Puasa Syaban; Yakni Bulan Ruwah Dan Beberapa Keutamaannya

Puasa Syaban; Yakni Bulan Ruwah Dan Beberapa Keutamaannya – Pembca yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pada halaman ini fiqih.co.id akan memberikan materi Mengenai puasa syaban yakin shaum sunnah di bulan Ruwah dna beberapa keteranganya mengenai keutamaan puasa sunnah pada bulan ini.

Daftar Isi

Puasa Syaban; Yakni Bulan Ruwah Dan Beberapa Keutamaannya

Bulan Syaban (Sya’ban) adalah bulan yang mempuntyai keunggulan juga seperti yang dijelaskan dalam salah satu keterangan. Pada bulan ini terdapat banyak keistimewaan bahkan menurut penjelasan dalm kitab Durrotun nashihin pad bilan ini di pertengahannya adalah pelaporan catatan amal kita selama setahun.

Secara rinci antum bisa baca dalam kitab Durratun nashihin Majlis Fi Fadhilati Sya’ban. Namun demikian memang ada beberapa klompok dari saudara kita muslim yang anti dengan kitab ini. Oleh karena itu kami tidak bermaksud untuk mengajari bebek berenang, tapi sekedar berbagi ilmu buat yang sepemahaman saja.

Puasa Syaban

Di bulan sya’ban ini juga disunnahkan berpuasa bagi yang memang mau mengerjakannya. Hanya saja melalui tulisan ini kami berpesan bahwa; puasa sunnah ini boleh dikerjakan bagi oarang yang tidak mempunyai hutang puasa wajib.

Buat saudaraku yang ingin menunaikan puasa sy’aban tunaikanlah dan berserah dirilah kepada yang maha pemberi pahala puasa. Di antara keterangan puasa sya’aban ialah sebagai berikut;

صيام أكثر شعبان؛ لأن الرسول صلى الله عليه وآله وسلم كان يصوم أكثر شعبان، قالت السيدة عائشة رضى الله عنها: «وَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآله وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ قَطُّ إِلَّا رَمَضَانَ، وَمَا رَأَيْتُهُ فِى شَهْرٍ أَكْثَرَ مِنْهُ صِيَامًا فِى شَعْبَانَ» رواه البخاري ومسلم

Adapun Puasa yang banyak di bulan Sya’aban itu karena sesungguhnya rasulullah shollallahi ‘alaihi wa sallam; beliau biasa berpuasa pada bulan Sya’ban dengan puasa yang banyak. Sayidah ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata; “Aku tidak pernah melihat Rasulullah s.a.w. menyempurnakan puasa satu bulan penuh kecuali pada Bulan Ramadhan, dan aku tidak pernah melihat beliau berpuasa dalam satu bulan yang lebih banyak daripada puasa pada Bulan Sya’ban.” (HR. Bukahari dan Muslim).

Keutamaan Puasa Syaban

Wallahu a’lam bish showab, semua amal ibadah kita mari kita kembalikan kepad Allah Subahanahu wa Ta’ala. Allah maha lebih mengetahui kejernihan pikiran dan keikhlasan hati kita dalam menjalankan segala macam ibadah. Semua itu berpahala atau tidak bergantung pada niatnya.

Diterangkan dalam Durratun Nashihin sebagai berikut;  Diriwayatkan dari nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda;

مَنْ صَامَ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ أَوَّلِ شَعْبَانَ وَثَلَاثَةً مِنْ أَوْسَطِهِ وَثَلَاثَةً مِنْ آخِرِهِ كَتَبَ اللهُ لَهُ ثَوَابَ سَبْعِيْنَ نَبِيًّا وَكَانَ كَمَنْ عَبَدَ اللهَ تَعَالَى سَبْعِيْنَ عَامًا. وَإِنْ مَاتَ فِي تِلْكَ السَّنَةِ مَاتَ شَهِيْدًا.(الحديث)

Artinya: “Barangsiapa berpuasa tiga hari di awal bulan Sya’ban, dan tiga hari di pertengahannya kemudian tiga hari di akhir bulan Sya’ban, maka Allah mencatat pahala baginya seperti pahalanya 70 Nabi dan dia disepertikan orang yang telah beribadah kepada Allah selama 70 tahun. Jika dia mati di tahun itu, maka niscaya dia termasuk orang yang Mati Syahid”.

