Istibra; “Meminta Bebas” Masa Menunggu Bagi Wanita Setelah Hamil

Diposting pada

Istibra; “Meminta Bebas” Masa Menunggu Bagi Wanita Setelah Hamil Materi Penting untuk dapat dipelajari oleh kita utamany para santri. Dalam artikel ini fiqih.co.id  akan menyampaikan materinya secara ringkas.

Paparan mengenai perihal perempuan yang Istibara kali ini fiqih.co.id mengutipnya dari kitab: “Fathul qoribul Mujib” pada fasal fi ahkamil Istibra. Selanjutnya mari kita langsung baca saja pada pokok pembahasan kita di bawah ini.

Istibra; “Meminta Bebas” Masa Menunggu Bagi Wanita Setelah Hamil

Kata “الْاِسْتِبْرَاءِ” menurut bahasa adalah meminta bebas, sedangkan menurut Syara’ ialah seperti yang diterangkan da;am hadits maupun fiqih.

Perihal pemaparan mengenai “الْاِسْتِبْرَاءِ” telah dipaparkan dalam fiqih. Demikian juga mengenai Pengertiannya pun dijelaskan dalam fasal tersebut. Secara ringkas mari kita sama-sama membacanya dalam uraian materi tersebut seperti yang tertulis dalam “Fathul qorib” sebagai berikut.

Istibra

Hukum maslah tersebut tertulis dalam satu fasal sbagai berikut;

فصل): فِيْ أَحْكَامِ الْاِسْتِبْرَاءِ وَهُوَ لُغَةً طَلَبُ الْبَرَاءَةِ وَشَرْعاً تَرَبُّصُ الْمَرْأَةِ مُدَّةً بِسَبَبِ حُدُوْثِ الْمِلْكِ فِيْهَا أَوْ زَوَالِهِ عَنْهَا تَعَبُّدًا، أَوْ لِبَرَاءَةِ رَحْمِهَا مِنَ الْحَمْلِ، وَالْاِسْتِبْرَاءُ يَجِبُ بِسَبَبَيْنِ أَحَدُهُمَا زَوَالُ الْفِرَاشِ، وَسَيَأْتِيْ فِيْ قَوْلِ الْمَتْنِ وَإِذَا مَاتَ سَيِّدُ أُمُّ اْلَوَلَدِ الخ

Pasal: Menerangkan tentang hukum-hukumnya Istibrak (pelunasan ). Kata “Istibrak” = (الْاِسْتِبْرَاءِ) menurut bahasanya ialah “meminta bebas”. Sedangkan menurut syarak, Istibrak ialah penantian perempuan pada suatu masa dengan sebab adanya milik baru pada perempuan Amat atau hilangnya milik dari padanya karena tujuan ibadah atau memang karena bebas rahimnya dari kandungan.

Istibrak itu hukumnya wajib dengan adanya dua perkara, Pertama : Hilangnya kemilikan. Dan yang pertama ini akan di terangkan dalam perkataan kitab Matan, dan juga perkataan “ketika telah meninggal dunia si Ummul Walad” sampai akhir.

Adanya pemilikan baru

وَالسَبَبُ الثَّانِيْ حُدُوْثُ الْمِلْكِ وَذَكَرَهُ الْمُصَنِّفُ فِيْ قَوْلِهِ (وَمَنِ اسْتَحْدَثَ مِلْكَ أمَةٍ) بِشَرَاءِ لَا خِيَارَ فِيْهِ أَوْ بِإِرْثٍ أَوْ وَصِيَةٍ أَوْ هِبَةٍ أَوْ غَيْرِ ذَلِكَ مِنْ طُرُقِ الْمِلْكِ لَهَا وَلَمْ تَكُنْ زَوْجَتُهُ (حَرُمَ عَلَيْهِ) عِنْدَ إِرَادَةِ وَطْئِهَا (الْاِسْتِمْتَاعُ بِهَا حَتَّى يَسْتَبْرِئَهَا

Kedua: Adanya pemilikan baru, dan Mushannif telah menerang kannya dalam suatu perkataan : Siapa saja memperbarui permilikan Amat dengan cara membeli tanpa ada khiyar di dalamnya atau dengan cara warisan menerima wasiat, hibbah atau selain itu dari beberapa cara pemilikan terhadapnya, sedangkan status Amat bukan isteri orang tersebut maka bagi orang (laki-laki) itu haram hukumnya bersenang senang dengan Amat itu ketika dia berkehendak mengumpulinya, sehingga orang tadi membebaskan.

