Hari Haram Puasa Menurut Keterangan Fiqih Dalam Madzhab Syafi’i

2 min read

Hari Haram Puasa Menurut Fiqih

Hari Haram Puasa Menurut Keterangan Fiqih Dalam Madzhab Syafi’i – Para Pembaca yang kami banggakan dan yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pada halaman yang ini kami Fiqih.co.id in syaa Allah akan memberikan materi rimgkas mengenai hari-hari yang diharamkan berpuasa menurut Fiqih dalam madzhab Syafi’i.

Pada halaman sebelumnya kami sudah menyampaikan materi tentang Sunnah puasa Ramadhan. Dan pada halaman kami akan sampaikan pada hari apa saja yang sudah pasti diharmkan berpuasa.

Hari Haram Puasa Menurut Keterangan Fiqih Dalam Madzhab Syafi’i

Saudara dan saudariku hadaanaallahu wa iyyakum ajma’in. Setelah kita sama-sama mengetahui dan memahami tentang syarat wajib puasa, maka selanjutnya kita wajib juga mengetahui beberapa perkara yang dapat membatalkan puasa ramadhan.

Pada halaman ini kami akan mengutip mengenai perkara yang membatalkan puasa ini dari fiqih yang bermadzhab syafi’i yaitu Fathul qoribul mujib. Dalam penyapainnya kami akan perjelas secara ringkas semoga nanti bisa difahami oleh para pembaca.

Mukadimah

السّلام عليكم ورحمة الله و بركاته بسم الله الرّحمن الرّحيم * الحمد لله و شكرُ لله لا حول و لا قوة الّا بالله اللهم صل و سلم على خاتم النبيين سيدنا محمد رسول الله و على اله وصحبه اجمعين، أَمَّا بَعْدُ و  قال تعالى في القرأن العطيم : اعوذ بالله من الشيطان الرّجيم فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۞ (البقرة  : ١٨٤)ٴ

Puji dan syukur senantiasa kita panjatkan ke hadhirat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Shalawat dan Salam semoga tetap tercurah ke haribaan Nabi Agung Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa sallam. Pembaca yang kami kagumi rohimakumullah, sebagaimana telah kita sama-sam faham bahwa puasa ramdhan itu adalah wajib dan diwajibkan oleh Allah Ta’ala, tapi ada juga puasa yng diharmkan.

BACA JUGA :  Sholat Tarwih; Witir, Niatnya, Wirid dan Doa Sesudahnya

Hari haram Puasa

Adapun hari-hari yang diharamka berpuasa pada hari tersebut ialah yang pasti itu ada lima hari sebagaiman yang diterangkan dalam fiqih secara rinci diterang yang teks aslinya adalah sebagai berikut;

(وَيَحْرُمُ صِيَامُ خَمْسَةِ أَيَّامٍ الْعِيْدَانِ) أَيْ صَوْمُ يَوْمِ عِيْدِ الْفِطْرِ وَعِيْدِ الْأَضْحَى (وَأَيَّامُ التَّشْرِيْقِ) وَهِيَ (الثَّلَاثَةُ) الَّتِيْ بَعْدَ يَوْمِ النَّحْرِ (وَيُكْرَهُ) تَحْرِيْماً (صَوْمُ يَوْمِ الشَّكِ) بِلَا سَبَبٍ يَقْتَضِيْ صَوْمَهُ. وَأَشَارَ الْمُصَنِفُ لِبَعْضِ صُوَرِ هَذَا السَّبَبِ بِقَوْلِهِ (إِلَّا أَنْ يُوَافِقَ عَادَةً لَهُ) فِيْ تَطَوُّعِهِ كَمَنْ عَادَتْهُ صِيَامُ يَوْمٍ وَإِفْطَارُ يَوْمٍ فَوَافَقَ صَوْمُهُ يَوْمَ الشَّكِّ، وَلَهُ صِيَامُ يَوْمَ الشَّكِّ أَيْضاً عَنْ قَضَاءٍ وَنَذْرٍ، وَيَوْمُ الشَّكِّ هُوَ يَوْمُ الثَّلَاثِيْنَ مِنْ شَعْبَانَ إِذَا لَمْ يَرَ الْهِلَالَ لَيْلَتَهَا مَعَ الصُّحُوِ أَوْ تَحَدَّثَ النَّاسُ بِرُؤْيَتِهِ، وَلَمْ يُعْلَمْ عَدْلٌ رَآهُ أَوْ شَهِدَ بِرُؤْيَتِهِ صِبْيَانٌ أَوْ عَبِيْدٌ أَوْ فَسِقَةٌ

Lima hari yang diharamkan puasa

Pada teks asli kutipan dari fathul qorib se[erti yang tersebut di atas yang terjemahan dalam bahasa indonisianya adalah sebagai beikut;

Haram berpuasa pada 5 hari, yaitu ;

– Puasa pada Hari Raya Fithrah dan Hari Raya Qurban.

