Keutamaan Shalat Sunnah Fajar, Pengertian Dan Dalilnya

Keutamaan Shalat Sunnah Fajar, Pengertian Dan Dalilnya – Pembaca Dutadakwah kali ini akan menerangkan tentang Keutamaan shalat Sunnah fajar. Ada beberapa orang yang mengartikan bahwa shalat sunnah fajar itu bukan shalat sunnah kobliyah shubuh. Ada juga yang memberikan Pengertian bahwa shalat sunnah fajar itu adalah shalat sunnah qobliyah shubuh.

Daftar Isi

Keutamaan Shalat Sunnah Fajar, Pengertian Dan Dalilnya

Mengingat pentingnya untuk dimengerti mengenai shal sunnah faja atau shalat qobliyah shubuh. Maka In Syaa Allah sesuai tema akan kami sampaikan beberapa keterang terkait dengan keutamaan shalat fajar.

Mukadimah

السّلام عليكم ورحمة الله وبركاته 

الْحَمْدُ للهِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ  (وَ بَعْدُ

Puji dan syukur selalul kita panjatkan ke hadhirat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah yang wajib dipuji dan dipuja diibadahi. Shalwat teriring salam senantiasa kita sanjung agungkan buat baginda nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam. Pembaca yang kami banggakan agar segera kita ketuhui apa saja keutamaan shalat fajar, maka mari kita simak penjelasannya di bawah ini.

Keutamaan Sholat Sunnah Fajar

Adapun keistimewaan shalat sunnah fajar itu adalah sangat luar biasa dibanding dengan shalat sunnah yang lainnya. Shalat Sunnah fajar mempunyai keistimewaan yang berbeda dibandingkan dengan shalat sunnah yang lainnya. Shalat Sunnah fajar tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah shollallahu ‘laihi wa sallam. Keutamaan Shalat Sunnah Fajar adal bernialai mempunyai kebaikan disbanding dengan dunia dan seisinya. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan sebagai berikut:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ قَالَ: رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرُ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا، رَوَاهُ مُسلِمٌ. وِفِيْ رِوَايَةٍ: لَهُمَا أَحَبُّ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا جَمِيْعًا

Artinya: Dari Aisyah radhiallahu ‘anha pula dari Nabi s.a.w., sabdanya: “Dua rakaat sunnah fajar – yakni sebelum Subuh – adalah lebih baik nilainya daripada dunia dan apa saja yang ada di dalamnya ini -yakni dunia dan seisinya”. (Riwayat Muslim).  Dalam riwayat lain disebutkan: Nabi shollallahu ’alaihi wa sallam. bersabda: “Niscayalah kedua rakaat sebelum Subuh itu lebih saya cintai daripada dunia seluruhnya ini” . (kutipan dari Kitab Riyadhus Sholihin Bab 196, halaman: 287, Bab: 197 no hadits: 1099)

Shalat Sunah Yang Tak Ternialai Besar Pahalanya

Di antara sholat-sholat sunnah rawatib, Yakni qobliyah dan ba’diyah yang lima waktu, Shalata Sunnah Fajarlah yang paling takternilain besarnya pahala. Sebagaimana telah kami terangka di atas melalui hadits nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam.

Shalat Sunnah fajar itu adalah shalat sunnah qobliyah shubuh. Sebab shalat sunnah fajar belum masuk waktunya kecuali kalau sudah terbit fajar. Adapun terbitnya fajar shidiq itu adalah awal masuknya waktu shubuh.

Pengertian Shalat Sunnah fajar

Shalat Sunnah Fajar Dan Shalat Sunnah Qobliyah Shubuh, itu  aslinya sih menurut kami dua penamaan tapi satu maksud (satu makna). Akan tetapi kami menghormati dengan adanya beberapa orang yang memahami bahwa shalat sunnah fajar dengan shalat sunnah qobla shubuh itu dianggap berbeda. Diantara mereka ada yang mengerjakan shalat sunnah fajar setelah selesai adzan shubuh. Lalu sesudah dua rak’at sunnah fajar, kemudian dia bangkit lagi dengan niat shalat sunnah shubuh.

Hukum Dua Kali Shalat Sunah sebelum Shubuh

Ada Yang Melakukan Empat Raka’at Dua Kali Salam, dengan niat yang berbeda. Kemudian perbuatan seperti yang tersebut itu bagaimana hukumnya?. Jawaban kami adalah sebagai berikut:

  1. Jika merasa ragu, maka boleh dilakukan dengan empat raka’at dua kali salam, selama tidak menggangu shalat wajib. Toh walaupun melaksanakan shalat sunnah lebih dari itu pun tidak akan sia-sia selama tidak mengganggu waktu wajib.
  2. Allah saja lah yang akan memisahkannya sudah pasti tidak akan salah. Sama halnya dengan kita sudah shalat dzuhur di rumah secara munfarid, kemudian ternyata di masjid baru diiqamati shalat berjamaah, lalu kita ikut lagi shalat berjamaah di Masjid, padahal sudah shalat di rumah. Jadi Secara Otomatis Shalat yang munfarid di rumah tadi akan bernilai shalat sunnah yang besar sekali pahalanya. Sedangkan Shalat wajib yang akan Allah nialai adalah shalat yang berjam’ah di Masjid yang 27 derajat pahalanya.
  3. Abaikan saja jawaban ini bagi saudara pembaca yang tidak sependapat. Wallahu a’lam bimurodihi.

Dalil Sholat Sunnah Fajar

Sebagaiman telah dijelaskan dalam sabda Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam.

