Rukun Shalat : Menurut Dalam Fathul Qorib Ada 18 (2)

Rukun Shalat : Menurut Dalam Fathul Qorib Ada 18 (2) – Pada kesemptan ini Fiqih.co.id akan melanjutkan tentang Rukun-rukun Shalat Menurut Fiqih. Dan uraian berikut ini merupakan lanjutan dari Rukun shalat bagian (1) yasng kami kutip dari faiqih Fathul qorib.

Daftar Isi

Rukun Shalat : Menurut Dalam Fathul Qorib Ada 18 (2)

Adapu Uraian Rukun Shalat (2) yang kami sampaikan di sini, ialah mulai dari rukun shalat yang ketujuh.

Mukodimah

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ تَبَرُكًا بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ،  وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ الْكَرِيْمِ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ

Para Pembaca Kaum Muslimiin muslimat, mukminiin mukminat dan Para Santri, Rahimakumllah. Dalam pembahasan berikuit ini kami sengeja memisahkan halaman agar pembaca tidak terlalu jenuh.

Oleh karena itu ma’afkan kami jika uraian kami ini tidak berkenan. Baik mari kita lanjut membaca dan mempelajari rukun shalat yang lenajutnya:

Rukun Shalat Ketujuh & Kedelapan

وَ) السَّابِعُ (الرَّفْعُ) مِنَ الرُّكُوْعِ (وَالْاِعْتِدَالُ) قَائِماً عَلَى الْهَيْئَةِ الَّتِي كَانَ عَلَيْهَا قَبْلَ رُكُوْعِهِ مِنْ قِيَامٍ قَادِرٍ وَقُعُوْدٍ عَاجِزٍ عَنِ الْقِيَامِ (وَ) الثَّامِنُ (الطُمَأْنِيْنَةُ فِيْهِ) أي الْاِعْتَدَالِ)

Ketujuh: Bangun dari ruku’ dan i’tidal dengan berdiri menurut keadaan orang itu sebelum ia mengerjakan ruku’. Yakni berdirinya orang yang mampu dan duduknya orang tidak mampu berdiri.

Kedelapan: Thuma’ninah di dalam i’tidal.

Rukun Shalat Kesembilan

﯁(وَ) التَّاسِعُ (السُجُوْدُ) مَرَتَيْنِ فِيْ كُلِّ رَكْعَةٍ، وَأَقَلُّهُ مُبَاشَرَةُ بَعْضِ جُبْهَةِ الْمُصَلِّي مَوْضِعَ سُجُوْدِهِ مِنَ الْأرْضِ أوْ غَيْرِهَا، وَأكْمَلُهُ أنْ يُكَبِّرَ لِهُوِيِّهِ لِلسُّجُوْدِ بِلَا رَفْعِ يَدَيْهِ، وَيضَعُ رُكْبَتَيْهِ ثُمَّ يَدَيْهِ ثُمَّ جُبْهَتَهُ وَأنْفَهُهُ

Kesembilan: Sujud dua kali dalam masing masing rakaat paling sedikit sujud itu ialah bertemunya sebagian keningnya orang yang shalat pada tempat sujud dari bumi atau lainnya.

Sujud yang paling sempurna yaitu ketika dalam keadaan turun dengan membaca takbir tanpa mengangkat kedua tangan. Dua lututnya diletakkan terlebih dahulu, kemudian disusul dengan kedua telapak tangan, lalu kening dan hidungnya.

Rukun Shalat Kesepuluh

﯁(وَ) الْعَاشِرُ (الطُمَأْنِيْنَةُ فِيْهِ) أي السُّجُوْدِ بِحَيْثُ يَنَالُ مَوْضِعَ سُجُوْدِهِ ثِقَلَ رَأْسِهِ، وَلَا يَكْفِي إمْسَاسُ رَأْسِهِ مَوْضِعَ سُجُوْدِهِ، بَلْ يَتَحَامَلُ بِحَيْثُ لَوْ كَانَ تَحْتَهُ قَطْنٌ مَثَلاً لَانْكَبَسَ، وَظَهَرَ أثَرُهُ عَلَى يَدٍ لَوْ فُرِضَتْ تَحْتَهُ

Kesepuluh: Thuma’ninah dalam sujud, yaitu sekiranya orang yang sujud itu dapat menempatkan keningnya pada tempat sujud menurut kadar beratnya kepala.

Tidak boleh hanya sekedar menempelkan kepalanya pada tempat sujud. Tetapi hendaknya menekankan sehingga umpama di bawahnya itu ada benda semacam kapas, maka kapas tersebut dekik dan tampak nyata bekasnya di atas tangan. Hal ini jika seandainya dapat diperkirakan tangan itu berada di bawah kapas.

Keterangan Tentang Sujud:

  1. Bagi orang yang sujud, meskipun hanya sebentar, hendaknya diperhatikan supaya keningnya ditekankan pada tempat sujud.
  2. Agar diperhatikan supaya jangan sampai pada kening yang dibuat sujud itu terdapat benda-benda yang dapat memisahkan antara kulit kening dengan tempat sujud. Misalnya rambut kepala yang menempel dan sebagainya, sebab hal ini dapat menjadikan tidak shah sujudnya.

Jika tidak shah sujudnya maka otomatis tidak shah pula shalatnya. Kecuali bila memang benda yang terpaksa, misalnya adanya perban pembalut karena luka pada kening yang kebetulan sebagai tempat sujud, atau pula adanya rambut yang tumbuh di tempat itu maka yang demikian ini tidak berakibat membawa tidak shahnya shalat.

