mengenai makna haiat itu ada 4 perkara, yaitu :

Pertama : Sunnah mandi bagi orang yang hendak mendatangi shalat jum’at. Sunah tersebut baik dari orang laki-laki, perempuan merdeka atau budak yang mukim atau juga orang yang bepergian. Sedangkan waktunya mandi itu mulai dari fajar kedua.

Dan yang paling dekat mandi jum’at itu adalah di waktu orang akan pergi menunaikan shalat jum’at. Itulah yang lebih baik. Seandainya orang tersebut tidak mampu untuk mandi, maka bertayammumlah dengan niat mandi karena hendak berjum’atan.

Kedua: Membersihkan tubuhnya dengan jalan menghilangkan bau yang dibenci orang seperti bau yang tidak enak. Maka hendaknya memberi sesuatu yang dapat menghilangkan bau tersebut.

Ketiga : Memakai pakaian putih-putih, karena pakai putih-putih itu sebaik-baiknya pakaian.

Keempat : Memotong kuku dan rambut yang sudah panjang. Demikian juga hendaknya mencabut rambut ketiaknya, menggunting kumisnya dan menyukur rambut yang ada di sekililingalat kelamin.

Memakai Wewangian

Dan sunnah pula memakai wangi-wangian yang sebaik-baiknya (maksudnya wangi-wangian yang paling harum baunya).

Disunnahkan juga memalingkan kepalanya, yakni yang dimaksudkan ialah diam seraya mendengarkan khuthbah di waktu khothib berkhuthbah.

Hal itu terkecuali adanya perkara-perkara sebagaimana yang sudah disebutkan di dalam kitab yang panjang lebar keterangannya. Antara lain seperti menakut-nakuti orang buta yang akan jatuh ke dalam sumur, dan adanya kalajengking yang akan merambat padanya.

﯁(وَمَنْ دَخَلَ) الْمَسْجِدَ (وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ خَفِيْفَتَيْنِ ثُمَّ يَجْلِسُ) وَتَعْبِيْرُ الْمُصَنِفُ بِدَخَلَ يُفْهِمُ أَنَّ الْحَاضِرَ لَا يُنْشِىءُ صَلَاةَ رَكْعَتَيْنِ، سَوَاءٌ صَلَّى سُنَّةَ الْجُمْعَة أَوْ لَا وَلَا يَظْهَرُ مِنْ هَذَا الْمَفْهُوْمِ أَنَّ فِعْلَهُمَا حَرَامٌ أَوْ مَكْرُوْهٌ، لَكِنَّ النَّوَوِيَّ فِيْ شَرْحِ الْمُهَذَبِ صَرَحَ بِالْحُرْمَةِ، وَنَقَلَ الْإِجْمَاعَ عَلَيْهَا عَنِ الْمَاوَرْدِيْ

Barang siapa masuk masjid dan imam sedang berkhuthbah, maka hendaknya cepat-cepat mengerjakan shalat sunnah dua rakaat kemudian duduk.

Mushannif membuat ibarat dengan kata “masuk” adalah memberikan pemahaman, bahwa orang yang baru datang (khothib sedang berkhuthbah). Hal itu tidak boleh mengerjakan shalat dua rakaat baik itu shalat sunnah jum’at atau tidak.

Dan dari pemahaman ini tidak jelas adanya hukum, bahwa mengerjakan shalat tersebut. adalah haram hukumnya atau makruh.

Tetapi Imam Nawawi menerangkan di dalam syarah kitab Muhadz-dzab dengan menetapkan hukum haram. Dan telah dinukil hasil kesepakatan para Ulama mengenai keharamannya dari Imam Mawardi.

Hukum Shalat Shalat Suunnah Saat Khatib Berkhutbah

Kita masuk Masjid pada hari jum’at, sedangkan Khutbah sudah dimulai, maka kita diperkenankan menunaikan Shalat sunnah dua rakaat yang ringan.

Akan tetapi Jika membaca uraian Imam Nawawi justru tidak boleh Shalat Sunnah.

