Rukun Shalat : Menurut Dalam Fathul Qorib Ada 18 (1)

3 min read

Rukun Shalat Menurut Dalam Fathul Qorib Ada 18 (1)
Rate this post

.Rukun Shalat : Menurut Dalam Fathul Qorib Ada 18 (1) – Pada kesemptan ini Fiqih.co.id akan menerangkan tentang Rukun-rukun Shalat Menurut Fiqih. Dan uraian berikut ini kami kutip dari faiqih Fathul qorib.

Rukun Shalat : Menurut Dalam Fathul Qorib Ada 18 (1)

Ada Perbedaan Hitungan mengenai rukun shalat dalam fiqih, tapi pada intinya sama. Rukun Shalat ada yang menghitunya 13, 17 dan ada pula yang 18. Dalam pada ini In Syaa Allah yang kami uraikan adalah yang 18 sebagaimana telah diterangkan dalam Fathul-qorib.

Mukodimah

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ تَبَرُكًا بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ الْكَرِيْمِ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ

Para Pembaca Kaum Muslimiin muslimat, mukminiin mukminat dan Para Santri, Rahimakumllah. Jika dalam pembahasan ini terdapat hal yang kurang berkenan maka kami mohon maaf.

Mengenai Rukun Shalat menurut fiqih yang kami baca dalam kitab fathul-qorib itu ada delapan belas.

Akan tetapi dalam fiqih yang selain fathul qorib itu jumlahnya hanya 13. Perbedaan hitungan di sisni bukan berarti bedanya rukun shalat, tapi yang jelas karena beda dalam penggabungannya. Baiklah mari kita ikuti saja penjelsannya berikut ini.

Pasal Rukun Shalat

فَصْلٌ) فِي اَرْكَانِ الصَّلَاةِ وَتَقَدَمَ مَعْنَى الصَّلَاةِ لُغَةً وَشَرْعًا (وَاَرْكَانُ الصَّلَاةِ ثَمَانِيَةَ عَشَرَ رُكْنًا) اَحَدُهَا النِّيَّةُ)  وَهِيَ قَصْدُ شَيْئٍ مُقْتَرِنًا بِفِعْلِهِ وَمَحَلُهَا الْقَلْبُ فَاِنْ كَانَتِ الصَّلَاةُ فَرْضًا وَجَبَ نِيَةُ الْفَرْضِيَّةِ وَقَصْدُ فِعْلِهَا وَتَعْيِيْنِهَا مِنْ صُبْحٍ اَوْ ظُهْرٍ مَثَلًا

اَوْ كَانَتِ الصَّلَاةُ نَفْلًا ذَاتَ وَقْتٍ كَرَاتِبَةٍ اَوْ ذَاتَ سَبَبٍ كَالْاِسْتِسْقَاءِ وَجَبَ قَصْدُ فِعْلِهِ اَوْ تَعْيِيْنُهُ لَا نِيَّةُ النَّفْلِيَّةِ

Pasal: Menerangkan tentang rukun-rukun shalat dan sudah diterangkan di muka mengenai makna shalat, baik menurut pengertian bahasa dan pengertian syara’. Rukun-rukunnya shalat itu ada 18 (delapan belas), yaitu :

Pertama

Yang pertama Niat, artinya mengharap sesuatu dibarengi dengan perbuatannya. Sedangkan tempat niat itu berada di dalam hati. Apabila shalat itu fardhu, maka wajib niat melakukan shalat fardhu.

BACA JUGA :  Tidak Hafal Fatihah Tapi Mau Sholat Hukumnya?

Wajib sengaja mengerjakan shalat dan menentukannya, misalnya sengaja mengerjakan shalat Shubuh atau Dzuhur.

Atau yang berupa shalat sunnah yang sudah tertentu waktunya seperti shalat Rawatib atau shalat yang mempunyai sebab. Seperti shalat karena meminta hujan, maka wajib sengaja mengerjakan shalat sunnah tersebut dengan tidak wajib niat sunnahnya shalat.