Mengagungkan Bulan Syaban

Sngguh agung sekali pahala orang yang mau mengagungkan bulan sya’ban ini. Dalam hal ini tentunya mereka yang betul betul tulus karena Allah. Kemudian jika ia telah mengagungkan sya’ba maka tentunya lebih-lebih lagi pada bulan kita, yakni bulan ummat nabi Muhammad shollallahu ‘alaih wa sallam yaitu Ramadhan.

Kami mengutip dari Kitab Durratun Nashihin diterangkan sebagai berikut;

مَنْ عَظَمَ شَعْبَانَ وَاتَّقَى اللهَ تَعَالَى وَعَمِلَ بِطَاعَتِهِ وَأَمْسَكَ عَنِ الْمَعْصِيَّةِ غَفَرَ اللهُ تَعَالَى ذُنُوْبَهُ وَآمَنَهُ مِنْ كُلِّ مَا يَكُوْنُ فِيْ تِلْكَ السَّنَةِ مِنَ الْبَلَايَا وَالْأَمْرَاضِ كُلِّهَا (الحديث)

Artinya: “Barangsiapa yang mengagungkan bulan Sya’ban dan bertakwa kepada Allah Ta’ala dan mengerjakan keta’atan pada-Nya serta menjaga dirinya dari maksiat. maka niscaya Allah Ta’al telah mengampuni dosanya dan menjamin keamanan dari segala bala dan penyakit yang ada di tahun itu semuanya”.

Mulai Kapan Puasa Ruwah?

Jika kiat mau menunaikan saum pada bulan ruwah ini, maka tentunya dipersilahkan pada masing-masing saja. Puasa tersebut hukumnya juga sunnah, yang artinya dapat pahala jika dikerjakan dan tidak berdosa bila ditinggalkan. Jika antum mau maka boleh seperti yang diterangkan di atas yaitu 3 hari di awal bulan, 3 hari di pertengahan bulan dan tiga hari pada akhir bulan.

Atau juga boleh hanya 3 hari pada pertengahannya saja dengan mengambil waktu ayyamul bidh yakni hari-hari puti yaitu tanggal 13, 14 dan 15.

Atau boleh juga dimulai dari tanggal 1 sampai tanggal berapa saja seikhlasnya. Puasa sya’ban ini tidak dilarang meski difulkan satu bulan penuh jika memang yang bersangkutan sudah terbiasa dengan puasa, yang tidak boleh itu hanya bagi orang yang tidak biasa.

Niat Puasa Syaban

Mengenai masalah niat, sebenarnya boleh di hati saja tanpa diucapkan, akan tetapi nagi kita yang sduah biasa mengucapkannya tentu akan mersa tidak pas jika tidak mengucapkannya. Dan memang melafadzkan niat ini dalam madzhab Syafi’i itu disunnahkan, artinya dengan mengucapkan niat ini tentunya itu lebih afdol.

Oleh karena itu jiak antum mau melafadzkan nitnya, berikut ini lafazdnya;

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ،  بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ فِيْ شَهْرِ شَعْبَانَ سُنَّةً لِلهِ تَعَالَى

A’udzu billahi minasy-syaithonir rojiym. Bismilahir rohmanir rohim. Nawaitu Shauma ghodin fi syahri sya’bana sunnatal lilahi ta’ala.

Artinya: Aku Berlindung kepada Allah dari Godaan Syetan yang terkutuk. Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. “Aku Niat Puasa besok pagi pada bulan Sya’ban sunnah karena Allah Ta’ala.

"<yoastmark

Demikian uraian ringkas materi tentang; Puasa Syaban; Yakni Bulan Ruwah Dan Beberapa Keutamaannya Mudah mudahan materi ringkas ini dapat meberikan manfaat bagi kita semua. Mohon Abaikan saja uraian kami ini, jika pembaca tidak sependapat. Terimakasih atas kunjungannya. Wallahu A’lamu bish-showab.