Puasa Asyura, Tasu’a Pada Penaggalan Hijriyah Bulan Muharram

Puasa Asyura, Tasu’a Pada Penaggalan Hijriyah Bulan Muharram – di kesempatan kali ini kami fiqih.co.id akan menyampaikan materi mengenai Puasa sunnah pada bulan Muharram hari tasu’a dan hari “asyro.

Daftar Isi

Puasa Asyura, Tasu’a Pada Penaggalan Hijriyah Bulan Muharram

Lebih jelasnya uraian materi ini mari kita luangkan waktu sebentar untuk mengikuti penjelasannya fiqih.co.id mengenai perihal kesunahannya Puasa Asyura dan Tasu’a.

Mukodimah

السّلام عليكم و رحمة الله و بركاته

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيْمِ، الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَ صَلَّى اللهُ وَ سَلَّمَ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَ عَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، أما بعدبَعْدُ

Puji dan Syukur selalu kita panjatka ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sholawat dan Salam  mudah-mudahan tetap tercurahkan pada Rosulillahi sollallahu ‘alaihi wa sallam.

Bulan Muharram

Di tahun Hijriyah bulan yang pertama ialah “Muharrom”. Muharram ini adalah bulan yang dimuliyakan seperti yang sudah pernah kami sampaikan pada pembahasan yang lalu. Dalam Tahun Hijryah bulan Muharram ini adalah bulan nama bulan pertama. Adapun bulan kedua belasnya adalah bulan Dzul Hijjah. Allah SWT berfurman dalam al qur’an;

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ ۚ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ (٣٦) التوبة 

Artinya: Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram . Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa. (QS. at-Taubah, 36)

Empat Bulan Muharrom

Empat bulan yang haram (yang dimuliyakan) sebagaimana yang kami baca dalam Madzahibul-arba’ah redaksinya sebaagai berikut;

أَمَّا الْأَشْهُرُ الْحُرُمِ وَهِيَ أَرْبَعٌ : ثَلَاثَةٌ مُتَوَالِيَّةٌ. وَهِيَ ذُوْ الْقَعْدَةِ  وَذُوْ الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ، وَوَاحِدٌ مُنْفَرِدٌ. وَهُوَ رَجَبُ، فَإِنَّ صِيَامَهَا مَنْدُوْبٌ عِنْدَ ثَلَاثَةِ مِنَ الْأَئِمَةِ. وَخَالَفَ الْحَنَفِيَّةُ

Artinya: Adapun bulan-bulan haram itu (Muliya) ialah termasuk bulan yang empat. Tiga bulan berturut-turut, yaitu; Dzul Qo’dah, Dzul-Hijjah dan Muharam. Kemudian yang satu bulannya lagi ialah terpencil iaitu bulan Rajab.

Maka sesungguhnya puasa pada bulan tersebut itu dianjurkan menurut tiga Imam (yaitu Maliki, Syafi’i dan Hambali) kecuali Hanafi. Kutipan dari Kita Madzhibul Arba’ah Jilid 1 halaman 431 Bab Shaumu Rojab wa Sya’ban wa Baqiyatil-Asyhuril-haram.

Keterangan

Jika kita mambaca dan mamperhatikan keterangan tersebut ya disampaikan oleh tiga imam; “Maliki, Syafi’i dan Hambali” mestinya sudah tidak perlu dipermasalhakan lagi. Jadi intinya khususu bagi yang mau menunaikan puasa pada bulan bulan tersebut tidak ada larangan selama tidak ada yang menghalangi.

Dalil Puasa Muharaam

Di dalam Riyadhus Sholihin Bab Menerangkan Keutamaan Puasa Muharram dan Bulan Sya’ban terdapa pada halaman 313 diterangkan sebagai berikut;

عن أبي هريرة رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ قَالَ، قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم: أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمِ، وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيْضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ، رَوَاهُ مُسلِمٌ

Artinya: Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:  “Seutama-utama berpuasa sesudah bulan Ramadhan ialah dalam bulan Allah yang dimuliakan – yakni Muharram – dan seutama-utama sholat sesudah sholat wajib ialah sholatullail – yakni sholat sunnah di waktu malam.” (Riwayat Muslim) Kutipan dari Riyadhus Sholihin no. 1243.

Bila kita perhatikan pengertian dari makna hadits tersebut, menurut pemahaman kami bahwa puasa pada bulan-bulan Muharram itu ada keutamaannya sesuai dengan teks makna hadits. Kemudian tidak disebutkan tanggalnya, ini mengandung arti dan pengertian makna umum sifatnya.

Oleh karena itu tidak mudah juga bagi kita mengatakan: “Puasa Muharram, Puasa Dzul qo’dah, Puasa Dzul hijjah, Puasa Rajab dikatakan; “tidak ada dalil” sebaiknya menurut pendapat kami; “Silahkan yang mau berpuasa, maka puasalah. Dan bagi yang tidak mau, maka tidak usah berpuasa.

Pada akhirnya semua amalan kikta masing-masing serahkan kepada Biarlah Allah yang maha bijaksana dan lebih tau ganjaran apa yang pantas Allah berikan kepada pengamalnya.

