Syarat Itikaf dan Hukumnya Menurut Keterangan Dalam Fiqih

Syarat Itikaf dan Hukumnya Menurut Keterangan Dalam Fiqih – Perlu kita ketahui sehingga kita dapat melaksankannya dengan baik. Pada halaman ini kami Fiqih.co.id in syaa Allah akan memberikan materi rimgkas tentang perihal tersebut yang dalam hal ini adalah menurut Fiqih dalam madzhab Syafi’i.

Pada halaman sebelumnya kami sudah menyampaikan juga materi tentang fidyah sholat bagi orang yang meninggal masih punya tanggungan sholat.

Daftar Isi

Syarat Itikaf dan Hukumnya Menurut Keterangan Dalam Fiqih

Saudara dan saudariku muslimin dan muslimat hadaanaallahu wa iyyakum ajma’in. Kita semua tentu sudah faham mengenai masalah I’tikaf. Apalagi I’tikaf pada bulan ramadhan, utamanya pada sepuluh hari terakhir pada bulan tersebut.

Namun tidak menutup kemungkinan masih ada yang memerlukan penjelasan mengenai syarat dan hukumnya. Oleh sebab itu perkenankan kami untuk memberikan materinya Syarat dan hukum I’tukaf.

Dan dalam penjelasan ini juga kami akan mengutip mengenai fasal I’tikaf dari Fathul qorib.

Mukadimah

السّلام عليكم ورحمة الله و بركاته بسم الله الرّحمن الرّحيم * الحمد لله رب العالمين، و صلى الله و سلم على خاتم النبيين سيدنا محمد و على اله و صحبه اجمعين، أَمَّا بَعْدُ و  قال تعالى في القرأن العظيم : اعوذ بالله من الشيطان الرّجيم، وَعَهِدْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ ۞ (سورة البقرة: ١٢٥)ٴ

Segala Puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Shalawat dan Salam semoga tetap tercurah ke haribaan Nabi Agung Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa sallam. Pembaca yang kami banggakan rohimakumullah, melalui tulisan ini mari kita beca dengan baik sampai selesai materi ini mengenai Syarat dan hukum I’tikaf.

Syarat I’tikaf

Adapun syarat I’tikaf ini sudah diterangkan dalm fiqih yang akan kita tuliskan di bawah nanti teks aslinya dari fathul qorib. I’tikaf itu ada syarat I’tikaf dan ada syarat orang yang i’tikaf. Adapun Syarat I’tikaf itu ada dua iaitu;

  1. Niat Beri’tikaf.
  2. Menetap di Masjid.

Syarat Orang yang i’tikaf

Secara fiqihnya akan kami tulis di bawah ini teks aslinya suapaya lebih yakin. Adapun syarat orang yang i’tikaf itu ada tiga iatu;

  1. Islam.
  2. Berakal sehat.
  3. Suci dari haidl, nifas dan jinabah.

Jadi lawan kata dari yang tiga tersebut itu tidak masuk pada syarat orang yang sah beri’tikaf. Adapun mereka yang tidak sah untuk ber i’tikaf itu ialah;

  1. Non musli yakni Orang kafir
  2. Orang gila .
  3. Orang yang sedang dalam keadaan haidl, nifas dan junub.

Hukum I’tikaf

Adpun hukum dan pengertian i’tikaf lebih jelasnya kami tulis saja teks aslinya mengutip dari Fathul qorib sebagai berikut;

فصل فِي أَحْكَامِ الْاِعْتِكَافِ وَهُوَ لُغَةً الْإِقَامَةُ عَلَى الشَّيْءِ مِنْ خَيْرٍ أَوْ شَرٍ، وَشَرْعاً إِقَامَةٌ بِمَسْجِدٍ بِصِفَةٍ مَخْصُوْصَةٍ (وَاْلِاعْتِكَافُ سُنَّةٌ مُسْتَحَبَّةٌ) فِي كُلِّ وَقْتٍ وَهُوَ فِيْ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ أَفْضَلُ مِنْهُ فِي غَيْرِهِ لِأَجْلِ طَلَبِ لَيْلَةِ الْقَدْرِ، وَهِيَ عِنْدَ الشَّافِعِيْ رَضَيَ اللهُ عَنْهُ مُنْحَصِرَةٌ فِي الْعَشْرِ الْأَخِيْرِ مِنْ رَمَضَانَ