Kedua

﯁(وَ)الثَانِي(الْقِيَامُ مَعَ الْقُدْرَةِ) عَلَيْهِ فَاِنْ عَجَزَ عَنِ الْقِيَامِ قَعَد كَيْفَ شَاءَ وَقُعُوْدُهُ مُفْتَرِشًا اَفْضَلُ

Kedua:  Berdiri bagi orang yang kuasa, maka jika seseorang itu lemah, baiklah dengan duduk saja sekehendaknya dengan duduk iftirasy.

Ketiga

﯁(وَ)الثَالِثُ(تَكْبِيْرَةُالْاِحْرَامِ) فَيَتَعَيَنُ عَلَى الْقَادِرِ باِلنُّطْقِ بِهَا اَنْ يَقُوْلَ اللهُ اَكْبَرْ. وَلَايَصِحُ فِيْهَا تَقْدِيْمُ الْخَبَرِ عَلَى الْمُبْتَدَاءِ كَقَوْلِهِ اَكْبَرُ اللهُ

وَمَنْ عَجَزَ عَنِ النُّطْقِ بِهَا باِلْعَرَبِيَّةِ تَرَجَمَ عَنْهَا بِاَيِّ لُغَةٍ شَاءَ وَلَايَعْدِلُ  اِلَى ذِكْرٍ اَخَرَ

Ketiga: Takbiratul Ihram, bagi orang yang mampu mengucapkan Takbiratul Ihram. Maka ditentukan mengucapkan kalimah : اللهُ اَكْبَرْ “Tidak shah mengucapkan الرَّحْمَنُ اَكْبَرْ dan yang seperti itu.

Demikian juga tidak shah mengucap Takbiratul Ihram dengan mendahulu kan khabar atas mubtada. Seperti ucapan: اَكْبَرُ اللهُ. Barangsiapa lemah (tidak mampu) mengucapkan Takbiratul Ihram dengan bentuk bahasa Arab, maka boleh menterjemahkannya dengan bahasa apa saja.

Dan tidak boleh baginya menyebut yang lain, (maksudnya sebutan itu artinya sama dengan arti dari pada kata : ”AllahuAkbar”.

وَيَجِبُ قَرْنُ النِّيَّةِ بِالتَّكْبِيْرِ وَاَمَّا النَّوَوِيُّ فَاخْتَارَ الْاِكْتِفَاءَ بِالْمُقُارَنَةِ الْعُرْفِيَّةِ بِحَيْثُ يُعَدُّ عُرْفًا فَاِنَّهُ مُسْتَحْضِرُ لِلصَّلَاةِ

Wajib menyamakan ucapan niat dengan takbir. Imam Nawawi memilih pendapat, bahwa arti “menyamakan niat dengan takbir” itu cukup dipandang menurut pengertian yang biasa berjalan. Yaitu dengan memperkirakan bahwa dirinya itu orang yang mengerjakan shalat menurut kebiasaan yang dilakukan oleh orang banyak.

Keempat

﯁(وَ)الرَّاِبعُ (قِرَاءَةُ الْفَاتِحَةِ) أَوْ بَدَلَهَا لِمَنْ لَمْ يَحْفَظْهَا فَرْضاً كَانَتِ الصَّلَاةُ أَوْ نَفْلاً (وَبِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ آيةٌ مِنْهَا) كَامِلَةٌ وَمَنْ أَسْقَطَ مِنَ الْفَاتِحَةِ حَرْفاً أوْ تَشْدِيْدَةً أو أَبْدَلَ حَرْفاً مِنْهَا بِحَرْفِ لَمْ تَصِحْ قِرَاءَتُهُ وَلَا صَلَاتُهُ إِنْ تَعَمَدَ، وَإِلَّا وَجَبَ عَلَيْهِ إعَادَةُ اْلقِرَاءَةِ  وَيجِبُ تَرْتِيْبُهَا بِأنْ يَقْرَأ آيَاتِهَا عَلَى نَظْمِهَا الْمَعْرُوْفِ، وَيَجِبُ أَيْضاً مُوَالَاتُهَا بِأنْ يَصِلَ بَعْضَ كَلِمَاتِهَا بِبَعْضٍ مِنْ غَيْرِ فَصْلٍ إِلَّا بِقَدْرِ التَّنَفُسِ

Keempat: Membaca Fatihah atau membaca gantinya Fatihah bagi orang tidak hafal, baik itu dalam shalat fardhu atau sunnah. Adapun itu merupakan ayat yang termasuk dalam Fatihah secara sempurna.

