Jum’at : (Syarat Wajibnya Dan Syarat Shahnya Jum’atan)

Jum’at : (Syarat Wajibnya Dan Syarat Shahnya Jum’atan) – Pada kesemptan kali ini Fiqih.co.id akan menerangkan tentang Jum’at. Yakni Syarat-syarat Wajibnya Jum’at. Demikian juga Syarat Shahnya Jum’at. Pembahasan tentang hal tersebut kami akan sampaikan juga dari kitab fathul qorib, Fiqih Madzhab Syafi’i.

Daftar Isi

Jum’at : (Syarat Wajibnya Dan Syarat Shahnya Jum’atan)

Jum’at, atau Shalat Jum’at itu adalah hukumnya Fardhu ‘ain bagi yang telah memenuhi tujuh perkara. Tujuh Perkara tersebut adalah merupakan syarat-syarat wajibnya jum’at.

Mukodimah

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ،  وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ الْكَرِيْمِ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ

Para Pembaca, Kaum Muslimiin, dan Para Santri, Rahimakumllah. Dalam pembahasan ini kami sampaikan tentang Shalat Jum’at sebagaimana Tema di atas. Dan dalam uraiannya tetap kami sesuaikan dengan aslinya dari Fathul qorib, salahsatu fiqih Madzhab Sayfi’i.

Oleh karena itu apabila pembaca ada yang kurang nyaman dengan uraian ini, maka abaikan saja. Dan untuk lebih jelsanya mari kita baca bersama uraian berikut ini:

Syarat Wajibnya Jum’at

Sebagaiman diterangkan dalam satu pasal sebagai berikut:

﯁(فَصْلٌ): وَشَرَائِطُ وُجُوْبِ الْجُمْعَةِ سَبْعَةُ أَشْيَاءَ الْإِسْلَامُ وَالْبُلُوْغُ وِالْعَقْلُ. وَهَذِهِ شُرُوْطُ أَيْضاً لِغَيْرِ الْجُمْعَةِ مِنَ الصَّلَوَاتِ (وَالْحُرِّيَةُ وَالذُّكُوْرِيَّةُ وَالصِّحَةُ وَالْاِسْتِيْطَانُ).﯁

Pasal : Menerangkan tentang syarat-syarat wajibnya jum’at itu ada 7 perkara, yaitu :

  1. Islam
  2. Sudah dewasa (baligh)
  3. Berakal sehat. Ketiga syarat ini juga berlaku bagi shalat-shalat selain dari pada shalat jum ‘at.
  4. Merdeka
  5. Laki-laki
  6. Sehat badan
  7. Menetap.

Yang Tidak Wajib Jum’at

Sebagaimana tertulis dalam Fathul-qorib:

فَلَا تَجِبُ الْجُمْعَةُ عَلَى كَافِرٍ أَصْلِيٍّ وَصَبِيٍّ وَمَجْنُوْنٍ، وَرَقِيْقٍ وَأُنْثَى وَمَرِيْضٍ وَنَحْوِهِ وَمُسَافِرٍ

Tidak wajib jum’atan bagi:

  1. Orang kafir yang asli.
  2. Anak kecil (belum dewasa).
  3. Orang gila.
  4. Budak.
  5. Orang perempuan.
  6. Orang yang sakit, dan yang serupa.
  7. Orang yang bepergian.