Haiat Jum’at, Hukum Shalat Sunnah Saat Imam Berkhutbah
Haiat Jum’at, Hukum Shalat Sunnah Saat Imam Berkhutbah

Demikian Uraian kami tentang: Haiat Jum’at, Hukum Shalat Sunnah Saat Imam Berkhutbah -. Semoga bermanfaat dan memberikan tambahan ilmu pengetahuan untuk kita semua. Abaikan saja uraia kami ini jika pembaca tidak sependapat.Terima kasih atas kunjungannya. Wallahu A’lamu bish-showab.

]]>
Jum’at : (Syarat Wajibnya Dan Syarat Shahnya Jum’atan) https://www.fiqih.co.id/jumat/ Fri, 02 Dec 2022 00:02:26 +0000 https://www.fiqih.co.id/?p=283 Jum’at : (Syarat Wajibnya Dan Syarat Shahnya Jum’atan) – Pada kesemptan kali ini Fiqih.co.id akan menerangkan tentang Jum’at. Yakni Syarat-syarat Wajibnya Jum’at. Demikian juga Syarat Shahnya Jum’at. Pembahasan tentang hal tersebut kami akan sampaikan juga dari kitab fathul qorib, Fiqih Madzhab Syafi’i.

Jum’at : (Syarat Wajibnya Dan Syarat Shahnya Jum’atan)

Jum’at, atau Shalat Jum’at itu adalah hukumnya Fardhu ‘ain bagi yang telah memenuhi tujuh perkara. Tujuh Perkara tersebut adalah merupakan syarat-syarat wajibnya jum’at.

Mukodimah

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ،  وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ الْكَرِيْمِ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ

Para Pembaca, Kaum Muslimiin, dan Para Santri, Rahimakumllah. Dalam pembahasan ini kami sampaikan tentang Shalat Jum’at sebagaimana Tema di atas. Dan dalam uraiannya tetap kami sesuaikan dengan aslinya dari Fathul qorib, salahsatu fiqih Madzhab Sayfi’i.

Oleh karena itu apabila pembaca ada yang kurang nyaman dengan uraian ini, maka abaikan saja. Dan untuk lebih jelsanya mari kita baca bersama uraian berikut ini:

Syarat Wajibnya Jum’at

Sebagaiman diterangkan dalam satu pasal sebagai berikut:

﯁(فَصْلٌ): وَشَرَائِطُ وُجُوْبِ الْجُمْعَةِ سَبْعَةُ أَشْيَاءَ الْإِسْلَامُ وَالْبُلُوْغُ وِالْعَقْلُ. وَهَذِهِ شُرُوْطُ أَيْضاً لِغَيْرِ الْجُمْعَةِ مِنَ الصَّلَوَاتِ (وَالْحُرِّيَةُ وَالذُّكُوْرِيَّةُ وَالصِّحَةُ وَالْاِسْتِيْطَانُ).﯁

Pasal : Menerangkan tentang syarat-syarat wajibnya jum’at itu ada 7 perkara, yaitu :

  1. Islam
  2. Sudah dewasa (baligh)
  3. Berakal sehat. Ketiga syarat ini juga berlaku bagi shalat-shalat selain dari pada shalat jum ‘at.
  4. Merdeka
  5. Laki-laki
  6. Sehat badan
  7. Menetap.

Yang Tidak Wajib Jum’at

Sebagaimana tertulis dalam Fathul-qorib:

فَلَا تَجِبُ الْجُمْعَةُ عَلَى كَافِرٍ أَصْلِيٍّ وَصَبِيٍّ وَمَجْنُوْنٍ، وَرَقِيْقٍ وَأُنْثَى وَمَرِيْضٍ وَنَحْوِهِ وَمُسَافِرٍ

Tidak wajib jum’atan bagi:

  1. Orang kafir yang asli.
  2. Anak kecil (belum dewasa).
  3. Orang gila.
  4. Budak.
  5. Orang perempuan.
  6. Orang yang sakit, dan yang serupa.
  7. Orang yang bepergian.