– Puasa pada hari-hari Tasyriq yaitu 3 hari sesudah Hari Raya Qurban.

Dan juga haram puasa pada hari Syak (bimbang) dengan tanpa ada sebab yang sesuai dengan pursanya.

Mushannif memberikan petunjuk kepada sebagian gambaran sebab ini melalui perkataan beliau, bahwa yang demikian itu terkecuali bila seseorang itu sudah biasa mengerjakan puasa sunnat lalu (pada suatu ketika, pen) bertepatan pada hari Syak (bimbang), seperti orang yang biasa mengerjakan puasa sehari dan sehari berbuka (sehari puasa dan sehari tidak, pen) maka suatu ketika puasanya jatuh pada hari Syak. Demikian pula boleh berpuasa pada hari Syak, karena membayar (hutang, pen) puasa atau karena nadzar.

BACA JUGA :  Syarat Wajib Puasa Ramadhan Menurut Fiqih Dalam Fathul Qorib

Hari Syak yaitu hari (yang bertepatan, pen). dengan tanggal 30 bulan Sya’ban, ketika pada malam 30 tersebut, tanggal tidak dapat dilihat dengan terang, dan Orang-orang sama mengatakan bahwa dirinya telah melihat tanggal tetapi tidak terdapat seorang yang adil yang melihat, atau ada anak-anak kecil, budak-budak atau orang-orang fasiq yang menyaksikan melihat. tanggal itu tadi.

Keterangan mengenai haram puasa

Saudaraku semua para pembaca yang kami kagumi, inti dari bahsa fiqih tersebut di atas mengenai hari diharakmkan puasa pada hari tersebut dalam satu tahun berjalan ialah;

  1. Haram berpuasa pda hari tanggal satu syawal (yakni hari raya fithri).
  2. Haram Puasa pada hari tanggal 10 Dzul hijjajh setelah sholat ‘idul adlha. Sedangkan mulai dari terbit fajar hingga sholat ‘id pada hari tersebut disunnahkan agar manahan untuk tidak memakan makanan dan meminum minuman terlebih dahulu.
  3. Diharmkan juga berpuasa pada tanggal 11 dzul ghijjah.
  4. Kemudian pada tanggal 12 dzuk hijjah.
  5. Dan juga haram puasa pada tanggal 13 dzul hijjah. Ketiga hari tersebut yakni 11, 12 dan 13 itu dinamai juga dengan nama hari tasyrik. Dan hari tasyriki ini juga ada perbedaan pendapat.

Adapun berpuasa pada tanggal 30 Sya’ban yang disebut dengan hari syak, maka tidak mesti keharamannya. Sebab pada hari tersebut bisa saja haram, bisa juga wajib dan seterusnya sebagaimantelah diterangkan dalam fiqihn yang tersebut di atas.

Jadi bagi yang sudah terbiasa puasa setiap hari dalam sepanjang tahun maka disimpulkan; baginya tidak haram berpuasa pada hari tanggal 30 sya’ban, yang diharmkan. Baginya hanya 5 hari saja yang dharamkan. Adpun 5 hari tersebut adalah 2 hari raya fitri dan alha kemudia 3 hari pada tgl 11, 12 dan 13 hari tsyrik.

BACA JUGA :  Syarat Itikaf dan Hukumnya Menurut Keterangan Dalam Fiqih
Hari Haram Puasa Menurut Fiqih
Hari Haram Puasa Menurut Fiqih

Demikian uraian materi tentang; Hari Haram Puasa Menurut Keterangan Fiqih Dalam Madzhab Syafi’i Mudah mudahan dari inti uraian tersebut dapat meberikan manfaat pada kiat dan berkah. Mohon Abaikan saja uraian kami ini, jika pembaca tidak sependapat. Terimakasih atas kunjungannya. Wallahu A’lamu bish-showab, wa bihi nasta’in.