Syarat Shahnya Jum’at

Tertulis dalam Fathul-qorib sebagai berikut:

﯁(وَشَرَائِطُ) صَحَةِ (فِعْلِهَا ثَلَاثَةٌ) الْأَوَّلُ دَارَ اْإِاقَامَةِ الَّتِيْ يَسْتَوْطِنُهَا الْعَدَدُ الْمَجْمُعُوْنَ سَوَاءٌ فِيْ ذَلِكَ الْمَدَنُ وَالْقُرَى الَّتِيْ تَتَخِذُ وَطَناً، وَعَبَرَ الْمُصَنِّفُ عَنْ ذَلِكَ بِقَوْلِهِ (أَنْ تَكُوْنَ الْبَلَدُ مِصْراً) كَانَتِ الْبَلَدُ (أَوْ قَرْيَةً وَ) الثَّانِيْ (أَنْ يَكُوْنَ الْعَدَدُ) فِيْ جَمَاعَةِ الْجُمْعَةِ (أَرْبَعِيْنَ) رَجُلاً (مِنَ أَهْلِ الْجُمْعَةِ) وَهُمْ الْمُكَلَّفُوْنَ الذُّكُوْرُ الْأَحْرَارُ الْمُسْتَوْطِنُوْنَ بِحَيْثُ لَا يَظْعُنُوْنَ عَمَا اِسْتَوْطِنُوْهُ شِتَاءً، وَلَا صَيْفاً إِلَّا لِحَاجَةٍ. (وَ) الثَّالِثُ (أَنْ يَكُوْنَ الْوَقْتُ بَاقِياً) وَهُوَ وَقْتُ الظُّهْرِ فَيُشْتَرَطُ أَنْ تَقَعَ الْجُمْعَةُ كُلُّهَا فِيْ الْوَقْتِ، فَلَوْ ضَاقَ وَقْتُ الظُّهْرِ عَنْهَا بِأَنْ لَّمْ يَبْقَ مِنْهُ مَا يَسَعُ الَّذِيْ لَا بُدَ مِنْهُ فِيْهَا مِنْ خُطْبَتَيْـهَا وَرَكْعَتَيْـهَا صُلِيَتْ ظَهْراً

Syaratsyarat shahnya mengerjakan Jum’atan itu ada 3 (tiga) yaitu:

Pertama : Adanya tempat yang tertentu, di mana orang-orang yang berjum’atan itu menetap (di tempat tinggalnya sendiri). Baik tempat tersebut terletak di kota-kota atau desa yang menjadi tempat tinggal. Mushannif telah menggambarkan “tempat yang tertentu” itu melalui perkataannya:

Bahwa tempat tersebut hendaknya berupa kota atau desa.

Kedua : Orang-orang yang berjama’ah jum’at itu harus berjumlah 40 orang laki-laki yang sudah biasa jum’atan (ahli jum’atan). Yang dimaksud Ahli Jum’at yaitu orang-orang yang sudah mukallaf, harus laki-laki, merdeka yang sudah meinetap.

Sekiranya pada musim hujan dan kemarau mereka tidak berpindah dari tempat tinggalnya kecuali bila ada maksud tertentu.

Ketiga : Waktunya itu harus ada di waktu Dzuhur. Oleh karena itu maka disyaratkan, bahwa seluruh jum’at itu harus jatuh di dalam waktu Dzuhur tersebut.

Seandainya waktu Dzuhur sudah sempit untuk dipergunakan berjum’atan, yaitu sekiranya tidak dapat dipergunakan untuk melakukan dua khuthbah dan mengerjakan dua rakaat shalat jum’at maka hendaknya melakukan shalat Dzuhur saja.

Shalat Jum’at Bila Waktu Dzuhur Telah habis

﯁(فَإِنْ خَرَجَ الْوَقْتُ أَوْ عَدَمَتْ الشُّرُوْطُ) أَيْ جَمِيْعُ وَقْتِ الظُّهْرِ يَقِيْناً أَوْ ظَناً وَهُمْ فِيْهَا (صُلِّيَتْ ظُهْراً) بِنَاءً عَلَى مَا فُعِلَ مِنْهَا، وَفَاتَتِ الْجُمْعَةُ سَوَاءٌ أَدْرَكُوْا مِنْهَا رَكْعَةً أَمْ لَا، وَلَوْ شَكُّوْا فِيْ خُرُوْجِ وَقْتِهَا وَهُمْ فِيْهَا أَتِمُّوْهَا جُمْعَةً عَلَى الصَّحِيْحِ

Jika seluruh waktu Dzuhur itu telah habis secara yakin atau berdasar dugaan, sedang para ahli jum’at (jama’ah jum’at) sudah berada di dalamnya, atau karena tidak adanya beberapa syarat (sebagaimana tersebut di atas tadi) maka hendaknya shalat Dzuhur saja.

