Shalat Lima Waktu : Penamaan Waktu Mengerjakannya

3 min read

Shalat Liama Waktu Penamaan Waktu Mengerjakannya

Shalat Lima Waktu : Penamaan Waktu Mengerjakannya – Di kesemptan kali ini kami akan melanjutkan tentang Hukum dan Pengertiannya Dalam Ilmu Fiqih. Dan Fiqih.co.id berikut ini akan menerangkan lanjutannya mengenai Penamaan Shalat dan Waktu menunaikannya sebatas pengetahuan kami yang kami baca dalam Fathul qorib.

Shalat Lima Waktu : Penamaan Waktu Mengerjakannya

Shalat Lima Waktu  adalah Pilar Agama, dan wajib ditegakkan oleh setiap mulim yang mukmin. Dalam pada ini In Syaa Allah kami akan menerangkannya dengan mengutip dari Fathul-qorib.

Mukodimah

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ، بِسْمِ اللهِ، الْحَمْدُ للهِ تَبَرُكًا بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ لِأَنَّهَا اِبْتِدَاءُ كُلِّ أَمْرٍ ذِىْ بَالٍ وَخَاتِمَةُ كُلِّ دُعَاءٍ مُجَابٍ وَآخِرُ دَعْوَى الْمُؤْمِنِيْنَ فِى الْجَنَّةِ دَارِ الثَّوَابِ،  وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مَنْ لاَ نَبِيَ بَعْدَهُ، وَهُوَ رَسُوْلُ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ، أَمَّا بَعْدُ

Ma’asyirol-Muslimiin muslimat, mukminiin mukminat dan Para Santri, Rahmatullahi ‘alaina wa ‘alaikum ajma’in. Dalam pembahasan kali ini kami mohon ma’af bila nanti terdapat hal yang kurang pas pada tempatnya. Mengenai Shalat Liama Waktu Penamaan Waktu Mengerjakannya, uraiannyakami kutip dari kitab Fathul qorib. Oleh karena itu mohon abaikan saja bagi yang tidak sependapat dengan uraian kami ini.

Shalat Lima Waktu

Shalat Lima Waktu adalah kewajiban sitiap ummat islam yang beriman. Shalat lima waktu itu tela diatur waktunya dan ada sebutan nama-namanya.

Adapun nama-nama shalat wajib lima waktu itu adalah:

  1. Shalat dzuhur.
  2. Shalat ‘ashar.
  3. Shalat maghrib.
  4. Shalat ‘isya.
  5. Shalat Shubuh.
  1. Shalat Dzuhur sudah kami terangkan pada pembasan yang sebelum uraian ini.

Shalat ‘Ashar.

Keneapa Shalat ‘Ashar ini dinamai dengan nama tersebut?, sebab dalam menunaikannya dialaksanakanpada waktu menjelang terbenamnya mata hari. Adapun penjelasannya sebagaimana ditulis dalam kitab Fathul-qorib sebagai berikut:

(وَالْعَصْرُ) اَيْ صَلَاتُهَا وَسُمِّيَتْ بِذَلِكَ لِمُعَاصِرَتِهَا وَقْتَ الْغُرُوْبِ، (وَاَوّلُ وَقْتِهَاالزِّيَادَةُ عَلَى ظِلِّ الْمِثْلِ

  1. Shalat ‘Ashar, dinamakan shalat ‘Ashar karena shalat tersebut mendekati waktu menjelang terbenamnya matahari. Permulaan waktu shalat ‘Ashar yaitu bayangan suku benda itu menjadi bertambah panjang dari bendanya.
BACA JUGA :  Hadiah Fatihah : Buat Mendoakan Almarhum Alamhumah

Waktu Shalat ‘Ashar

Dalam Fathul qorib dijelaskan sebagai berikut:

وَلِلْعَصْرِ خَمْسُ اَوْقَاتٍ، اَحَدُهَا وَقْتُ الْفَضِيْلَةِ وَهُوَ فِعْلُهَا اَوَّلَ الْوَقْتِ، وَالثَّانِي وَقْتُ الْاِخْتِيَارِ وَاَشَارَ لَهُ الْمُصَنِفُ بِقَوْلِهِ (وَاَخِرُهُ فِي الْاِخْتِيَارِ اِلَى ظِلِّ الْمِثْلَيْنِ)، وَالثَّالِثُ وَقْتُ الْجَوَازِ وَاَشَارَ بِقَوْلِهِ (وَفِي الْجَوَازِ اِلَى غُرُوْبِ الشَّمْسِ)، وَالرَّابِعُ وَقْتُ جَوَازٍ بِلَا كَرَاهَةٍ وَهُوَ مِنْ مَصِيْرِ الظِّلِّ مِثْلَيْنِ اِلَى الْاِصْفِرَارِ. وَالْخَامِسُ وَقْتُ التَّحْرِيْمِ وَهُوَ تَأْخِرُهَا اِلَى اَنْ يَبْقَى مِنَ الْوَقْتِ مَلَايَسَعُهَا.﯁

Bagi shalat Ashar ada 5 macam waktu yaitu :

Pertama : Waktu yang utama, yaitu mengerjakan shalat ‘Ashar diawal waktu.

Kedua: waktu ikhtiyar dan mushannif memberi petunjuk, bahwa habisnya waktu ‘Ashar dalam waktu ikhtiyar itu sampai bayangan suatu benda itu menjadi dua kali panjangnya.

Ketiga : waktu jawaz, mushannif memberi petunjuk melalui perkataannya, bahwa habisnya waktu ‘Ashar dalam waktu jawaz ini ialah sampai terbenamnya mata hari.

Keempat : waktu jawaz tanpa ada kemakruhan, yaitu mulai bayangan suatu benda menjadi dua kali panjangnya sampai ke luarnya mega kuning.

Kelima : waktu haram yaitu mengakhirkan waktu sekiranya waktu tersebut sudah tidak dapat dipergunakan untuk mengerjakan shalat ‘Ashar.

Shalat Maghrib

Demikian juga shalat maghrib dinamakan dengan penamaan tersebut, karena ditunaikannya pada waktu ghurub yakni waktu terbenamnya mata hari.

Urannya dalam Fathul qorib sebagai berikut:

﯁(وَالْمَغْرِبُ) اَيْ صَلَاتُهَا وَسُمِّيَتْ بِذَلِكَ لِفِعْلِهَا وَقْتَ الْغُرُوْبِ (وَوَقْتُهَا وَاحِدٌ وَهُوَ غُرُوْبُ الشَّمْسِ) اَيْ بِجَمِيْعِ قَرْصِهَا وَلَايَضُرُّ بَقَاءُ شُعَاعٍ بَعْدَهُ. (وَبِمِقْدَارِ مَايُؤَذِنُ) اَيْ الشَّخْصُ. (وَيَتَوَضَأُ) اَوْيَتَيَمَمُ (وَيَسْتُرُ الْعَوْرَةَ وَيُقِيْمُ الصَّلَاةَ وَيُصَلِّى خَمْسَ رَكَعَاتٍ). وَقَوْلُهُ بِمِقْدَارِ إلخ سَاقِطٌ فِي بَعْضِ نُسَخِ الْمَتْنِ. فَاِنِ انْقَضَى الْمِقْدَارُ الْمَذْكُوْرُ خَرَجَ وَقْتُهَا وَهَذَا هُوَالْقَوْلُ الْجَدِيْدُ. وَالْقَدِيْمُ وَرَجَحَهُ النَّوَوِيُّ اَنَّ وَقْتَهَا يَمْتَدُّ اِلَى مَغِيْبِ الشَّفَقِ الْاَحْمَرِ

Shalat Maghrib, dinamakan shalat Maghrib karena shalat tersebut dikerjakan pada waktu terbenamnya matahari.

Adapun waktunya shalat Maghrib itu hanya satu, yaitu mulai terbenamnya matahari secara keseluruhan dan adanya surup yang berlangsung sesudah: terbenamnya matahari itu tidak mempengaruhi.

Dan juga dengan waktu kira-kira seseorang itu melakukan adzan.

BACA JUGA :  Niat Shalat Sunnah Rawatib : Qobliyah Dan Ba’diyah Fardhu 5 Waktu

Juga sekiranya Seseorang tersebut mengambil air wudhu atau tayammum, menutupi aurat, mengerjakan qamat dan mengerjakan Shalat lima rakaat.

