Bangkai : Hukumnya Ada Yang Najis Dan Yang Tidak

Bangkai : Hukumnya Ada Yang Najis Dan Yang Tidak Al-hamdulillah  Tentang Najis sudah dibahas, dan kali ini Fiqih.co.id akan menyambung ke hukum berikutnya. Dalam pada ini kami akan terangkan hukum Bangaki hewan yang tidak mengalir darahnya dan yang mengalir.

Daftar Isi

Bangkai : Hukumnya Ada Yang Najis Dan Yang Tidak

Bangkai adalah hewan yang mati bukan karena dipotong secara syar’i. Adapun hukum bangakai itu adalah najis, untuk lebih jelasnya mari kita baca uraian berikut ini.

Mukadimah

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْ

Para pembaca yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala, jumpa lagi bersama Fiqih.co.id yang  dalam pembahasan kali ini kita masih seputar Najis dan hukumnya. Namu dalam pembahsan kali ini kita menerangkan soal hokum bangkai yang kami kutip dari Fathul qorib fiqih madzhab Syafi’i.

Hukum Semut dan Sejenisnya Yang Terjatuh ke Bejana

Sebagaimana telah diterangkan dalam fathul-qorib bahwa semua hewan yang tidak ada darah mengalir lalu terjatuh ke dalam badah air terus mati di dalamnya maka ia tidak menajiskan.

Tertulis dalam Fathul Qorib sebagai berikut;

﯁(وَ) اِلَّا (مَا) اَيْ شَيْئٍ (لَانَفْسَ لَهُ سَائِلَةٌ) كَذُبَابٍ وَنَمْلٍ (اِذَا وَقَعَ فِيْ الْاِنَاءِ وَمَاتَ فِيْهِ فَاِنَّهُ لَايُنَجِّسُهُ). وَفِيْ بَعْضِ النُّسَخِ اِذَا مَاتَ فِي الْاِنَاءِ وَاَفْهَمَ قَوْلُهُ وَقَعَ اَيْ بِنَفْسِهِ اَنَّهُ لَوْ طُرِحَ مَا لَانَفْسَ لَهُ سَائِلَةٌ فِي الْمَائِعِ وَهُوَ مَا جَزَمَ بِهِ الرَّفِعِيُّ فِي الشَّرْحِ الصَّغِيْرِ. وَلَمْ يَتَعَرَّضْ لِهَذِهِ الْمَسْأَلَةِ فِيْ الْكَبِيْرِ.﯁

Artinya: Dan Tetapi tidak najis hewan yang tidak mengalir darahnya, seperti lalat dan semut ketika jatuh ke dalam tempat, kemudian mati di dalamnya maka ia tidak menajis kannya. Tersebut di dalam sebagian keterangan memakai perkataan “ketika mati hewan tersebut di dalam tempat”.

Dan telah memberikan pemahaman perkataan mushannif  “yang jatuh”, bahwa yang dimaksudkan adalah jatuh dengan sendirinya.

Jika hewan yang tidak mengalir darahnya itu sengaja dijatuhkan ke dalam benda cair, maka hukumnya benda cair tersebut adalah najis. Ini adalah penetapan Imam Rafi’i terdapat dalam syarah kitab yang kecil. Dan Imam Rafi’i tidak menjelas kan masalah ini dalam syarah kitab yang besar.

وَاِذَا كَثُرَتْ مَيْتَةُ مَالَانَفْسَ لَهُ سَائِلَةٌ وَغَيَّرَتْ مَا وَقَعَتْ فِيْهِ نَجَسَتْهُ. وَاِذَا نَشَئَتْ هَذِهِ الْمَيْتَةُ مِنَ الْمَائِعِ كَدُوْدِ خَلٍّ وَفَاكِهَةٍ لَمْ تُنَجِّسْهُ قَطْعًا.﯁

Ketika bangkai hewan yang tidak mengalir darahnya itu banyak jumlahnya dan telah merubah keadaan benda cair tersebut, maka jelas hukumnya najis.

Dan ketika bangkai ini tumbuh dari dalam benda cair seperti belatungnya cukak dan buah-buahan maka hukumnya tidak menajiskan.

وَيُثْتَسْنَى مَعَ مَاذُكِّرَهُنَا مَسَائِلُ مَذْكُوْرَةٌ فِيْ الْمَبْسُوْطَاتِ سَبَقَ بَعْضُهَا فِيْ كِتَابِ الطَّهَارَةِ.﯁

Dan dikecualikan dari hal-hal yang diterangkan dalam pasal ini adanya beberapa masalah yang tersebut dalam kitab yang panjang lebar keterangannya yang sebagian terdapat dalam kitabThaharah.