فَكُلُّ لَيْلَةٍ مِنْهُ مُحْتَمِلَةٌ لَهَا، لَكِنْ لَيَالِيَ الْوِتْرِ أَرْجَاهاَ وَأَرْجَى لَيَالِيَ الْوِتْرِ لَيْلَةُ الْحَادِيْ أَوْ الثَّالِثِ وَالْعِشْرِيْنَ. (وَلَهُ) أَيْ لِلْاِعْتَكَافِ الْمَذْكُوْرِ (شَرْطَانِ) أَحَدُهُمَا (النِّيَّةُ) وَيَنْوِي فِيْ الْاِعْتِكَافِ الْمَنْذُوْرِ الْفَرْضِيَّةَ أَوْ النَّذْرَ (وَ) الثَّانِي (اللُّبْثُ فِيْ الْمَسْجِدِ) وَلَا يَكْفِيْ فِيْ اللُّبْثِ قَدْرَ الطُّمَأْنِيْنَةِ، بَلْ الزِّيَادَةُ عَلَيْهِ بِحَيْثُ يُسَمَّى ذَلِكَ اللُّبْثُ عُكُوْفاً.ٴ

وَشَرْطُ الْمُعْتَكِفِ إِسْلَامٌ وَعَقْلٌ وَنِقَاءٌ عَنْ حَيْضٍ أَوْ نِفَاسٍ وَجِنَابَةٍ، فَلَا يَصِحُ اِعْتِكَافُ كَافِرٍ وَمَجْنُوْنٍ وَحَائِضٍ وَنُفَسَاءِ وَجُنُبٍ، وَلَوِ ارْتَدَّ الْمُعْتَكِفُ أَوْ سَكَرَ بَطَلَ اِعْتِكَافُهُ (وَلَا يَخْرُجُ) الْمُعْتَكِفُ (مِنَ الْاِعْتِكَافِ الْمَنْذُوْرِ إِلَّا لِحَاجَةِ الْإِنْسَانِ) مِنْ بَوْلٍ وَغَائِطٍ وَمَا فِيْ مَعْنَاهُمَا كَغُسْلٍ جِنَابَةٍ (أَوْ عُذْرٍ مِنْ حَيْضٍ) أَوْ نِفَاسٍ فَتَخْرُج الْمَرْأَةُ مِنَ الْمَسْجِدِ لِأَجْلِهِمَا (أَوْ) عُذْرٍ مِنْ (مَرَضٍ لَا يُمْكِنُ الْمَقَامُ مَعَهُ) فِي الْمَسْجِدِ بِأَنْ كَانَ يَحْتَاجُ لِفَرَشٍ وَخَادِمٍ وَطَبِيْبٍ، أَوْ يَخَافُ تَلْوِيْثَ الْمَسْجِدِ كَإِسْهَالٍ وَإِدْرَارِ بَوْلٍ، وَخَرَجَ بِقَوْلِ الْمُصَنِفِ لَا يُمْكِنُ الخ بِالْمَرَضِ الْخَفِيْفِ كَحُمَّى خَفِيْفَةٍ، فَلَا يَجُوْزُ الْخُرُوْجُ مِنَ الْمَسْجِدِ بِسَبَبِهَا (وَيَبْطُلُ) الْاِعْتِكَافُ (بِالْوَطْءِ) مُخْتَاراً ذَاكِراً لِلْاِعْتِكَافِ عَالِماً بِالتَّحْرِيْمِ. وَأَمَّا مُبَاشَرَةُ الْمُعْتَكِفِ بِشَهْوَةٍ فَتَبْطُلُ اِعْتِكَافُهُ إِنْ أَنْزَلَ وَإِلَّا فَلَا.

Pengertian dan Hukum I’tikaf Terjemah bahasa Indonesia

Arti “I’tikaf” menurut bahasa ialah menetapi. sesuatu kebaikan atau kejelekan. Sedang menurutsyara’ I’tikaf ialah menetap di dalam masjid dengan sifat yang sudah ditentukan.

I’tikaf itu sunnah hukumnya dalam suatu waktu yaitu pada sepuluh yang akhir dari bulan Ramadlan. Ini adalah yang lebih utama dari padalainnyakarena bertujuan berharap Lailatul Qadar.

Lailatul qodar menurut Iamam Syafi’i

Menurut Imam Syafi’i, Lailatul Qadar itu dapat diringkas dalam malam sepuluh yang akhir dari bulan Ramadlan, pada tiap-tiap malam sepuluh yang akhir itulah mengandung Lailatul Qadar, tetapi pada malam yang ganjil lebih dapat diharapkan adanya Lailatul Qadar dan yang lebih diharapkan dari malam ganjil ialah pada malam tanggal 21 atau 23 Ramadlan.

Dua Syarat Utama I’tikaf dan Syarat orang yang i’tikaf

Untuk beri’tikaf ada 2 syarat, yaitu :

Pertama : Niat, maka bagi orang yang I’tikaf karena nadzar, hendaknya melakukan niat fardlu.

Kedua : Berdiam diri di dalam Masjid, tidak mencukupi berdiamnya itu sekedar (seperti, pen.) thuma’ninah, tetapi harus lebih dari itu, sekiranya berdiamnya itu dapat disebut “berdiam dalam i’tikaf”.

