Syarat Sebelum Mengerjakan Shalat Itu Ada Lima

Syarat Sebelum Mengerjakan Shalat Itu Ada Lima – Pada kesemptan ini kami Fiqih.co.id akan menerangkan tentang Syarat-Syarat Sebelum Masuk Mengerjakan Shalat Dalam Fiqih. Dan uraian berikut ini kami kutip dari faiqih dalam madzhab Syafi’i yaitu Kitab Fathul qorib.

Daftar Isi

Syarat Sebelum Mengerjakan Shalat Itu Ada Lima

Ada beberapa syarat yang harus terpenuhi sebelum mengerjakan shalat. Dalam pada ini In Syaa Allah urainnya kami akan terangkan sebagaiman telah diterangkan dalam Fathul-qorib.

Mukodimah

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ تَبَرُكًا بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ،  وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ الْكَرِيْمِ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ

Para Pembaca Kaum Muslimiin muslimat, mukminiin mukminat dan Para Santri, Rahimakumllah. Dalam pembahasan berikuit ini kami mohon maaf apabila nanti terdapat hal yang kurang berkenan.

Mengenai Syarat-Syarat Sebelum Masuk Mengerjakan Shalat dalam fiqih yang kami baca dalam kitab fathul-qorib itu ada lima.

Akan tetapi boleh jadi ada pemahaman lain yang tidak sama dengan yang kami uraikan disini. Oleh karena itu abaikan saja urian ini jika pembaca tidak sependapat dengan penjelasan kami.

Syarat Sebelum Mengerjakan Shalat

Diterangkan dalam Fathul-qorib sebagai berikut:

﯁(فَصْلٌ وَشَرَائِطُ الصَّلَاةِ قَبْلَ دُخُوْلِ فِيْهَا خَمْسَةُ اَشْيَاءَ) وَالشُّرُوْطُ جَمْعُ شَرْطٍ وَهُوَ لُغَةً الْعَلَامَةُ وَشَرْعًا مَا يُتَوَقَفُ صَحَةَ الصَّلَاةِ عَلَيْهِ وَلَيْسَ جُزْأٌمِنْهَا. وَخَرَجَ بِهَذَا الْقَيْدِ الرُّكْنُ فَاِنَّهُ جُزْءٌ مِنَ الصَّلَاةِ.  الشَّرْطُ الْاَوَلُ (طَهَارَةُ الْاَعْضَاءِ مِنَ الْحَدَثِ) الْاَصْغَرِ وَالْاَكْبَرِ عِنْدَ الْقُدْرَةِ. اَمَّا فَاقِدُ الطَّهُوْرَيْنِ فَصَلَاتُهُ صَحِيْحَةٌ مَعَ وُجُوْبِ الْاِعَادَةِ عَلَيْهِ (وَ)طَهَارَةُ(النَّجْسِ) الَّذِيْ لَايُعْفَى عَنْهُ فِي ثَوْبٍ وَبَدَنٍ وَمَكَانٍ وَسَيَذْكُرُ الْمُصَنِفُ هَذَا الْاَخِيْرِ قَرِيْبًا.﯁

Pasal: Adapun syarat-syarat sebelum masuk mengerjakan shalat itu ada 5 perkara. Kata ”syarat-syarat” adalah jama’ dari kata ”syarat”.

Artinya menurut bahasa ialah :”tanda” dan arti menurut syarak ialah sesuatu menjadikan shahnya shalat, akan tetapi ia bukan termasuk bagian dari pada shalat.

Pengikatan makna ini, mengecualikan ”rukun” karena sesungguhnya rukun itu termasuk bagian dari pada shalat itu sendiri.

Syarat Sebelum Shalat pertama

Syarat pertama : yaitu sucinya beberapa anggauta badan dari hadats kecil dan hadats besar ketika dalam keadaan mampu (normal). Adapun orang yang sunyi dari dua suci, maka ia masih tetap wajib mengerjakan shalat, tetapi wajib pula baginya mengulang kembali shalatnya itu.

Dan juga harus suci dari najis yang tidak diampuni, baik ada di pakaian, badan dan tempat. Dalam hal ini mushannif akan menerangkan mengenai sucinya tempat.

Syarat Sebelum Shalat kedua

وَ)الثَّانِي(سَتْرُ)لَوْنِ (الْعَوْرَةِ) عِنْدَالْقُدْرَةِ وَلَوْ كَانَ الشَّخْصُ خَالِيًا فِي ظُلْمَةِ فَاِنْ عَجَزَ عَنْ سَتْرِهَا صَلَّى عَارِيًا. وَلَايُوْمِئُ بِالرُّكُوْعِ وَالسُّجُوْدِ بَلْ يَتِمُّهَا وَلَا اِعَادَةَ عَلَيْهِ.﯁)

Syarat kedua : Menutupi bentuk aurat ketika dalam keadaan mampu, meskipun orang tersebut berada di tempat yang sunyi dalam keadaan gelap.