Istibra Ammat Dzawatul- Haidh

إِنْ كَانَتْ مِنْ ذَوَاتِ الْحَيْضِ بِحَيْضَةٍ) وَلَوْ كَانَتْ بِكْراً وَلَوْ اِسْتَبْرَأَهَا بَائِعُهَا قَبْلَ بَيْعِهَا، وَلَوْ كَانَتْ مُنْتَقِلَّةٌ مِنْ صَبِيٍّ أَوِ امْرَأَةٍ (وَإِنْ كَانَتْ) الْأَمَةُ (مِنْ ذَوَاتِ الشُّهُوْرِ) فَعِدَّتُهَا (بِشَهْرٍ فَقَطْ وَإِنْ كَانَتْ مِنْ ذَوَاتِ الْحَمْلِ) فَعِدَّتُهَا (بِالْوَضْعِ وَإِذَا اشْتَرَى زَوْجَتُهُ سُنَّ لَهُ اِسْتِبْرَاؤُهَا)

Jika memang si Amat itu termasuk golongan perempuan yang sok haidl dengan haidl sekali saja, meskipun ia adalah perempuan masih gadis dan juga meskipun penjual Amat itu telah membebaskannya sebelum Amat tersebut terjual, dan sekalipun Amat itu pindahan statusnya dari anak kecil atau orang perempuan.

Jika si Amat itu termasuk golongan perempuan yang mempunyai iddah dengan bulanan, maka iddahnya cukup sebulan saja.  Dan jika ia termasuk golongan perempuan yang mongandung, maka iddahnya ialah dengan bersalin (melahirkan).

وَأَمَّا الْأَمَةُ الْمُزَوَّجَةُ أَوِ الْمُعْتَدَّةُ إِذَا اشْتَرَاهَا شَخْصٌ، فَلَا يَجِبُ اِسْتِبْرَاؤُهَا حَالاً فِإِذَا زَالَتْ الزَّوْجِيَةُ وَالْعِدَّةُ كَأَنْ طُلِّقَتْ الْأَمَةُ قَبْلَ الدُّخُوْلِ أَوْ بَعْدَهُ، وَانْقَضَتْ الْعِدَّةُ وَجَبَ الْاِسْتِبْرَاءُ حِيْنَئِذٍ

Apabila orang laki-laki membeli isteri orang yang menjadi Amat, maka sunnah baginya untuk membebaskannya.  Adapun Amat yang mempunyai suami atau Amat yang sedang berada dalam keadaan Iddah , ketika seseorang memmbeli kepada Amat tersebut, maka wajib hukumnya untuk membebaskannya seketika itu.

Ketika telah hilang sifat perjodohannya dan hilang pula Iddahnya, seperti sekiranya Amat itu tertalak sebelum terjadi jimak atau sesudah terjadi dan habislah masa Iddah, maka wajib hukumnya membebaskan ketika dalam keadaan yang demikian itu.

Tuan dari Amat ummul Walad Meninggal

وَإِذَا مَاتَ سَيِّدُ أُمِّ الْوَلَدِ) وَلَيْسَتْ فِيْ زَوْجِيَّةٍ وَلَا عِدَّةِ نِكَاحٍ (اِسْتَبْرَأَتْ) حَتْماً (نَفْسَهَا كَالْأَمَةِ) أَيْ فَيَكُوْنُ اِسْتِبْرَاؤُهَا بِشَهْرٍ  إِنْ كَانَتْ مِنْ ذَوَاتِ الْأَشْهُرِ، وَإِلَّا فَبِحَيْضَةٍ إِنْ كَانَتْ مِنْ ذَوَاتِ الْأَقْرَاءِ وَلَوِ اسْتَبْرَأَ السَّيِّدُ أَمَتَهُ الْمَوْطُوْءَةَ، ثُمَّ أَعْتَقَهَا فَلَا اِسْتِبْرَاءَ عَلَيْهَا، وَلَهَا أَنْ تَتَزَوَّجَ فِيْ الْحَالِ

Apabila si Tuan dari Amat ummul Walad telah mati dan baginya tidak ada sifat perjodohan dan tidak dalam Iddah suatu pernikahan, maka wajib membebaskan kepada dirinya seperti halnya Amat.  Artinya bahwa pengistibraan si Amat itu dengan satu bulan, jika memang ia termasuk perempuan yang mempunyai Iddah bulanan. Jika tidak termasuk, maka dengan sekali haidl bila memang ia termasuk perempuan yang mempunyai Iddah sucian.

Dan jika sang Tuan mengistibrak kan Amatnya yang diwati (dijimak) kemudian dia membebaskannya, maka status istibraknya (pembebasannya) adalah tidak wajib hukumnya, dan boleh bagi Amat untuk melakukan perkawinan seketika itu.

Istibra
Istibra

Demikian Materi tentang ; Istibra; “Meminta Bebas” Masa Menunggu Bagi Wanita Setelah Hamil mudah-mudahan saja materi yang sesingkat ini dapat difahami oleh para pembaca. Mohon abaikan saja bila dalam materi tersebut tidak sefaham dengan para pembaca. Terimaksih kami ucapka atas kunjungannya.