Syarat Shahnya Jum’at

Tertulis dalam Fathul-qorib sebagai berikut:

﯁(وَشَرَائِطُ) صَحَةِ (فِعْلِهَا ثَلَاثَةٌ) الْأَوَّلُ دَارَ اْإِاقَامَةِ الَّتِيْ يَسْتَوْطِنُهَا الْعَدَدُ الْمَجْمُعُوْنَ سَوَاءٌ فِيْ ذَلِكَ الْمَدَنُ وَالْقُرَى الَّتِيْ تَتَخِذُ وَطَناً، وَعَبَرَ الْمُصَنِّفُ عَنْ ذَلِكَ بِقَوْلِهِ (أَنْ تَكُوْنَ الْبَلَدُ مِصْراً) كَانَتِ الْبَلَدُ (أَوْ قَرْيَةً وَ) الثَّانِيْ (أَنْ يَكُوْنَ الْعَدَدُ) فِيْ جَمَاعَةِ الْجُمْعَةِ (أَرْبَعِيْنَ) رَجُلاً (مِنَ أَهْلِ الْجُمْعَةِ) وَهُمْ الْمُكَلَّفُوْنَ الذُّكُوْرُ الْأَحْرَارُ الْمُسْتَوْطِنُوْنَ بِحَيْثُ لَا يَظْعُنُوْنَ عَمَا اِسْتَوْطِنُوْهُ شِتَاءً، وَلَا صَيْفاً إِلَّا لِحَاجَةٍ. (وَ) الثَّالِثُ (أَنْ يَكُوْنَ الْوَقْتُ بَاقِياً) وَهُوَ وَقْتُ الظُّهْرِ فَيُشْتَرَطُ أَنْ تَقَعَ الْجُمْعَةُ كُلُّهَا فِيْ الْوَقْتِ، فَلَوْ ضَاقَ وَقْتُ الظُّهْرِ عَنْهَا بِأَنْ لَّمْ يَبْقَ مِنْهُ مَا يَسَعُ الَّذِيْ لَا بُدَ مِنْهُ فِيْهَا مِنْ خُطْبَتَيْـهَا وَرَكْعَتَيْـهَا صُلِيَتْ ظَهْراً

Syaratsyarat shahnya mengerjakan Jum’atan itu ada 3 (tiga) yaitu:

Pertama : Adanya tempat yang tertentu, di mana orang-orang yang berjum’atan itu menetap (di tempat tinggalnya sendiri). Baik tempat tersebut terletak di kota-kota atau desa yang menjadi tempat tinggal. Mushannif telah menggambarkan “tempat yang tertentu” itu melalui perkataannya:

Bahwa tempat tersebut hendaknya berupa kota atau desa.

Kedua : Orang-orang yang berjama’ah jum’at itu harus berjumlah 40 orang laki-laki yang sudah biasa jum’atan (ahli jum’atan). Yang dimaksud Ahli Jum’at yaitu orang-orang yang sudah mukallaf, harus laki-laki, merdeka yang sudah meinetap.

Sekiranya pada musim hujan dan kemarau mereka tidak berpindah dari tempat tinggalnya kecuali bila ada maksud tertentu.

Ketiga : Waktunya itu harus ada di waktu Dzuhur. Oleh karena itu maka disyaratkan, bahwa seluruh jum’at itu harus jatuh di dalam waktu Dzuhur tersebut.

Seandainya waktu Dzuhur sudah sempit untuk dipergunakan berjum’atan, yaitu sekiranya tidak dapat dipergunakan untuk melakukan dua khuthbah dan mengerjakan dua rakaat shalat jum’at maka hendaknya melakukan shalat Dzuhur saja.

Shalat Jum’at Bila Waktu Dzuhur Telah habis

﯁(فَإِنْ خَرَجَ الْوَقْتُ أَوْ عَدَمَتْ الشُّرُوْطُ) أَيْ جَمِيْعُ وَقْتِ الظُّهْرِ يَقِيْناً أَوْ ظَناً وَهُمْ فِيْهَا (صُلِّيَتْ ظُهْراً) بِنَاءً عَلَى مَا فُعِلَ مِنْهَا، وَفَاتَتِ الْجُمْعَةُ سَوَاءٌ أَدْرَكُوْا مِنْهَا رَكْعَةً أَمْ لَا، وَلَوْ شَكُّوْا فِيْ خُرُوْجِ وَقْتِهَا وَهُمْ فِيْهَا أَتِمُّوْهَا جُمْعَةً عَلَى الصَّحِيْحِ

Jika seluruh waktu Dzuhur itu telah habis secara yakin atau berdasar dugaan, sedang para ahli jum’at (jama’ah jum’at) sudah berada di dalamnya, atau karena tidak adanya beberapa syarat (sebagaimana tersebut di atas tadi) maka hendaknya shalat Dzuhur saja.

