Bacaan Ta’awudz Dengan Keras Ketika Sholat Apa Hukumnya

Bacaan Ta’awudz Dengan Keras Ketika Sholat Apa Hukumnya – Assalaamu ‘alaikum wa rohmatullahi wa barakaatuh. Para Pembaca yang kami banggakan, Pada halaman ini fiqih.co.id akan menyambung uaraian tentang bacaan Ta’awudz surat al-fatihah dalam sholat. Bagaimana hukumnya, dan bagaimana jika bacaannya itu dijaharkan.

Daftar Isi

Bacaan Ta’awudz Dengan Keras Ketika Sholat Apa Hukumnya

Sebelum kita menguraikan tentang perihal ini terlebih dahulu mari kita ketahui dulu apa yang dimaksuid dengan jahar.

Jahar itu maksudnya adalah terdengar suara dari bacaan sholat. Jadi sholat jahar itu adalah sholat yang bacaannya terdengar seperti pada sholat magrib, isya dan shubuh.

Hukum Bacaan ta’awudz dijaharkan ketika sholat

Pengertian  Sholat Jahar ialah sholat yang bacaannya pada rokaat pertama dan kedua di situ dibaca dengan bersuara keras. Dalam hal ini Para ulama berbeda pendapat soal hukum mengeraskan bacaan ta’awudz tersebut ketika sholat Jahar.

Pendapat pertama

Pada pandangan pertama di sisni menyatakan bahwa dalam sholat Jahar disunahkan membaca ta’awudz dengan pelan (sirr). Bacaan dengan sir ini adalah pendapat ulama fikih mazhab Hanafi, sebagian pendapat ulama fikih mazhab Syafii, dan mazhab Hanbali. (Al-Furu’, 1/413; Ar-Raudhatul Murbi’, 1/17)

Dalilnya yang digunakan ialah firman Allah ‘azza wajalla, yang berbunyi;

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ

Artinya: “Dan sebutlah (nama) Rabbmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf Ayat 205)

Jadi, asalnya dari perintah untuk berzikir itu pelan, dan membaca ta’awudz itu adalah merupakan bacaan zikir yang harus dibaca pelan juga.

Pendapat kedua

Dalam Pandangan yang kedua menyatakan bahwa mengeraskan bacaan ta’awudz ketika sholat Jahar hukumnya adalah sunnah. Kata mereka permasalhannya, bacaan ta’awudz itu mengikuti bacaan al-Quran, maka dibaca Jahar sebagaimana halnya membaca ‘aamiin’. Penyampaian keterangnan ini adalah pendapat lain dalam mazhab Syafii. (Al-Majmu’, Imam an-Nawawi, 3/324; Mughnil Muhtaj, 1/156)

Pendapat ketiga

Pada Pandangan yang ketiga ini menyatakan bahwa ketika sholat Jahar, itu boleh memilih untuk mengeraskan yang melirihkan bacaan ta’awudz. Ini adalah pendapat sebagian ulama mazhab Syafi’i akan tetapi tidak ada dalil yang dikemukakan oleh pendapat yang ketiga ini.

Jadi Pendapat yang paling kuat di antara tiga pandangan tersebut di atas adalah pendapat pertama yang menyatakan bahwa tidak disunahkan mengeraskan bacaan ta’awudz dalam sholat Jahar karena dalilnya lebih kuat. Wallahu a’lam.

Kapan Waktu Membaca Ta’awudz?

Mengenai perihal kapan waktunya untuk membaca ta’awudz. Dalam hala ini ada dua pendapat ulama fikih tentang kapan waktu membaca ta’awudz itu.

Pendapat pertama

Di dalam pendapat yang pertama adalah; Waktu membaca ta’awudz itu pada setelah bacaan Istiftah dan sebelum membaca ayat al-Quran dalam sholat. Pendapat ini adalah pendapat jumhur; ulama mazhab Hanafi, sebagian mazhab Syafii, dan mazhab Hanbali. (Al-Furu’, 1/413; Al-Muqni’, 28)

Dalilnya adalah sebuah hadits riwayat dari Abu Said al-Khudhri, yang artinya; “Biasanya jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan sholat malam, beliau bertakbir kemudian membaca,

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ، وَتَعَالَى جَدُّكَ، وَلَا إِلَهَ غَيْرَكَ

Artinya: “Maha suci Engkau, ya Allah. Ku sucikan nama-Mu dengan memuji-Mu. Nama-Mu penuh berkah. Maha tinggi Engkau. Tidak ada ilah yang berhak disembah selain Engkau.”

Kemudian beliau membaca,

اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا

Artinya: “Allah Maha Besar dengan sebesar-besarnya.”