Sumua Binatang Suci Kecuali Anjing dan Babi

﯁(وَالْحِيْوَانُ كُلُّهُ طَاهِرٌ اِلَّا الْكَلْبَ وَالْخِنْزِيْرَ وَمَا تَوَلَدَ مِنْهُمَا اَوْ مِنْ اَحَدِهِمَا) مَعَ حِيْوَانٍ طَاهِرٍ وَعِبَارَتُهُ تَصْدُقُ بِطَهَّارَةِ الدُّوْدِ الْمُتَوَلَدِ مِنَ النَّجَاسَةِ وَهُوَ كَذَلِكَ.﯁

Semua binatang itu suci, kecuali anjing dan babi, dan binatang yang keluar atau diperanakkan dari keduanya atau salah satunya dengan binatang yang suci. Pernyataan Muhannif sekaligus membenarkan sucinya binatang belatung yang keluar dari najis dan ini hukumnya adalah suci.

Semua Bangkai Najis Kecuali

﯁(وَالْمَيْتَةُ كُلُّهَا نَجِسَةٌ اِلَّا السَّمَكَ وَالْجَرَادَ وَالْاَدَمِيَّ) وَفِي بَعْضِ النُّسَخِ وَابْنَ آدَمَ اَيْ مَيْتَةَ كُلِّ مِنْهَا فَاِنَّهَا طَاهِرَةٌ.  (وَيُغْسَلُ الْإِناَءُ مِنْ وُلُوْغِ الْكَلْبِ وَالْخِنْزِيْرِ سَبْعَ مَرَّاتٍ) بِمَاءٍ طَهُوْرٍ (اِحْدَاهُنَّ) مَصْحُوْبَةٌ (بِالتُّرَابِ) الطَّهُوْرِ يَعُمُّ الْمَحَلَ الْمُتَنَجِّسِ.﯁

Semua bangkai itu najis, kecuali ikan, belalang dan anak Adam. Di dalam sebagian keterangan menggunakan perkataan  ”IbnAdam”. Pengertiannya ialah, bahwa masing-masing dari ikan, belalang dan anak Adam tersebut bangkainya adalah suci. Dan dicuci tempat-tempat yang dijilat oleh anjing dan babi sampai tujuh kali cucian dengan air yang suci, salah satunya harus dicampuri debu yang suci pula yang dapat merata sampai tempat yang terkena najis.

فَاِنْ كَانَ الْمُتَنَجِّسُ بِمَاذُكِرَ فِيْ مَاءٍ جَارٍ كَدِرٍ كَفَى مُرُوْرُ سَبْعَ جَرْيَاتٍ عَلَيْهِ بِلَا تَعْفِيْرٍ.  وَاِذَا لَمْ تَزُلْ عَيْنُ النَّجَاسَةِ الْكَلْبِيَّةِ اِلَّا بِسِتٍّ مَثَلًا حُسِبَتْ كُلُهُ غَسْلَةً وَاحِدَةً وَالْاَرْضُ التُّرَابِيَّةُ لَايَجِبُ التُّرَابُ فِيْهَا عَلَى الْاَصَحِّ.﯁

Jika yang terkena najis tersebut dicuci dalam air mengalir yang keruh, maka hukumnya shah pencuciannya tanpa mencampuri debu. Apabila keadaan najisnya anjing tersebut tidak dapat hilang kecuali dengan enam kali pembasuhan, maka yang demikian itu harus dihitung sekali pencucian.  Menurut pendapat yang lebih shaheh, bahwa bumi itu sudah berdebu, maka tidak wajib menaruh debu lagi.

﯁(وَيُغْسَلُ مِنْ سَائِرِ) اَيْ بَاقِي (النَّجَاسَةِمَرَّةً وَاحِدَةً) وَفِي بَعْضِ النُّسَخِ مَرَّةً (تَأْتِي عَلَيْهِ وَالثَّلَاثُ) وَفِي بَعْضِ النُّسَخِ وَالثَّلَاثَةُ بِاالتَّاءِ (اَفْضَلُ)﯁

Dan dibasuh (dicuci, pen.) sesuatu yang terkena najis-najis biasa sekali saja yang merata sampai yang terkena najis itu. Menurut sebagian keterangan, mencuci najis biasa tersebut sampai tiga kali adalah lebih baik.

Macam Najis :

Najis itu ada 3 macam, yaitu :

  1. Mukhaffafah
  2. Mutawassithah
  3. Dan Mugholadzoh

Najis Mukhaffafah.

Najis Mukhaffafah itu adalah najis yang mencucinya cukup dipercikkan air padanya sampai tidak kelihatan bekas najis itu bila dilihat oleh mata. Seperti air kencing anak laki-laki yang belum pernah makan dan minum kecuali air susu ibunya.

Najis Mutawassithah.

Najis Mutawassithah itu adalah najis yang mencucinya cukup dibasuh sekali saja, sampai tidak kelihatan bekas najisnya, baik warnanya, baunya dan sifatnya. Seperti air kencing dan kotoran orang, kotoran ayam dan sebagainya.

