Meninggalkan Shalat ; Pada Perkara Tersebu Terdapa Dua Bagian

Meninggalkan Shalat ; Pada Perkara Tersebu Terdapa Dua Bagian Hukum Meninggalkan Sholat dalam uraian singkat yang termaktub dalam salahsatu fan Fiqih.

Pada artikel ini fiqih.co.id  akan menerangkan secera singkat dalam satu fasal yuang menjelaskan tentang Tarikush sholat. Tarikush sholat di sini yang dimaksudkan adalah tarikush sholat al-maktubah yakni al-mafrudhah.

Daftar Isi

Meninggalkan Shalat ; Pada Perkara Tersebu Terdapa Dua Bagian

Tarikush sholat atau “Orang yang ninggalkan sholat maktubah” ini ada yang dianggap sama seperti orang murtad, da nada juga yang diperintahkan harus bertaubat.

Terkai dengan perkara Tarikush sholat, bila dilihat dari beberapa jalur keterangan tentang wajibnya sholat maka berat sekali derita yang akan ditanggungnya oleh si Tarikush sholat.

Meninggalkan Shalat

Berikut ini ialah fasal yang menerangkan mengenai Tarikush sholat “Orang yang meninggalkan sholat al-mafrudhah”  yakni ia seorang muslim yang tidak menunaikan salahsatu rukun islam, berikut ini kutipan fasalnya;

فصلٌ: وَ تَارِكُ الصَّلَاةِ) الْمَعْهُوْدَةِ الصَّادِقَةِ بِإِحْدَىِ الْخَمْسِ (عَلَى ضَرْبَيْنِ

Pa s a l : Orang yang meninggalkan shalat yang sudah dijanjikan yaitu yang menyangkut salah satu dari shalat lima waktu adalah terbagi menjadi dua macam.

Dua Macam Tarikush Sholat

Diterangkan dalam fathul qorib sebagai berikut;

أَحَدُهُمَا أَنْ يَتْرُكَهَا) وَ هُوَ مُكَلَّفٌ (غَيْرُ مُعْتَقِدٍ لِوُجُوْبِهَا فَحُكْمُهُ) أَيْ التَّارِكِ لَهَا (حُكْمُ الْمُرْتَدِّ) وَسَبَقَ قَرِيْباً بَيَانُ حُكْمِهِ

  1. Jika orang tersebut (yang sudah berakal sehat dan sudah dewasa) meniggalkan shalat tanpa beri’tikad akan wajibnya melakukan shalat, maka hukumnya orang yang meninggalkan shalat itu seperti orang Murtad. dan (hukum orang Murtad ini) baru saja lewat keterangannya.

Macam yang kedua Tarikush sholat

وَ الثَّانِي أَنْ يَتْرُكَهَا كَسْلاً) حَتَّى يَخْرُجَ وَقْتُهَا حَالَ كَوْنِهِ (مُعْتَقِداً لِوُجُوْبِهَا فَيُسْتَتَابُ فَإِنْ تَابَ وَصَلَّى وَهُوَ تَفْسِيْرُ لِلتَّوْبَةِ) (وَإِلَّا) أَيْ وَإِنْ لَمْ يَتُبْ (قُتِلَ حَدّاً) لَا كُفْراً (وَكَانَ حُكْمُهُ حُكْمُ الْمُسْلِمِيْنَ) فِيْ الدَّفْنِ فِيْ مَقَابِرِهِمْ، وَلَا يُطْمَسُ قَبْرُهُ، وَلَهث حُكْمُ الْمُسْلِمِيْنَ أَيْضاً فِيْ الْغُسْلِ وَالتَّكْفِيْنِ وَالصَّلَاةِ عَلَيْهِ والله أعلم

  1. Orang tersebut meninggalkan shalat karena malas, sehingga habis waktu shalat dan dia sendiri beriktikad akan wajibnya melakukan shalat, maka si Tarik (yang meninggalkan shalat) diperintahkan bertaubat, jika bertaubat dan terus melakuukan shalat (sebagai kenyataan taubatnya) maka sebenarnya (dimaafkan), jika tidak bersedia untuk bertaubat, maka dia harus dibunuh dengan bentuk had, dan hukumannya adalah hukum orang-orang islam (artinya dia tetap termasuk orang islam).dalam kaitannya dengan penanaman (dikebumikan) dikuburan-kuburan kaum muslimin, dan juga tidak boleh dibinasakan kuburnya. Demikian pula baginya berlaku hukum orang-orang Islam, seperti dalam hal dimandikan, dikafani dan dishalatinya. (Wallahu A’lam).

Adapun mengenai hukum-hukumnya bagi orang yang tarikush sholat ini maka akan diterangkan pada fasal berikutnya secara khusus di luar Kitabil Hudud.

Meninggalkan Shalat
Meninggalkan Shalat

Demikian Materi tentang ; Meninggalkan Shalat ; Pada Perkara Tersebu Terdapa Dua Bagian semoga saja materi yang sesingkat ini dapat difahami oleh para pembaca. Mohon abaikan saja bila dalam materi tersebut tidak sefaham dengan para pembaca. Terimaksih kami ucapka atas kunjungannya.