Hal ini semata-mata karena menegakkan atas sesuatu yang telah diperbuat dari jum’atan itu sendiri. Dan menjadi fot (bersetatus sebagai orang yang tertinggal) jum’atannya, baik mereka itu sudah menemukan satu rakaatnya shalat jum’at atau tidak. Jika para jama’ah jum’at (ahli jum’at) sama ragu-ragu dalam hal habisnya waktu jum’at, sedang mereka berada di dalam jum’atan maka hendaknya menyempurnakan jum’atannya. Demikian menurut pendapat yang shaheh.

Fardhunya Jum’at

﯁(وَفَرَائِضُهَا) وَمِنْهُمْ مَنْ عَبَّرَ عَنْهَا بِالشُّرُوْطِ (ثَلَاثَةٌ) أَحَدُهَا وَثَانِيْهَا (خُطْبَتَانِ يَقُوْمُ) الْخَطِيْبُ (فِيْهِمَا وَيَجْلِسُ بَيْنَهُمَا) قَالَ الْمُتَوَّلِيُّ بِقَدْرِ الطُّمَأْنِيْنَةُ بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ، وَلَوْ عَجَزَ عَنِ الْقِيَامِ وَخَطَبَ قَاعِداً أَوْ مُضْطَجِعاً، صَحَ وَجَازَ الْاِقْتَدَاءُ بِهِ، وَلَوْ مَعَ الْجَهْلِ بِحَالِهِ وَحَيْثُ خَطَبَ قَاعِداً فَصَلَ بَيْنَ الْخُطْبَتَيْنِ بِسَكْتَةٍ لَا بِاِضْطِجَاعٍ

Adapun fardhunya jum’at itu ada tiga. Sebagian Ulama menggambar bahwa fardhunya jum’at itu samadengan syarat-syarat jum’at.

Pertama  : Yaitu harus ada dua khuthbah yang dilakukan dengan berdiri.

Kedua : Duduk di antara dua khutbah. Imam Mutawally berpendapat, bahwa duduk di antara dua khutbah itu lamanya sebagaimana lamanya Thuma’ninah dalam duduk di antara dua sujud.

Seandainya orang yang berkhuthbah itu tidak mampu berdiri dan ia melakukan khuthbah dengan duduk atau tiduran berbaring, maka hukumnya shah dan boleh mengikuti khothib, meskipun tidak mengetahui keadaannya khothib.

Sekiranya khothib (yang berkhuthbah) itu berkhuthbah dengan duduk, maka hendaknya memisahkan antara dua khothbah dengan berdiam diri, tidak dengan tiduran berbaring.

Rukun Khuthbah

وَأَرْكَانُ الْخُطْبَتَيْنِ خَمْسَةٌ: حَمْدُ اللهِ تَعَالَى، ثُمَّ الصَّلَاةُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَلَفْظُهُمَا مُتَعِيِّنٌ، ثُمَّ الْوَصِيَّةُ بِالتَّقْوَى وَلَا يُتَعَيَّنُ لَفْظُهَا عَلَى الصَّحِيْحِ، وَقِرَاءَةُ آيَةٍ فِيْ إِحْدَاهُمَا، وَالدُّعَاءُ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فِيْ الْخُطْبَةِ الثَّانِيَّةِ، وَيُشْتَرَطُ أَنْ يَسْمَعَ الْخَطِيْبُ أَرْكَانَ الْخُطْبَةِ لِأَرْبَعِيْنَ تَنْعَقِدُ بِهِمُ الْجُمْعَةُ، وَيُشْتَرَطُ الْمُوَّالَاةُ بَيْنَ كَلِمَاتِ الْخُطْبَةِ وَبَيْنَ الْخُطْبَتَيْنِ، فَلَوْ فَرَقَ بَيْنَ كَلِمَاتِهَا، وَلَوْ بِعُذْرٍ بَطَلَتْ، وَيُشْتَرَطُ فِيْهَا سَتْرُ الْعَوْرَةِ وَطَهَارَةُ الْحَدَثِ وَالْخُبُثِ فِيْ ثَوْبٍ وَبَدَنٍ وَمَكَانٍ