Dalil Puasa ‘Asyura

Adapun di antara dalil puasa ‘asyura ilah sebagai berikut;

وَعَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَامَ يْوَمَ عَاشُوْرَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ. مُتَّفّقٌ عَلَيهِ

Artinya: Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma bahawasanya Rasulullah s.a.w. berpuasa pada hari ‘Asyura yaitu tanggal 10 bulan Muharram dan memerintahkan ummatnya untuk berpuasa pada hari itu pula. (Muttafaq ‘alaih) Kutipan dari Riyadhus Sholihin no. 1248. Halaman: 314

Pahala Puasa ‘Asyura

Shaum pada hari ‘asyra juga sangat bagus pahalanya sebagiman disebut dalam keterangan berikut ini;

وَعَنْ أَبِيْ قَتَادَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صِيَامِ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ فَقَالَ: يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَّةَ، رَوَاهُ مُسلِمٌ

Artinya: Dari Abu Qatadah r.a. bahawasanya Rasulullah s.a.w. ditanya perihal berpuasa pada hari ‘Asyura tanggal 10 Muharram, Beliau s.a.w. lalu bersabda: “Puasa pada hari itu dapat menutupi dosa tahun yang lampau.” (Riwayat Muslim) Kutipan dari Riyadhus Sholihin no. 1249. Halaman: 314

Namun sebaiknya bagi yang mau menunaikan puasa ‘asyura mesti diawali juga dengan puasa tasu’a.

Puasa Tasu’a

Adapu yang dimaksud dengan Puasa Tasu’a ini adalah puasa sunah pada tanggal 9 bulan muharram. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama beliau tidak sempat menunaikan puasa Tasu’a, akan tetapi beliau mengingatkan, maksudnya agar puasa bulan muharram yang dikerjakan oleh orang islam tidak menyerupai puasa yahudi, maka disarankan agar menambahnya dengan puasa Tasu’a, diantara keterangan haditsnya adalah;

وَعَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنهُمَا قَالَ، قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم: لَئِنْ بَقَيْتُ إِلَى قَابِلٍ لَأَصُوْمَنَّ التَّاسُعَ، رَوَاهُ مُسلِمٌ

Artinya: Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Niscayalah jikalau saya masih tetap hidup sampai tahun depan, tentulah saya akan berpuasa pada hari kesembilan bulan Muharram yakni Tasu’a.” (Riwayat Muslim) Kutipan dari Riyadhus Sholihin no. 1250. Halaman: 314

Niat Puasa Tasu’a

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ،  بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ التَّاسُعَ لِلّٰهِ تَعَالَى

A’udzu billahi minasy-syaithonir rojiym. Bismilahir rohmanir rohim. Nawaitu Shauma Ghodin ‘an ada-i sunatit- Tasu’a Lillahi ta’ala

Artinya: Aku Berlindung kepada Allah dari Godaan Syetan yang terkutuk. Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. “Aku Niat Puasa besok pagi menunaikan sunah puasa Tasu’a karena Allah Ta’ala”

Niat Puasa ‘Asyura

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ،  بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ العَاشُورَاءِ لِلّٰهِ تَعَالَى

A’udzu billahi minasy-syaithonir rojiym. Bismilahir rohmanir rohim. Nawaitu Shauma Ghodin ‘an ada-i sunatil-‘Asyura Lillahi ta’ala

Artinya: Aku Berlindung kepada Allah dari Godaan Syetan yang terkutuk. Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. “Aku Niat Puasa besok pagi menunaikan sunah puasa ’asyura karena Allah Ta’ala”

Niat Sahur

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ،  بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ ، نَوَيْتُ بِأَكْلِيْ سُنَّةً سَحُوْرِ لِلّٰهِ تَعَالَى

A’udzu billahi minasy-syaithonir rojiym. Bismilahir rohmanir rohim. Nawaitu Bi-Akliy Sunatan Sahur Lillahi ta’ala

Artinya: Aku Berlindung kepada Allah dari Godaan Syetan yang terkutuk. Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. “Aku Niat dengan makanku ini untuk mendapatkan sunahnya sahur karena Allah Ta’ala”

Niat Puasa Asyura dan Puasa Tasu’a Bulan Muharram

Doa Buka Puasa ‘Asyra dan Tasu’a

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ،  بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ ،  اَللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ

A’udzu billahi minasy-syaithonir rojiym. Bismilahir rohmanir rohim. Allahumma lakasumtu wabika aamantu wa’alaa rizqika afthortu birohmatika yaa arhamar roohimiin

Artinya: Aku Berlindung kepada Allah dari Godaan Syetan yang terkutuk. Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. “Ya Allah keranaMu aku berpuasa, dengan Mu aku beriman, kepadaMu aku berserah dan dengan rezekiMu aku berbuka (puasa ‘Arafah), dengan

Puasa Asyro
Puasa Asyro

Demikian uraian ringkas materi tentang; Puasa Asyura, Tasu’a Pada Penaggalan Hijriyah Bulan Muharram Mudah mudahan dari materi ringkas ini dapat meberikan manfaat pada kita semua. Mohon Abaikan saja uraian kami ini, jika pembaca tidak sependapat. Terimakasih atas kunjungannya. Wallahu A’lamu bish-showab.