Hal ini semata-mata karena menegakkan atas sesuatu yang telah diperbuat dari jum’atan itu sendiri. Dan menjadi fot (bersetatus sebagai orang yang tertinggal) jum’atannya, baik mereka itu sudah menemukan satu rakaatnya shalat jum’at atau tidak. Jika para jama’ah jum’at (ahli jum’at) sama ragu-ragu dalam hal habisnya waktu jum’at, sedang mereka berada di dalam jum’atan maka hendaknya menyempurnakan jum’atannya. Demikian menurut pendapat yang shaheh.

Fardhunya Jum’at

﯁(وَفَرَائِضُهَا) وَمِنْهُمْ مَنْ عَبَّرَ عَنْهَا بِالشُّرُوْطِ (ثَلَاثَةٌ) أَحَدُهَا وَثَانِيْهَا (خُطْبَتَانِ يَقُوْمُ) الْخَطِيْبُ (فِيْهِمَا وَيَجْلِسُ بَيْنَهُمَا) قَالَ الْمُتَوَّلِيُّ بِقَدْرِ الطُّمَأْنِيْنَةُ بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ، وَلَوْ عَجَزَ عَنِ الْقِيَامِ وَخَطَبَ قَاعِداً أَوْ مُضْطَجِعاً، صَحَ وَجَازَ الْاِقْتَدَاءُ بِهِ، وَلَوْ مَعَ الْجَهْلِ بِحَالِهِ وَحَيْثُ خَطَبَ قَاعِداً فَصَلَ بَيْنَ الْخُطْبَتَيْنِ بِسَكْتَةٍ لَا بِاِضْطِجَاعٍ

Adapun fardhunya jum’at itu ada tiga. Sebagian Ulama menggambar bahwa fardhunya jum’at itu samadengan syarat-syarat jum’at.

Pertama  : Yaitu harus ada dua khuthbah yang dilakukan dengan berdiri.

Kedua : Duduk di antara dua khutbah. Imam Mutawally berpendapat, bahwa duduk di antara dua khutbah itu lamanya sebagaimana lamanya Thuma’ninah dalam duduk di antara dua sujud.

Seandainya orang yang berkhuthbah itu tidak mampu berdiri dan ia melakukan khuthbah dengan duduk atau tiduran berbaring, maka hukumnya shah dan boleh mengikuti khothib, meskipun tidak mengetahui keadaannya khothib.

Sekiranya khothib (yang berkhuthbah) itu berkhuthbah dengan duduk, maka hendaknya memisahkan antara dua khothbah dengan berdiam diri, tidak dengan tiduran berbaring.

Rukun Khuthbah

وَأَرْكَانُ الْخُطْبَتَيْنِ خَمْسَةٌ: حَمْدُ اللهِ تَعَالَى، ثُمَّ الصَّلَاةُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَلَفْظُهُمَا مُتَعِيِّنٌ، ثُمَّ الْوَصِيَّةُ بِالتَّقْوَى وَلَا يُتَعَيَّنُ لَفْظُهَا عَلَى الصَّحِيْحِ، وَقِرَاءَةُ آيَةٍ فِيْ إِحْدَاهُمَا، وَالدُّعَاءُ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فِيْ الْخُطْبَةِ الثَّانِيَّةِ، وَيُشْتَرَطُ أَنْ يَسْمَعَ الْخَطِيْبُ أَرْكَانَ الْخُطْبَةِ لِأَرْبَعِيْنَ تَنْعَقِدُ بِهِمُ الْجُمْعَةُ، وَيُشْتَرَطُ الْمُوَّالَاةُ بَيْنَ كَلِمَاتِ الْخُطْبَةِ وَبَيْنَ الْخُطْبَتَيْنِ، فَلَوْ فَرَقَ بَيْنَ كَلِمَاتِهَا، وَلَوْ بِعُذْرٍ بَطَلَتْ، وَيُشْتَرَطُ فِيْهَا سَتْرُ الْعَوْرَةِ وَطَهَارَةُ الْحَدَثِ وَالْخُبُثِ فِيْ ثَوْبٍ وَبَدَنٍ وَمَكَانٍ