BACA JUGA :  Khutbah Gerhana Matahari : Memperkuat Iman Dan Taqwa

Barangsiapa menggugurkan satu huruf. Atau satu tasydid dari Fatihah, mengganti satu huruf dari padanya dengan huruf yang lain, maka tidak shah bacaan Fatihah. Dan tidak shah pula shalatnya.

Jika memang orang tersebut sengaja melakukannya sedang bila tidak disengaja, maka tidak wajib baginya mengulang bacaan Fatihahnya lagi.

Wajib membaca Fatihah secara urut ayat-ayatnya. Menurut keadaan tertib ayat seperti yang sudah diketahui. Dan wajib sambung menyambung dalam membaca Fatihah. Supaya dapat bersambung sebagian kalimahnya dengan kalimah berikutnya dengan tanpa putus, kecuali sekedar mengambil nafas.

Jika berdzikir menyela-nyelai

فَإِنْ تَخَلَلَ الذِّكْرُ بَيْنَ مُوَالَاتِهَا قَطَعَهَا، إِلَّا أَنْ يَتَعَلُقَ الذِّكْرُ بِمَصْلَحَةِ الصَّلَاةِ كَتَأْمِيْنِ الْمَأْمُوْمِ فِيْ أَثْنَاءِ فَاتِحَتِهِ لِقِرَاءَةِ إِمَامِهِ، فَإِنَّهُ لَا يَقْطَعُ الْمُوَاَلاةَ، وَمَنْ جَهَلَ الْفَاتِحَةَ وَتَعَذَرَتْ عَلَيْهِ لِعَدَمِ مُعَلِّمٍ مَثَلاً وَأَحْسَنَ غَيْرَهَا مِنَ الْقُرْآنِ، وَجَبَ عَلَيْهِ سَبْعُ آيَاتٍ مُتَوَالِيَةٍ عِوَضاً عَنِ الْفَاتِحَةِ أوْ مُتَفَرِقَةٍ فَإنْ عَجَزَ عَنِ الْقُرْآنِ، أتَى بِذِكْرِ بَدَلاً عَنْهَا بِحَيْثُ لَا يَنْقُصُ عَنِ حُرُوْفِهَا، فَإِنْ لَمْ يُحْسِنْ قُرْآناً وَلَا ذِكْراً وَقَفَ قَدْرَ الْفَاتِحَةِ، وَفِي بَعْضِ النُّسَخِ وَقِرَاءَةِ الْفَاتِحَةِ بَعْدَ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، وهي آيةٌ مِنْهَا

Jika berdzikir menyela-nyelai antara sambung-menyambungnya bacaan ayat-ayat Fatihah, maka dzikir tersebut telah memutuskan syarat sambung menyambung. Kecuali bila dzikir itu tadi membuat kebaikannya shalat. Seperti membaca bagi makmum sedang di tengah-tengah membaca Fatihah.

Hal ini karena adanya bacaan Fatihah Imamnya. maka yang demikian itu tidak membuat terputusnya syarat sambung-menyambung.

Orang Yang Tidak Bisa Fatihah

Barang siapa bodoh dan sulit membaca Fatihah karena tidak ada yang mengajarnya, dan dia pandai membaca ayat-ayat Al-qur’an selain Fatihah. Maka wajib baginya membaca 7 ayat secara urut sambung menyambung. Atau 7 ayat yang berpencar sebagai gantinya bacaan Fatihah.

Bila orang itu tidak mampu membaca ayat-ayat Al-Qur’an, maka sebaiknya membaca dzikir saja sebagai gantinya bacaan Fatihah. Sekiranya jumlah huruf kalimah dzikirnya itu sama dengan jumlah huruf yang terdapat dalam Fatihah.

Jikalau seseorang memang tidak bagus bacaan ayat-ayat Al-Qur’annya, demikian juga bacaan dzikirnya. Maka orang tersebut supaya berdiri saja yang lamanya diperkirakan sekedar lamanya membaca Fatihah.

BACA JUGA :  Niat Shalat Ashar : Bacaan, Cara Doa dan Perakteknya

Menurut sebagian keterangan, bahwa istilah “membaca Fatihah” itu sesudah membaca “Bismillahirrohmaanirrohiim”  karena Bismillah termasuk salah satu ayat dari Fatihah.