Adapun rukun-rukunnya khuthbah itu ada 5 (lima) yaitu :

  1. Membaca Al-hamdulillah.
  2. Membaca shalawat Nabi. Baik membaca Al-hamdulillah dan shalawat Nabi keduanya lafadznya sudah ditentukan.
  3. Berwasiyat dengan taqwa kepada Allah. Menurut pendapat yang shaheh, lafadz taqwa kepada Allah ini tidak ditentukan.
  4. Membaca ayat. Al-Gur’an di dalam salah satu dua khuthbah.
  5. Membaca doa yang ditujukan kepada segenap orang mukmin laki-laki dan perempuan yang dibaca dalam khuthbah kedua. Dan disyaratkan bagi khathib agar mengeraskan suaranya dalam menyampaikan rukun-rukunnya khuthbah kepada 40 orang yang menjadikan shahnya jum ‘atan.

Demikian pula disyaratkan agar sambung menyambung di dalam membaca antara kalimah-kalimah khuthbah dan juga sambung-menyambung antara dua khuthbah.

Seandainya khothib itu berpisah dalam membaca di antara kalimah-kalimah  khuthbahnya, meskipun disebabkan karena ada ‘udzur, maka bathallah khuthbahnya. Juga disyaratkan bagi khothib agar menutupi auratnya, pakaian dan badan serta tempatnya harus suci dari hadats dan najis (kotoran).

Ketiga :

وَ) الثَّالِثُ مِنْ فَرَائِضِ الْجُمْعَةِ (أَنْ تُصَلِّىَ) بِضَمِّ أَوَّلِهِ (رَكْعَتَيْنِ فِيْ جَمَاعَةٍ) تَنْعَقِدُ بِهِمُ الْجُمْعَةُ، وَيُشْتَرَطُ وُقُوْعُ هَذِهِ الصَّلَاةُ بَعْدَ الْخُطْبَتَيْنِ بِخِلَافِ صَلَاةِ الْعِيْدِ، فَإِنَّهَا قَبْلَ الْخُطْبَتَيْنِ)

Shalat jum’at itu harus dikerjakan dua rakaat dalam suatu jama’ah yang menjadikan shahnya suatu Jum’atan. Dan disyaratkan agar shalat jum’at itu dilakukan sesudah selesai menunaikan dua khuthbah. Berbeda dengan shalat dua hari raya, maka shalat ini dikerjakan sebelum menunaikan dua khuthbah.

Jum’at (Syarat Wajibnya Dan Syarat Shahnya Jum’atan).jpg
Jum’at (Syarat Wajibnya Dan Syarat Shahnya Jum’atan).jpg

Selanjutnya Sunnahnya Jum’at, Shalat Sunnah Saat Imam Berkhutbah, dan kami sarankan antum untuk memaca pada link ini: ⇒ Haiat Jum’at, Hukum Shalat Sunnah Saat Imam Berkhutbah

Demikian Uraian kami tentang: Jum’at : (Syarat Wajibnya Dan Syarat Shahnya Jum’atan) – Semoga bermanfaat dan memberikan tambahan ilmu pengetahuan untuk kita semua. Abaikan saja uraia kami ini jika pembaca tidak sependapat.Terima kasih atas kunjungannya. Wallahu A’lamu bish-showab.