Adapun rukun-rukunnya khuthbah itu ada 5 (lima) yaitu :

  1. Membaca Al-hamdulillah.
  2. Membaca shalawat Nabi. Baik membaca Al-hamdulillah dan shalawat Nabi keduanya lafadznya sudah ditentukan.
  3. Berwasiyat dengan taqwa kepada Allah. Menurut pendapat yang shaheh, lafadz taqwa kepada Allah ini tidak ditentukan.
  4. Membaca ayat. Al-Gur’an di dalam salah satu dua khuthbah.
  5. Membaca doa yang ditujukan kepada segenap orang mukmin laki-laki dan perempuan yang dibaca dalam khuthbah kedua. Dan disyaratkan bagi khathib agar mengeraskan suaranya dalam menyampaikan rukun-rukunnya khuthbah kepada 40 orang yang menjadikan shahnya jum ‘atan.

Demikian pula disyaratkan agar sambung menyambung di dalam membaca antara kalimah-kalimah khuthbah dan juga sambung-menyambung antara dua khuthbah.

Seandainya khothib itu berpisah dalam membaca di antara kalimah-kalimah  khuthbahnya, meskipun disebabkan karena ada ‘udzur, maka bathallah khuthbahnya. Juga disyaratkan bagi khothib agar menutupi auratnya, pakaian dan badan serta tempatnya harus suci dari hadats dan najis (kotoran).

Ketiga :

وَ) الثَّالِثُ مِنْ فَرَائِضِ الْجُمْعَةِ (أَنْ تُصَلِّىَ) بِضَمِّ أَوَّلِهِ (رَكْعَتَيْنِ فِيْ جَمَاعَةٍ) تَنْعَقِدُ بِهِمُ الْجُمْعَةُ، وَيُشْتَرَطُ وُقُوْعُ هَذِهِ الصَّلَاةُ بَعْدَ الْخُطْبَتَيْنِ بِخِلَافِ صَلَاةِ الْعِيْدِ، فَإِنَّهَا قَبْلَ الْخُطْبَتَيْنِ)

Shalat jum’at itu harus dikerjakan dua rakaat dalam suatu jama’ah yang menjadikan shahnya suatu Jum’atan. Dan disyaratkan agar shalat jum’at itu dilakukan sesudah selesai menunaikan dua khuthbah. Berbeda dengan shalat dua hari raya, maka shalat ini dikerjakan sebelum menunaikan dua khuthbah.

Jum’at (Syarat Wajibnya Dan Syarat Shahnya Jum’atan).jpg
Jum’at (Syarat Wajibnya Dan Syarat Shahnya Jum’atan).jpg

Selanjutnya Sunnahnya Jum’at, Shalat Sunnah Saat Imam Berkhutbah, dan kami sarankan antum untuk memaca pada link ini: ⇒ Haiat Jum’at, Hukum Shalat Sunnah Saat Imam Berkhutbah

Demikian Uraian kami tentang: Jum’at : (Syarat Wajibnya Dan Syarat Shahnya Jum’atan) – Semoga bermanfaat dan memberikan tambahan ilmu pengetahuan untuk kita semua. Abaikan saja uraia kami ini jika pembaca tidak sependapat.Terima kasih atas kunjungannya. Wallahu A’lamu bish-showab.

]]>
Shalat Jamak Qashar : (Mengumpulkan Pada Satu Waktu Dan Meringkas) https://www.fiqih.co.id/shalat-jamak-qashar/ Thu, 01 Dec 2022 04:02:20 +0000 https://www.fiqih.co.id/?p=275 Shalat Jamak Qashar : (Mengumpulkan Pada Satu Waktu Dan Meringkas) – Pada kesemptan kali ini Fiqih.co.id akan menerangkan tata cara Shalat jamak sekaligus mengqasharnya. Pembahasan ini sebagai lanjutan dari pembahasan sebelumnya mengeanai Shalat Qashar dan Jamak.

Shalat Jamak Qashar : (Mengumpulkan Pada Satu Waktu Dan Meringkas)

Shalat Jamak artinya adalah dua shalat yang dikumpulkan dalam satu waktu. Sedang Shalat Qashar itu adalah Shalat yang diringkas dari empat menjadi dua.