Kemudian beliau membaca,

أَعُوذُ بِاللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ

Artinya: “Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari setan yang terkutuk, dari godaan, tiupan dan bisikannya.” (HR. At-Tirmizi No. 225)

Imam Al-Haitsami dalam kitab Majma’ az-Zawaid (2/265) mengatakan, “Para perawinya Tsiqah.” Tetapi Imam an-Nawawi melemahkan hadits ini (Al-Majmu’, Imam an-Nawawi, 3/323).

Meski demikian, asy-Syaukani berpendapat, “Walaupun hadits ini banyak dikomentari, tetapi ada hadits dari jalur lain di mana sebagian hadits mengatakan sebagian yang lain.” (Nailul Authar, As-Suyuti, 198)

Pendapat kedua

Dalam pandanga yang kedua, waktu membaca bacaan ta’awudz adalah itu dibaca setelah membaca al-Quran. Ini diduga adalah pendapat mazhab Zahiri.

Dalilnya firman Allah ‘azza wajalla,

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

Artinya: “Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.” (QS. An-Nahl Ayat 98)

Pad Ayat ini menjelaskan bahwa Allah ‘azza wajalla memerintahkan untuk memohon perlindungan setelah membaca al-Quran. (Al-Mabsuth, as-Sarkhasi, 1/13)

Al-Hashil dari kedua pendapat

Jadi dari kedua pendapat di atas tersebut, pendapat yang paling kuat adalah pendapat yang pertama yang menyatakan bahwa ta’awudz itu dibaca setelah istiftah dan sebelum membaca al-Quran. Wallahu a’lam.

Hukum Membaca Ta’awudz Di Setiap Rakaat

Mengenai perihal membaca ta’awudz pada setiap roka’at ini ada dua pendapat ulama fikih. Tentang apakah membaca ta’awudz ketika membaca al-fatihah dalam sholat cukup dibaca sekali atau dibaca pada setiap rekaatnya.

Pendapat pertama

Qau pad pendapat yang pertama, bacaan ta’awudz cukup dibaca sekali pada rekaat pertama. Pandangan ini adalah pendapat ulama fikih mazhab Hanafi, dan satu riwayat di dalam mazhab Syafii dan sebagian mazhab Hanbali. (Al-Mabsuth, as-Sarkhasi, 1/13; Raudhatuth Thalibin, Imam an-Nawawi, 1/241)

Dalilnya, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu sebagai berikut;

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إذا نَهَضَ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ افْتَتَحَ الْقِرَاءَةَ بِـالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَلَمْ يَسْكُتْ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ

نيل الأوطار – الشوكاني – ج ٢ – الصفحة،  ٣٠٣

Artiny; Dari Abu Hurairah Beliau berkata; “Biasanya jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bangkit untuk pada rokaat kedua, beliau memulai dengan membaca ‘Alhamdulillahi rabbil ‘alamin’ dan tidak diam (untuk membaca ta’awudz terlebih dahulu).” (HR Muslim. Dikutip dari Nailul Authar)

Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak diam di antara takbir untuk bangkit dari ruku’ dan membaca al-Fatihah pada rekaat kedua. Ini menjadi bukti bahwa beliau tidak membaca ta’awudz ketika itu.

Apabila beliau membacanya tentu beliau akan diam sejenak, dan kalau itu dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam niscaya Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu akan menyebutkannya.

Pendapat kedua

Dalam Pendapat yang kedua, ta’awudz dibaca berulang-ulang setiap kali membaca al-Fatihah pada setiap rekaatnya. Ini adalah pendapat sebagian ulama mazhab Syafii, satu riwayat dari Ahmad, Syaikh Ibnu Taimiyah, dan Ibnu Hazm. (Al-Maughni, 1/571; Al-Kafi, 1/140)

Dalilnya, keumuman firman Allah ‘azza wajalla,

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

Artinya: “Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.” (QS. An-Nahl Ayat 98)

Jadi dalam ayat tesebut, Allah ‘azza wajalla memerintahkan membaca ta’awudz ketika ingin membaca al-Quran. Berarti Keterangan ini menuntut pengulangan ta’awudz ketika mengulang bacaan al-Quran. Dari sini lah, ta’awudz dibaca pada setiap rekaat sholat. (Al-Mughni, 1/571)

Al-hashil

Jadi al-hashil dari dua pendapat tersebut, pendapat yang paling kuat adalah pendapat pertama yang mencukupkan membaca ta’awudz pada rekaat pertama, pendapat ini argumentasinya lebih kuat. Wallahu a’lam.

Bacaan Ta’awudz Dengan Keras Ketika Sholat Apa Hukumnya
Bacaan Ta’awudz Dengan Keras Ketika Sholat Apa Hukumnya

Demikian Materin tentang;  Bacaan Ta’awudz Dengan Keras Ketika Sholat Apa Hukumnya. – Semoga bermanfaat buat para pembaca, abaikan materi ini jika pembaca kurang sependapat. Terimakasih. Wallahul-muwaffiq.