Perkataan mushannif dengan kata-kata “kira-kira, sampai akhir” itu menurut sebagian keterangan kitab Matan dinyatakan gugur.

Apabila telah sampai (habis) waktu perkiraan sebagaimana yang tersebut itu maka habislah waktu shalat Maghrib. Demikian ini adalah pendapat Imam Syafi’I yang baru.

Menurut pendapat Imam: Syafi’i yang dahulu (yang qadim) yang kemudian dikuatkan oleh Imam Nawawi, bahwa sesungguhnya waktu shalat Maghrib itu panjang yakni sampai terbenamnya mega merah.

Shalat ‘Isyak

Shalat tersebut dinamakan dengan nama Shalat ‘Isyak, sebab dalam pelaksanaannya pada waktu ‘isyak sebagamana dijelaskan dalam fathul-qorib:

﯁(وَالْعِشَاءُ) بِكَسْرِ الْعَيْنِ مَمْدُوْدُ اِسْمٌ لِاَوّلِ الظُّلَامِ وَسُمِّيَتْ الصَّلَاةُ بِذَلِكَ لِفِعْلِهَا فِيْهِ (وَاَوَّلُ وَقْتِهَا اِذَاغَابَ الشَّفَقُ الْاَحْمَرُ) اَمَّاالْبَلَدُ الَّذِيْ لَايَغِيْبُ فِيْهِ الشَّفَقُ فَوَقْتُ الْعِشَاءِ فِيْ حَقِّ اَهْلِهِ اَنْ يَمْضِيَ بَعْدَ الْغُرُوْبِ زَمَنٌ يَغِيْبُ فِيْهِ شَفَقٌ اَقْرَبُ الْبِلَادِ اِلَيْهِمْ.

  1. Shalat ‘Isyak, yakni dengan dibaca kasrah huruf ‘ainnya dan dibaca panjang adalah sebutan bagi permulaan keadaan gelap. Shalat itu dinamakan shalat ‘Isyak karena mengerjakannya di dalam waktu permulaaan gelap.

Adapun permulaan waktu shalat ‘Isyak yaitu ketika mulai terbenamnya mega merah.

Bagi Negara yang tidak terjadi keadaan mega merah terbenam, maka waktunya ‘Isyak itu berada di dalam hak penduduk negeri tersebut, yakni dapat dilakukan dengan memperkirakan adanya keadaan (masa) yang telah lewat sesudah terbenamnya matahari yang di situ terdapat mega merah di sekitar Negara yang terdekat dengan penduduk.

Waktu Isyak

وَلَهَا وَقْتَانِ اَحَدُهَا اِخْتِيَارٌ وَاَشَارَ لَهُ بِقَوْلِهِ (وَاَخِرُهُ) يَمْتَدُّ(فِي الْاِخْتِيَارِ اِلَى ثُلُثِ اللَّيْلِ. وَالثَّانِي جَوَازٌ وَاَشَارَ لَهُ بِقَوْلِهِ (وَفِي الْجَوَازِ اِلَى طُلُوْعِ الْفَجْرِ) اَيْ الصَّادِقِ وَهُوَ الْمُنْتَشِرُ ضَوْءُهُ مُعْتَرِضًا بِالْاُفُقِ. اَمَّاالْفَجْرُ الْكَاذِبُ فَيَطْلُعُ قَبْلَ ذَلِكَ لَامُعْتَرِضًا بِلْ مُسْتَطِيْلًا ذَاهِبًا فِيْ السَّمَاءِ ثُمَّ يَزُوْلُ وَتَعْقِبُهُ ظُلْمَةٌ وَلَا يَتَعَلُّقُ بِهِ حُكْمٌ. وَذَكَرَ الشَّيْخُ اَبُو حَامِدٍ اَنَّ لِلْعِشَاءِ وَقْتٌ كَرَاهَةٌ وَهُوَ بَيْنَ الْفَجْرَيْنِ

Bagi shalat ‘Isyak itu ada dua waktu, yakni :

Pertama : Waktu Ikhtiyar, mushannif memberi petunjuk melalui perkataannya, bahwa waktu ikhtiyar itu panjang, habisnya sampai sepertiga malam.