Rukun Shalat Kesebelas

﯁(وَ) الْحَادِيَ عَشَرَ (الْجُلُوْسُ بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ) فِيْ كُلِّ رَكْعَةٍ سَوَاءٌ صَلَّى قَائِماً أوْ مُضْطَجِعاً، وَأقَلُهُ سُكُوْنٌ بَعْدَ حَرَكَةِ أعْضَائِهِ، وَأكْمَلُهُ الزِيَادَةُ عَلَى ذَلِكَ بِالدُّعَاءِ الْوَارِدِ فِيْهِ، فَلَوْ لَمْ يَجْلِسْ بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ، بَلْ صَارَ إلَى الْجُلُوْسِ أقْرَبَ لَمْ يَصِحْ

Kesebelas: Duduk di antara dua sujud dalam tiap-tiap rakaat, baik orang itu shalat dengan berdiri, duduk

atau berbaring. Paling tidak duduk di antara dua sujud ini adalah sekedar berdiam sesudah bergeraknya beberapa anggauta badan. Sedangkan yang lebih sempuma yaitu dengan menambah lebih dari itu dengan membaca doa yang sudah lazim berlaku.

Jika seandainya orangyang shalat itu tidak menunaikan rukun duduk di antara dua sujud, tetapi dia langsung duduk yang lebih dekat dengan selesainya shalat, maka shalatnya tidak shah.

Rukun Shalat Keduabelas dan Ketigabelas

وَ) الثَانِيَ عَشَرَ (الطُمَأْنِيْنَةُ فِيْهِ) أي الْجُلُوْسِ بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ (وَ) الثَالِثَ عَشَرَ (الْجُلُوْسُ الْأخِيْرُ) أي الَّذِيْ يَعْقِبُهُ السَّلَامُ)

Keduabelas: Thuma’ninah di dalam duduk di antara dua sujud. Ketigabelas: Duduk yang terakhir, yaitu duduk yang mengiringi salam.

Rukun Shalat Keempatbelas

﯁(وَ) الرَّابِعَ عَشَرَ (التَشَهُدُ فِيْهِ) أيْ الْجُلُوْسِ اْلأخِيْرِ وأقَلُ التَّشَهُدِ التَّحِيَّاتُ لِلّٰهِ سَلَامٌ عَلَيْكَ أيُّهَا النَّبِيُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ سَلَامٌ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ، أشْهَدُ أنْ لَا إلَهَ إلاَّ اللهُ وَأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً رَّسُوْلُ اللهِ

  1. Membaca ‘Tahiyyat dalam duduk yang terakhir, bacaan Tahiyyat tersebut, paling tidak adalah sebagai berikut :

التَّحِيَّاتُ لِلّٰهِ سَلَامٌ عَلَيْكَ أيُّهَا النَّبِيُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ سَلَامٌ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ، أشْهَدُ أنْ لَا إلَهَ إلاَّ اللهُ وَأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً رَّسُوْلُ اللهِ

Tasyahud yang paling sempurna adalah

التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلهِ السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

Rukun Shalat Kelimabelas

﯁(وَ) الْخَامِسَ عَشَرَ (الصَّلَاةُ عَلَى النَّبِيِّ فِيْهِ) أيْ الْجُلُوْسِ الْأخِيْرِ بَعْدَ الْفِرَاغِ مِنَ التَّشَهُدِ، وَأقَلُ الصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَأشْعَرَ كَلَامُ الْمُصَنِفِ أنَّ الصَّلَاةَ عَلَى اْلآلِ لَا تَجِبُ وَهُوَ كَذَلِكَ بَل هِيَ سُنَّةٌ

  1. Membaca shalawat Nabi sholallahu ‘alaihi wa sallam. di dalam duduk terakhir sesudah selesai membaca Tahiyyat. Adapun bacaan shalawat Nabi tersebut paling tidak adalah sebagai berikut :

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ  Perkataan mushannif telah memberikan pengertian, bahwa sebagian shalawat atas keluarga Nabi (yakni membaca وعلى آل) adalah tidak wajib hukumnya, tetapi sunnah.

Rukun Shalat Keenambelas

﯁(وَ) السَادِسَ عَشَرَ (التَّسْلِيْمَةُ اْلأُوْلَى) وَيَجِبُ إيْقَاعُ السَّلَامِ حَالَ الْقُعُوْدِ وَأقَلُهُ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ مَرَةً وَاحِدَةً، وَأكْمَلُهُ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ مَرَتَيْنِ يَمِيْناً وَشِمَالاً

  1. Membaca salam yang pertama : wajib menjatuhkan salam yang pertama ini ketika masih dalam keadaan duduk. Paling tidak bacaan salam tersebut ialah : السَّلَامُ عَلَيْكُمْ sekali saja. Sedangkan yang sempurna ialah : السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ dua kali (yakni satu kali dengan menengok ke kanan dan satu kali lagi menengok ke kiri).
Rukun Shalat Menurut Dalam Fathul Qorib Ada 18 (2)
Rukun Shalat Menurut Dalam Fathul Qorib Ada 18 (2)

Uraian Rukun Shalat ini masih belum selesai. Adapuhn selanjutnya adalah Rukun Shalat yang ketujuhbelas sampai dengan yang kedelapanbelas bersambung ke halaman link berikut ini : Rukun Shalat : Menurut Dalam Fathul Qorib Ada 18 (3)

Demikian Rukun Shalat : Menurut Dalam Fathul Qorib Ada 18 (2) – Semoga bermanfaat dan memberikan tambahan ilmu pengetahuan untuk kita semua. Abaikan saja uraia kami ini jika pembaca tidak sependapat.Terima kasih atas kunjungannya.