Maka jika tidak kuasa menutupi auratnya, maka boleh mengerjakan shalat dengan telanjang. Bagi orang tersebut tidak diperkenankan memberi isyarat dengan ruku’ dan sujud, tetapi harus menyempurnakan ruku’ dan sujudnya itu, demikian juga tidak wajib baginya mengulangi shalatnyalagi.

وَيَكُوْنُ سَتْرُهَا (بِلِبَاسٍ طَاهِرٍ) وَيَجِبُ سَتْرُهَا اَيْضًا فِي غَيْرِ الصَّلَاةِ عَنِ النَّاسِ وَفِي الْخُلْوَةِ اِلَا لِحَاجَةٍ مِنْ اِغْتِسَالٍ وَنَحْوِهِ. وَاَمَّا سَتْرُهَا عَنْ نَفْسِهِ فَلَا يَجِبُ لَكِنَّهُ يُكْرَهُ نَظْرُهُ اِلَيْهِ.﯁

Syarat menutupi aurat itu tadi, harus dengan pakaian yang suci. Demikian pula wajib menutupi aurat di luar shalat, yakni dari penglihatan orang dan di dalam tempat yang sunyi, kecuali bila ada hajat, seperti mandi dan lainnya.

Adapun menutupi aurat dari penglihatan dirinya sendiri, maka hukumnya tidak wajib, tetapi makruh melihat auratnya sendiri.

Aurat Laki-laki

وَعَوْرَةُ الذَّكَرِ مَابَيْنَ سُرَّتِهِ وَرُكْبَتِهِ وَكَذَاالْاَمَةُ وَعَوْرَةُ الْحُرَّةِ فِي صَلَاةِ مَا سِوَى وَجْهِهَا وَكَفَيْهَا ظَهْرًا وَبَطْنًا اِلَى الْكَوْعَيْنِ. اَمَّا عَوْرَةُ الْحُرَّةِ خَارِجَ الصَّلَاةِ فَجَمِيْعُ بَدَنِهَا وَعَوْرَتُهَا فِيْ الْخُلُوَةِ كَالذَّكَرِ. وَالْعَوْرَةُ لُغَةً النَّقْصُ وَتُطْلَقُ شَرْعًا عَلَى مَا يَجِبُ سَتْرُهُ وَهُوَ الْمُرَادُ هُنَا وَعَلَى مَا يَحْرُمُ نَظْرُهُ وَذَكَرَهُ الْاَصْحَابُ فِي كِتَابِ النِّكاَحِ.﯁

Auratnya orang laki-laki itu ialah terletak antara pusarnya dan lututnya, demikian juga auratnya Amat. Sedang auratnya perempuan yang merdeka di dalam shalat yaitu sesuatu yang ada (pada tubuh,) selain dari wajahnya kedua telapak tangannya, baik lahir dan bathinnya sampai ke dua pergelangannya.

Adapun auratnya orang perempuan yang merdeka di luar shalat ialah seluruh badannya dan dalam tempat yang sunyi maka auratnya sama dengan orang laki-laki.

Makna ”aurat” menurut bahasa ialah ”kurang”. Sedang menurut syara’  dimuthlakkan sebagai suatu yang menutupinya itu wajib, yakni maksudnya di sini ialah sesuatu yang haram melihatnya.  Dan telah menerangkan beberapa teman di dalam kitab Nikah.

Syarat Sebelum Shalat ketiga

﯁(وَ)الثَّالِثُ(الْوُقُوْفُ عَلَى مَكَانٍ طَاهِرٍ) فَلَاتَصِحُ صَلَاةُ شَخْصٍ يُلَاقِي بَعْضَ بَدَنِهِ اَوْلِبَاسِهِ نَجَاسَةً فِي قِيَامٍ اَوْقُعُوْدٍ اَوْرُكُوْعٍ اَوْسُجُوْدٍ

Syarat ketiga : Berdiri di tempat yang suci, maka tidak shah seseorang mengerjakan shalat di mana sebagian badannya atau pakaiannya bertemu dengan najis pada waktu berdiri, duduk, ruku’

atau sujud.

Syarat Sebelum Shalat keempat

وَ الرَّابِعُ(الْعِلْمُ بِدُخُوْلِ الْوَقْتِ) اَوْظَنُّ دُخُوْلِهِ بِالْاِجْتِهَادِ فَلَوْ صَلَى بِغَيْرِ ذَلِكَ لَمْ تَصِحَّ صَلَاتُهُ وَاِنْ صَدَفَتِ الْوَقْتَ.﯁

Syarat keempat : Mengetahui masuknya waktu shalat, atau menyangkanya dengan hati-hati. Jika seseorang mengerjakan shalat tanpa mengetahui masuknya waktu shalat, maka hukumnya tidak

shah, meskipun secara kebetulan waktunya sudah masuk.