BACA JUGA :  Shalat Qashar : (Meringkas Yang Empat Rakaat Menjadi Dua Rakaat)

Kedua : Waktu Jawaz, juga mushannif memberi petunjuk melalui perkataannya, bahwa di dalam waktu jawaz, maka habis nya waktu shalat ‘Isyak adalah sampai terbitnya fajar  shadiq yakni sinar fajarnya terbentang secara luas di sebelah Timur.

Adapun fajar Kadzib, maka ia terbit sebelum fajar shadiq, tidak dalam posisi membentang, tetapi membujur dengan berjalan di atas langit, kemudian hilang dan menyertai keadaan gelap kepada fajar shadiq ini.

Oleh karena itu maka hukum tidak bergantung dengan fajar shadiq. Imam Abu Hamid menerangkan, bahwa bagi shalat ‘Isyak itu terdapat waktu Makruh yaitu waktu yang ada di antara fajar kadzib dan fajar shadiq.

Shalat Shubuh

Penamaan Shalat Shubuh sebagaimana diterangkan dalam Fathul-qorib:

﯁(وَالصُّبْحُ) اَيْ صَلَاتُهُ وَهُوَ لُغَةً اَوَّلُ النَّهَارِ وَسُمِّيَتْ الصَّلَاةُ بِذَلِكَ لِفِعْلِهَا فِي اَوَّلِهِ

  1. Shalat Shubuh, arti shubuh menurut bahasa ialah permulaan siang dan shalat itu dinamai dengan Shubuh karena mengerjakannya di permulaan siang.
Shalat Liama Waktu Penamaan Waktu Mengerjakannya
Shalat Liama Waktu Penamaan Waktu Mengerjakannya

Waktu Shalat Shubuh

وَلَهَا كَالْعَصْرِ خَمْسَةُ اَوْقَاتٍ. اَحَدُهَا وَقْتُ الْفَضِيْلَةِ وَهُوَ اَوَّلَ الْوَقْتِ، وَالثَّانِي وَقْتُ الْاِخْتِيَارِ وَذكره الْمُصَنِفُ فِي قَوْلِهِ (وَاَوَّلُ وَقْتِهَا طُلُوْعُ الْفَجْرِ الثَّانِي وَاَخِرُهُ فِي الْاِخْتِيَارِ اِلَى الْاَسْفَارِ وَهُوَالْاِضَاءَةُ)، وَالثَّالِثُ وَقْتُ الْجَوَازِ وَاَشَارَ له بِقَوْلِهِ(وَفِي الْجَوَازِ) اَيْ بِكَرَاهَةٍ اِلَى طُلُوْعِ الشَّمْسِ)، وَالرَّابِعُ جَوَازٌ بِلَا كَرَاهَةٍ اِلَىطُلُوْعِ الْحَمْرَةِ. وَالْخَامِسُ وَقْتُ التَّحْرِيْمِ وَهُوَ تَأْخِرُهَا اِلَى اَنْ يَبْقَى مِنَ الْوَقْتِ مَلَايَسَعُهَا

Bagi shalat Shubuh ada 5 waktu, sebagaimana shalat ‘Ashar.

Pertama : Waktu yang utama yakni di permulaan waktu shubuh.

Kedua : Waktu Ikhtiyar, mushannif menerangkan, bahwa waktu ikhtiyar ini permulaannya adalah mulai terbitnya fajar shadiq sampai dengan keluarnya remang-remang (cahaya).

Ketiga : Waktu Jawaz, Mushannif memberi isyarat melalui perkataannya, bahwa waktu jawaz dengan disertai makruh, habisnya sampai terbitnya matahari.

Keempat : Waktu jawaz tanpa ada kemakruhan, yaitu sampai dengan keluarnya mega merah.

Kelima : Waktu Haram, yaitu mengakhiri shalat, sampai dengan waktu yang sudah tidak leluasa lagi dalam mengerjakan shalatnya itu.

Demikian Shalat Lima Waktu : Penamaan Waktu Mengerjakannya – Semoga bermanfaat dan memberikan tambahan ilmu pengetahuan untuk kita semua. Abaikan saja uraia kami ini jika pembaca tidak sependapat.Terima kasih atas kunjungannya.