Najis Mughalladzah.

Najis Mughalladzah itu adalah najis yang mencucinya sampai 7 kali salah satu diantaranya harus dicampuri debu yang suci. Seperti terkena Jilatan atau air kencing atau kotoran anjing dan babi dan yang diperanakkan dari salah satu keduanya dengan binatang yang suci.

وَاعْلَمْ اَنَّ غُسَالَةَ النَّجَاسَةِ بَعْدَ طَهَارَةِ الْمَحَلِ الْمَغْسُوْلِ طَاهِرَةٌ اِنِ انْفَصَلَتْ غَيْرَ مَتَغَيِّرَةٍ. وَلَمْ يَزِدْ وَزْنُهَا بَعْدَ اِنْفِصَالِهَا عَمَّا كَانَ بَعْدَ اعْتِبَارِ مِقْدَارِ مَايَتَشَرَّبَهُ الْمَغْسُوْلُ مِنَ الْمَاءِ. هَذَا اِذَا لَمْ يَبْلُغْ قُلَّتَيْنِ فَاِنْ بَلَغَهُمَا فَالشَّرْطُ عَدَمُ التَّغَيُّرِ.﯁

Ketahuilah ! bahwa bekas najis sesudah tempatnya dicuci itu menjadi suci, jika memang bekas tempat najis tersebut sesudah berpisah dengan najisnya tidak berubah. Dan tidak pula bertambah berat (timbangannya) berpisahnya bekasnya najis dari keadaan sebelumnya setelah diperhitungkan perkiraannya benda yang dibasuh itu menyerap air.

Ini jika air tersebut tidak sampai berjumlah 2 kulah. Sedangkan bilaair itu tadi mencapai 2 kulah, maka syaratnya harus tidak berubah.

Sucinya Arak Setelah Menjadi Cokak

وَلَمَّا فَرَغَ الْمُصَنِفُ مِمَّا يَطْهُرُ بِالْغَسْلِ شَرَعَ فِيْمَا يَطْهُرُ بِالْاِسْتِحَالَةِ. وَهِيَ اِنْقِلَابُ الشَّيْئِ مِنْ صِفَةٍ اِلَى صِفَةٍ اُخْرَى فَقَالَ: (وَاِذَا تَخَلَلَتْ الْخَمْرَةُ) وَهِيَ الْمُتَّخَذَةُ مِنْ مَاءِ الْعِنَبِ مُحْتَرَمَةً كَانَتِ الْخَمْرَةُ اَمْ لَا وَمَعْنَى تَخَلَّلَتْ صَارَتْ خَلًّا وَكَانَتْ صَيْرُورَتُهَا خَلًّا (بِنَفْسِهَا طَهُرَتْ).﯁

Setelah mushannif selesai membicarakan tentang benda yang dapat suci dengan dibasuh, maka kemudian beliau meneruskan membicarakan benda yang dapat menjadi suci sebab berubah warnanya. Yaitu berubahnya sesuatu dari sifat yang satu ke sifat yang lain, maka beliau berkata : Ketika arak, berubah menjadi cukak, yakni tuak yang dibuat dari air anggur baik tuak itu dimulyakan atau tidak dan berubahnya menjadi cokak tersebut adalah dengan sendirinya (tidak diproses) maka ia dapat menjadi suci.

وَكَذَا لَوْ تَخَلَّلَتْ بِنَقْلِهَا مِنْ شَمْسٍ اِلَى ظِلٍّ وَعَكْسِهِ. (وَاِنْ)لَمْ تَتَخَلَلْ الْخَمْرَةُ بِنَفْسِهَا بَلْ (تَخَلَلَتْ بِطَرْحِ شَيْئٍ فِيْهَا لَمْ يَطْهُرْ) وَاِذَا طَهُرَتْ الْخَمْرَةُ طَهُرَ دَنُّهَا تَبَعًا لَهَا.﯁

Demikian juga bila tuak itu berubah menjadi cukak dengan dipindahkannya dari tempat yang panas (karena matahari,pen.) atau sebaliknya, maka ia berstatus suci pula.

Jika tuak itu tidak menjadi cukak dengan sendirinya, tetapi ia jadi cukak sebab dimasuki sesuatu benda di dalamnya, maka hukumnya tidak suci. Dan ketika tuak itu menjadi suci maka suci pulalah tempatnya karena mengikuti kepada tuaknya.

Hukum Bangkai
Hukum Bangkai

Demikian Uraian kami tentang; Bangkai : Hukumnya Ada Yang Najis Dan Yang Tidak. – Semoga uraian ini bisa menginspirasi para pembaca dan bermanfaat. Mohon abaikan saja uraia kami ini jika pembaca tidak sependapat. Terima kasih atas kunjungannya.