Syarat Sebelum Shalat kelima

﯁(وَ)الْخَامِسُ(اِسْتِقْبَالُ الْقِبْلَةِ) اَيْ الْكَعْبَةِ وَسُمِّيَتْ قِبْلَةً لِاَنَّ الْمُصَلِّى يُقَابِلُهَا وَكَعْبَةً لِارْتِفَاعِهَا وَاِسْتِقْبَلُهَا بِالصَّدْرِ شَرْطٌ لِمَنْ قَدَرَ عَلَيْهِ. وَاسْتَثْنَى الْمُصَنِفُ مِنْ ذَلِكَ مَاذَكَرَهُ بِقَوْلِهِ : (وَيَجُوْزُ تَرْكُ اسْتِقْبَالِ الْقِبْلَةِ) فِيْ الصَّلَاةِ (فِي حَالَتَيْنِ فِي شَدَةِ الْخَوْفِ) فِيْ قِتَالٍ مُبَاحٍ فَرْضًا كَانَتِ الصَّلَاةُ اَوْ نَفْلًا

Syarat kelima : Menghadap qiblat yakni Ka’bah, ia dinamakan qiblat karena orang yang shalat menghadap kepadanya, dan ia dinamakan Ka’bah, karena tinggi bangunannya.

Adapun menghadap Ka’bah dengan dada itu menjadi syarat bagi orang yang kuasa.

Dari pembicaraan mengenai syarat menghadap qiblat tersebut itu, mushannif dengan pendapatnya telah mengecualikan bahwa boleh meninggalkan qiblat di waktu shalat dalam dua keadaan, yaitu :

Pertama : Dalam keadaan yang sangat mengkhawatirkan di tengah-tengah pertempuran, baik shalat itu fardhu atau sunnah.

﯁(وَفِي النَّافِلَةِ فِي السَّفَرِ عَلَى الرَّاحِلَةِ) فَلِلْمُسَافِرِ سَفَرًا مُبَاحًا وَلَوْ قَصِيْرًا التَّنَفُلُ صَوْبَ مَقْصَدِهِ. وَرَاكِبُ الدَّابَّةِ لَايَجِبُ عَلَيْهِ وَضْعُ جُبْهَتِهِ عَلَى سَرْجِهَا مَثَلًا بَلْ يُوْمِئُ بِرُكُوْعِهِ وَسُجُوْدِهِ وَيَكُوْنُ سُجُوْدُهُ اَحْفَضُ مِنْ رُكُوْعِهِ. وَاَمَّا الْمَاشِيْ فَيُتِمُّ رُكُوْعَهُ وَسُجُوْدَهُ وَيَسْتَقْبِلُ الْقِبْلَةَ فِيْهِمَا وَلَايَمْشِى اِلَّا فِي قِيَامِهِ وَتَشَهُّدِهِ

Kedua : Shalat sunnah di atas kendaraan pada waktu bepergian, maka boleh bagi orang yang sedang bepergian yang di izinkan (menurut syara’) meskipun jaraknya dekat untuk mengerjakan shalat sunnah dengan menghadap arah yang menjadi tujuan bepergiannya.

Bagi orang yang naik kendaraan hewan, maka tidak wajib meletakkan keningnya di atas lapaknya hewan yang ditumpangi itu, tetapi hendaknya memberi isyarat dengan melalui ruku’nya dan sujudnya. Karena sujudnya iti lebih rendah dari pada ruku ‘nya.

Adapun orang yang berjalan kaki, maka wajib baginya menyempurnakan ruku’nya dan sujudnya, dan wajib pula menghadapkan ruku’ dan sujudnya itu ke arah qiblat, tidak boleh berjalan kecuali pada waktu orang tersebut berdiri dan ketika bertahiyyat.

Syarat Sebelum Mengerjakan Shalat Itu Ada Lima
Syarat Sebelum Mengerjakan Shalat Itu Ada Lima

Kesimpulan

Lima Perkara Syarat Sebelum Shalat.

  1. Sucinya beberapa anggauta badan dari hadats kecil dan hadats besar.
  2. Menutupi bentuk aurat ketika dalam keadaan mampu, meskipun orang tersebut berada di tempat yang sunyi dalam keadaan gelap.
  3. Berdiri di tempat yang suci.
  4. Mengetahui masuknya waktu.
  5. Menghadap qiblat.

Demikian Syarat Sebelum Mengerjakan Shalat Itu Ada Lima – Semoga bermanfaat dan memberikan tambahan ilmu pengetahuan untuk kita semua. Abaikan saja uraia kami ini jika pembaca tidak sependapat.Terima kasih atas kunjungannya.