Adapun syarat bagi orang yang i’tikaf :

  1. Islam
  2. Berakal sehat.
  3. Suci dari haidl, nifas dan jinabah.

Maka tidak shah i’tikaf :

  1. Non muslim yakni Orang kafir
  2. Orang gila .
  3. Orang yang sedang dalam keadaan haidl, nifas dan junub.

Seandainya orang yang i’tikaf itu tiba-tiba menjadi murtad atau mabuk, maka bathal i’tikafnya. Orang yang beri’tikaf tidak boleh keluar dari i’tikaf yang dinadzarkan, kecuali bila ada hajat (keperluan) manusiawi seperti kencing, berak dan yang semakna dengan itu seperti mandi janabat. Atau karena ada udzur, seperti haidl atau nifas, maka boleh bagi perempuan ke luar dari Masjid karena sebab kedua per. kara itu.

Atau karena udzur seperti adanya penyakit yang tidak memungkinkan dapat menetap di dalam Masjid sekiranya dia membutuhkan alas, pelayan dan dokter atau hawatir mengotori Masjid, seperti selalu berak dan kencing.

Orang yang beri’tukaf ia sakit ringan maka tidak boleh ke luar dari Masjid

Perkataan mushannif : Penyakit “yang tidak memungkinkan” itu mengecualikan penyakit ringan seperti sakit panas yang sifatnya sementara, maka tidak boleh ke luar dari Masjid karena sebab tersebut. Menjadi bathal i’tikaf seseorang, sebab wathi, hal ini jika memang (orang yang beri’tikaf itu, pen.) itu berpikir dan ingat bahwa dirinya dalam keadaan sedang i’tikaf juga mengerti akan haramnya jima’. Adapun bertemunya kulit orang yang i’tikaf disertai timbul syahwat, maka bathal i’tikafnya, hal ini jika sampai ke luar air mani, sedangkan bila tidak keluar air mani, maka tidak membathalkan.

Rukun I’tikaf

Memperhatikan penjelasan dalam fathul qorib tidak disebut mengenai rukun i’tikaf, namun ada keterang syarat i’tikaf dan sahnya itikaf. Dari keterangan tersebut bisa juga disebut rukun i’tikaf. Dan bila kita jadikan rukun maka rukun i’tikaf itu ada tiga iaitu;

  1. Niat
  2. Mmenetap di Masjid selama beri’tikaf.
  3. Dan Berdiam setidak-tidaknya harus melebihi dari ukuran Tuma’niha sholat.

Niat I’tikaf

Niat itu tempatnya ada pada hati, tapi mengucapkan niat itu hukumnya sunnah dalam madzhab Syafi’i terlibih ini adalah ibadah yang ditentukan dan dianjurkanm maka menurut kami sebaiknya ucapkanlah niat tersebut untuk lebih menghadirkan hati.

Adapun niat i’tikaf sunnah dalam tulisan arabnya adalah sebaga berikut;

اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيِّطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ: نَوَيْتُ اَنْ أَعْتَكِفَ فِيْ هَذَا الْمَسْجِدِ تَقَرُّبَا إِلَى اللهِ لِلّٰهِ تَعَالَى

Tulisan Indonesianya niat i’tikaf sunnah;

A’udzu billahi minasy syaithonir rojiim. Bismillahir rohmaanir rohiim. NAWAITU AN A’TAKIFA FI HADZAL MASJIDI TAQRRUBAN ILALLAHI LILLAHI TA’ALA.

Nia i’tikaf wajib

Apabila i’tikafnya i’tikaf wajib seperti i’tikaf nadzar maka itu hukumnya bukan sunnah tapi wajib. Maka niatnya juga jaru dinyatakan fardu.

Conto niat i’tikaf Fardu tulisan arab;

اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيِّطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ: نَوَيْتُ اَنْ أَعْتَكِفَ فِيْ هَذَا الْمَسْجِدِ تَقَرُّبَا إِلَى اللهِ نَذْرًا فَرْضًا لِّلّٰهِ تَعَالَى

Tulisan Indonesianya;

A’udzu billahi minasy syaithonir rojiim. Bismillahir rohmaanir rohiim. NAWAITU AN A’TAKIFA FI HADZAL MASJIDI TAQRRUBAN ILALLAHI NADZRON FARDHOL LILLAHI TA’ALA.

Syarat Itikaf dan Hukumnya
Syarat Itikaf dan Hukumnya

Demikian uraian ringkas materi tentang; Syarat Itikaf dan Hukumnya Menurut Keterangan Dalam Fiqih Mudah mudahan dari uraian ringkas ini dapat meberikan manfaat pada kita semua. Mohon Abaikan saja uraian kami ini, jika pembaca tidak sependapat. Terimakasih atas kunjungannya. Wallahu A’lamu bish-showab.