Mukodimah

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ،  وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ الْكَرِيْمِ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ

Para Pembaca, Kaum Muslimiin muslimat, dan Para Santri, Rahimakumllah. Dalam pembahasan ini kami sampaikan tentang Jamak Shalat dan Qashar Shalat. Dan dalam pembahasannya tetap kami sesuaikan dengan aslinya dari Fathul qorib fiqih Madzhab Sayfi’i.

Oleh karena itu jika pembaca ada yang tidak sependapat dengan uraian ini, maka kami mohon ma’af. Dan untuk lebih jelsanya mari kita baca bersama uraian berikut ini:

Maksud Shalat Jamak

Dalam pembahasan yang lalu sudah cukup jelas mengenai shalat jamak. Adapun maksud Shalat jamak ituu jelas adalah mengumpulkan dua waktu shalat dalam satu waktu.

Mengumpulkan shalat itu adakalanya didahulukan, ada pula diakhirkan.

Maksud Jamak Taqdim

Adapun Maksud Jamak Taqdim itu artinya adalah mengumpulkan dua waktu didahulukan. Shalat Asar dikerjakan di waktu dzuhur itu namanya Jamak Taqdim. Demikian juga jika mengerjakan shalat ‘isya di waktu magrib.

Maksud Jamak Ta’khir

Adapun yang dimaksudkan dengan jamak ta’khir adalah mengumpulkan dua waktu diakhirkan. Shalat dzuhur dikerjakan pada waktu asar itu namanya jamak ta’khir. Demikian juga jika mengerjakan shalat magrib di waktu ‘isya.

Maksud Qashar

Sebagaimana yang sudah kami jelaskan pada pembahasan yang lalu bahwa qashar adalah meringkas. Jadi asalnya empat rakaat diringkas menjadi dua rakaat. Adapun yang bisa shalat yang bisa diringkas iotu hanya shalat Dzuhur, ‘Ashar dan ‘Isya.

Maksud Jamak Qashar

Adapun yang dimaksud dengan Jamak Qashar itu adalah Mengumpulkan dua waktu sekaligus meringkas.

Menunaikan Shalat ‘Ashar hanya dua rakaat dan dikerjakan di waktu dzuhur itu namanya Qashar Jamak Taqdim.

Jika menunaikan shalat dzuhur dua rakaat dikerjakan pada waktu ‘asar setalah shalat ‘ashar, itu namanya Qashar Jamak Ta’khir.

Jamak Ta’khir ada perbedaan pendapat; Ada yang berpendapat harus tertib, ada juga yang berpendapat tidfak harus tertib. Tidak ada perbedaan dalam jamak taqdim.

Mengenai Jamak Ta’khir kami lebih memilih pada keterangan yang ada dalam Fathul-qorib.

Syarat Jamak dan Syarat Qashar

Sebagaimana yang sudah kami bahas sebelumnya, maka pada artikel yang ini kami tidak membahasnya. Jika antum ingin jelas syarat bolehnya jamak maka baca pada link ini. Shalat Jamak : (Mengumpulkan Dua Shalat Dalam Satu Waktu).  Dan bila antum ingin mengetahui secara jelas syarat bolehnya qashar maka antum klik saja pada link yang ini. Shalat Qashar : (Meringkas Yang Empat Rakaat Menjadi Dua Rakaat).

Niat Shalat Jamak Qashar

Niat itu tempatnya di hati tapi mengucapkan  niat itu hukumnya sunnah menurut dalam madzhab Syafi’i. Memposisikan niat itu bebbarengan dengan Takbirotul-Ihram. Untuk dapat menghadirkan niat di hati saat takbirotul-ihrom, maka ucapkanlah niat sebelum takbirotul-ihrom.

Mengucapkan niat sebelum takbirotul-ihrom sebaiknya dengan bahasa arab, tapi jika tidak mampu maka boleh dengan bahasa daerah.

Mengucapkan  niat sebelum Takbirotul-Ihrom bagi selain madzhab Syafi’i hukumnya: “Boleh”.

Pelaksanaan Qashar Jamak Taqdim

Jika kita di perjalanan atau dalam perantauan yang telah memenuhi syaratnya maka kita akan menunaikannya. Adapun Pelaksanaannya adalah mengqashar shalat dzuhur dulu kemudian setelah salam iqomah lagi untu Ashar.