Kelima

﯁(وَ) الْخَامِسُ (الرُّكُوْعُ) وَأقَلُّ فَرْضِهِ لِقَائِمٍ قَادِرٍ عَلَى الرُّكُوْعِ مُعْتِدِلِ الْخِلْقَةِ سَلِيْمِ يَدَيْهِ وَرُكْبَتَيْهِأنْ يَنْحَنَي بِغَيْرِ انْخِنَاسٍ قَدْرَ بُلُوْغِ رَاحَتَيْهِ رُكْبَتَيْهِ، وَلَوْ أرادَ وَضْعَهُمَا عَلَيْـهِمَا، فَإنْ لَمْ يَقْدِرْ عَلَى هَذَا الرُّكُوْعِ اِنْحَنَى مَقْدُوْرَهُ وَأَوْمَأ بِطَرْفِهِ، وَأكْمَلُ الرُّكُوْعِ تَسْوِيَةُ الرَّاكِعِ ظَهْرَهُ وَعُنُقَهُ بِحَيْثُ يَصِيْرَانِ كَصَفِيْحَةٍ واحدةٍ، وَنَصَبَ سَاقَيْهِ وَفَخْذَيْهِ وَأَخَذَ رُكْبَتَيْهِ بِيَدَيْهِ

Kelima: Ruku’. Paling tidak fardhunya ruku’ bagi orang yang kuasa berdiri, badannya sehat dan selamat kedua tangan dan lututnya yaitu dengan membungkuk. Tanpa tegap kedua telapak tangan orang itu sampai lututnya, jika memang menghendaki meletakkan kedua telapak tangan di atas kedua lututnya.

Bila tidak dapat melakukan ruku’ yang seperti itu, maka hendaknya membungkuk menurut kadar kemampuannya. Atau kalau memang tidak bisa, maka boleh cukup memberi Isyarat dengan penglihatan.

Adapun ruku’ yang paling sempurna, yaitu bagi orang yang ruku’ hendaknya meratakan punggungnya dengan lehernya. Sehingga keadaannya lurus seperti satu papan seraya menegakkan tulang betisnya dan memegang dua lutut dengan kedua tangannya.

Keenam

وَ) السَادِسُ (الطُمَأْنِيْنَةُ) وَهِيَ سُكُوْنٌ بَعْدَ حَرَكَةٍ (فِيْهِ) أَيْ الرُّكُوْعِ وَالْمُصَنِفُ يَجْعَلُ الطُمَأْنِيْنَةَ فِيْ اْلأرْكَانِ رُكْناً مُسْتَقِلاً وَمَشَى عَلَيْهِ النَوَوِيُ فِيْ التَّحْقِيْقِ، وَغَيْرُ الْمُصَنِفِ يَجْعَلُهَا هَيْئَةً تَابِعَةً لِلْأَرْكَانِ

Keenam: Tuma’ninah, yakni berhenti sebentar sesudah bergerak dalam ruku’. Bagi mushannif, Thuma’ninah ini dijadikan pembicaraan rukun yang berdiri sendiri dalam pemba hasan rukun-rukun shalat. Imam Nawawi telah membicarakan juga (thuma’ninah sebagai rukun tersendiri) di dalam kitab Tahqiq. Selain mushannif ‘ menjadikan Thuma’ninah sebagai sifat yang mengikuti rukun-rukun.

Rukun Shalat Menurut Dalam Fathul Qorib Ada 18 (1)
Rukun Shalat Menurut Dalam Fathul Qorib Ada 18 (1)

 

Uraian Rukun Shalat ini belum selesai. Adapun yang selanjutnya yaitu yang keempatbelas sampai dengan yang kedelapanbelas bersambung ke halaman link berikut ini. Rukun Shalat : Menurut Dalam Fathul Qorib Ada 18 (2)

Demikian Rukun Shalat : Menurut Dalam Fathul Qorib Ada 18 (1) – Semoga bermanfaat dan memberikan tambahan ilmu pengetahuan untuk kita semua. Abaikan saja uraia kami ini jika pembaca tidak sependapat.Terima kasih atas kunjungannya.