عن عائشة رَضِيَ اللَّهُ عَنها أن النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم كانَ لا يَدَعُ أرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ، ورَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الغَدَاةِ. رَوَاهُ البُخَارِيُّ

Artinya: Dari Aisyah radhiallahu ‘anha bahawasanya Nabi s.a.w. itu tidak meninggalkan shalat sunnah empat rakaat sebelum Zuhur dan dua rakaat sebelum Subuh”. (Riwayat Bukhari) kutipan dari Kitab Riyadhus Sholihin Bab Ta’kidi Rok’atay sunnati shubhi, halaman: 287, no hadits: 1097.

Dalil Pentingnya Shalat Sunnah Fajar

Dua Raka’at Shalat Sunnah Fajar, bagi Rasulullah Shollahu ‘alaih wasallam itu sangat Istimewa. Sebagaimana diterangka oleh Siti Aisyah Radiyallahu ‘anha:

وَ عَنْهَا رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: لَمْ يَكُنْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى شَيْءٍ مِنْ النَّوَافِلِ أَشَدَّ مِنْهُ تَعَاهُدًا عَلَى رَكْعَتَيْ الْفَجْر، متفق عليه

Artinya: Dari Aisyah radhiallahu ‘anha pula, katanya: “Tidak ada sesuatu amalanpun dari golongan amalan-amalan sunnah yang lebih dikerjakan oleh Nabi s.a.w. melebihi dua rakaat sholat sunnah fajar,  yakni dua rakaat sebelum shalat Subuh”. (Muttafaq ‘alaih) kutipan dari Kitab Riyadhus Sholihin Bab Ta’kidi Rok’atay sunnati shubhi, halaman: 287, no hadits: 1098.

Dalam Keadaan Apapun Rasul Selalu Melakukan Shalat Sunnah Fajar

وَعَنْ أَبِيْ عَبْدِ اللَّهِ بَلَالِ بْنِ رَبَاحٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ مُؤَذِّنِ رَسُوْلِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم أَنَّهُ أَتَى رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم لِيُؤَذِنَهُ بِصَلَاةِ الْغَدَاةِ فَشَغَلَتْ عَائِشَةُ بِلَالاً بِأَمْرٍ سَأَلَتْهُ عَنْهُ حَتَّى أَصْبَحَ جِدًّا، فَقَامَ بِلَالٌ فَآذَنَهُ بِالصَّلَاةِ وَتَابَعَ أَذَانَهُ، فَلَمْ يَخْرُجْ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم، فَلَمَّا خَرَجَ صَلَّى بِالنَّاسِ، فَأَخْبَرَهُ أَنَّ عَائِشَةَ شَغَلَتْهُ بِأَمْرِ سَأَلَتْهُ عَنْهُ حَتَّى أَصْبَحَ جِدًّا وَأَنَّهُ أَبْطَأَ عَلَيْهِ بِالْخُرُوْجِ. فَقَالَ (يَعْنِي النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم) إِنِّيْ كُنْتُ رَكَعْتُ رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ، فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللَّهِ إِنَّكَ أَصْبَحْتَ جِدًّا. قَالَ: لَوْ أَصْبَحْتُ أَكْثَرَ مِمَّا أَصْبَحْتُ لَرَكَعْتُهُمَا وَأَحْسَنْتُهُمَا وَأَجْمَلْتُهُمَا، رَوَاهُ أبُو دَاوُدَ بإسناد حسن

Artinya: Dari Abu Abdillah iaitu Bilal bin Rabah r.a., juru adzan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam, bahawasanya ia mendatangi Rasulullah s.a.w. untuk memberitahukannya dengan masuknya shalat Subuh.

Kemudian Aisyah mempersibukkan Bilal dengan sesuatu urusan yang ditanyakan oleh Aisyah kepada Bilal itu, sehingga waktu pun menjadi pagi sekali.

Selanjutnya Bilal berdiri lalu memberitahukannya dengan masuknya waktu shalat dan beliau shollallahu ‘alaihi wa sallam, mengikuti pemberitahuannya itu.

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam, belum lagi keluar. Setelah beliau s.a.w. keluar, lalu beliau shollallahu ‘alaihi wa sallam, bersembahyang dengan orang banyak.

Bilal kemudian memberitahukan kepada beliau s.a.w. bahawa Aisyah mempersibukkan dirinya dengan sesuatu perkara yang ditanyakan padanya, sehingga waktunya menjadi pagi sekali dan Nabi s.a.w. terlambat keluarnya. Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam, lalu bersabda: “Sesungguhnya saya tadi melakukan sembahyang dua rakaat fajar-sebelum Subuh”. Bilal berkata: “Ya Rasulullah, Tuan tadi sudah berpagi-pagi sekali”. Beliau shollallahu ‘alaihi wa sallam, menjawab: “Andaikata saya berpagi-pagi lebih daripada pagi tadi, niscayalah saya akan melakukan dua rakaat dan saya perbaguskan serta saya perindahkan lagi”. 

Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad hasan. (kutipan dari Kitab Riyadhus Sholihin Bab Ta’kidi Rok’atay sunnati shubhi, halaman: 287, no hadits: 1100)

Untuk Peraktek Shalat Sunnah Fajanya Antum Baca saja pada link yang ini : ⇒ Shalat Sunnah Fajar

Keutamaan Shalat Sunnah Fajar, Pengertian Dan Dalilnya
Keutamaan Shalat Sunnah Fajar, Pengertian Dan Dalilnya

Demikianlah penjelasan ringkas tentang Keutamaan Shalat Sunnah Fajar, Pengertian Dan Dalilnya –  Semoga dapat bermanfaat dan menambah wawasan. Mohon abaikan saja uraian kami ini bila pembaca tidak sependapat dengan kami. Terimakasih atas kunjungannya. Wallahu ‘alam bish-showab.