Niat Shalat Qashar Dzuhur menjamak ‘Ashar.

أُصَلِّي فَرْضَ الظُّهْرِ رَكْعَتَيْنِ قَصْرًا مَجْمُوْعًا إِلَيْهِ الْعَصْرُ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ (مَأْمُوْمًا / إِمَامًا)  لِلّٰهِ تَعَالى اللهُ أَكْبَرُ

Ushali Fardhodzuhri Rok’ataini Majmu’an Ilaihil-‘Ashru Mustaqbilal qiblati (Makmuman / Imaman) Lillha Ta’ala Allahu Akbar.

Artinya: Saya niat Shalat Dzuhur dua Rakaat secara ringkas digabungkan ‘Asharnya ke Dzuhur Menghadap Qiblat. (Jadi Imam / Jadi Makmum). Lillha Ta’ala Allahu Akbar.

Setalah Salam jangan jangan ada jeda yang lama, langsung iqomat lagi untuk menuanaikan ‘Ashar.

Niat Shalat Qashar ‘Ashar Jamak taqdim ke Dzhur.

أُصَلِّي فَرْضَ الْعَصْرِ رَكْعَتَيْنِ قَصْرًا مَجْمُوْعًا إِلَى الظُّهْرِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ (مَأْمُوْمًا / إِمَامًا)  لِلّٰهِ تَعَالى اللهُ أَكْبَرُ

Ushali Fardhol-‘Ashri Rok’ataini Majmu’an Iladz-Dzuhri Mustaqbilal qiblati (Makmuman / Imaman) Lillha Ta’ala Allahu Akbar.

Artinya: Saya niat Shalat ‘Ashar dua Rakaat secara ringkas digabungkan ke Dzuhur Menghadap Qiblat. (Jadi Imam / Jadi Makmum). Lillha Ta’ala Allahu Akbar.

Niat Shalat Magrib Jamak taqdim ke ‘Isya.

أُصَلِّي فَرْضَ الْمَغْرِبِ ثَلَاثَ رَكَعَاتٍ مَجْمُوْعًا إِلَيْهِ الْعِشَاءُ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ (مَأْمُوْمًا / إِمَامًا)  لِلّٰهِ تَعَالى اللهُ أَكْبَرُ

Ushali Fardhol-maghribi Tsalatsa Roka’atin Majmu’an Ilaihi-‘Isya-u Mustaqbilal qiblati (Makmuman / Imaman) Lillha Ta’ala Allahu Akbar.

Artinya: Saya niat Shalat magrib tiga Rakaat digabungkan ‘Isyanya ke Maghrib Menghadap Qiblat. (Jadi Imam / Jadi Makmum). Lillha Ta’ala Allahu Akbar.

Niat Shalat Qashar ‘Isya Jamak taqdim ke Maghrib.

أُصَلِّي فَرْضَ الْعِشَاءِ رَكْعَتَيْنِ قَصْرًا مَجْمُوْعًا إِلَى الْمَغْرِبِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ (مَأْمُوْمًا / إِمَامًا)  لِلّٰهِ تَعَالى اللهُ أَكْبَرُ

Ushali Fardhol-‘Isya-i Rok’ataini Majmu’an Ilal-Maghribi Mustaqbilal qiblati (Makmuman / Imaman) Lillha Ta’ala Allahu Akbar.

Artinya: Saya niat Shalat ‘Isya dua Rakaat secara ringkas digabungkan ke Maghrib Menghadap Qiblat. (Jadi Imam / Jadi Makmum). Lillha Ta’ala Allahu Akbar.

Shalat Jamak Qashar (Mengumpulkan Pada Satu Waktu Dan Meringkas).jpg
Shalat Jamak Qashar (Mengumpulkan Pada Satu Waktu Dan Meringkas).jpg

Demikian Uraian kami tentang: Shalat Jamak Qashar : (Mengumpulkan Pada Satu Waktu Dan Meringkas) – Semoga bermanfaat dan memberikan tambahan ilmu pengetahuan untuk kita semua. Abaikan saja uraia kami ini jika pembaca tidak sependapat.Terima kasih atas kunjungannya. Wallahu A’lamu bish-showab.

]]>