Sumpah Ila’ ; Hukum dan Penjelasannya Menurut Syara’

Diposting pada

Sumpah Ila’ ; Hukum dan Penjelasannya Menurut Syara’ Dalam Fasal ini juga tidak kalah pentingnya utuk kita fahami. fiqih.co.id  akan menguraikannya menganai hal tersebut secara ringkas.

Pada uraian kali ini kami akan mengutipnya dari kitab fiqih yang kecil tapi medasar yaitu : “Fathul qoribul Mujib” dalam fasal fibatyani ahkami ila’. Untuk lebih terangnya mari kita langsungsaj pada poko pembahasan kita kali ini.

Sumpah Ila’ ; Hukum dan Penjelasannya Menurut Syara’

Dalam perihal ila’ atau (ilak), baik maksud juga Hukumnya ini penting untuk dapat kita ketahu dan kita pelajari serta difahammi. Dalam sebuah kitab kecil  “Fathul qoribul mujib”.

Telah diteranmgkan khususu dalam satu fasal menerangkan masalah Ila’. Perihala ini juga adalah ada hubungannya dengan uraian sebelumnya yaitu mengenai talak. Nah untuk lebih terangnya langsung saja kita baca kutipan dari kitab fathul qorib sebagai berikut;

Sumpah Ila’

Penjelasan tentang hukum ila’ menurut lughot dan menurt syara’ tertulis dalam fiqih seperti berikut:

فصل): فِيْ بَيَانِ أَحْكَامِ الْإِيْلَاءِ وَهُوَ لُغَةً مَصْدَرٌ آلَى يُؤْلِيْ إِيْلَاءً إِذَا حَلَفَ وَشَرْعاً حَلْفُ زَوْجِ يَصِحُّ طَلَاقُهُ لِيَمْتَنِعَ مِنْ وَطْءِ زَوْجَتِهِ فِيْ قُبُلِهَا مُطْلَقاً، أَوْ فَوْقَ أَرْبَعَةِ أَشْهُرٍ، وَهَذَا الْمَعْنَى مَأْخُوْذٌ مِنْ قَوْلِ الْمُصَنِّفِ

Pasal : Menerangkan tentang hukurn-hukurmnya sumpah Ilak. Adapun kata : “Ilak” (إٍيْلًاءْ) menurut bahasa adalah masdar (invinitif ) kata “Aa-laa Yuu-1ii _Ialaan” (أَلَٰى،  يُوْلِيْ،   إٍيْلًاءً ) berMakna’ “ketika seseorang bersumpah”.

Sedangkan menurut ·syarak yaitu sumpah sang suami yang sah status talaknya, karena untuk mencegah dari berbuat jimak isterinya di dalam fagina secara mutlak, atau waktu lebih dari empat bulan dan inilah makna yang diambil dari perkataan Mushannif

Ketika Suami Sudah Berseumpah

Sumpah suami ini berkaitan dengan hubungan badan. Dijelaskan dalam fiqih sebagai berikut;

وَإِذَا حَلَفَ أَنْ لَا يَطِأَ زَوْجَتَهُ) وَطْأً (مُطْلَقاً أَوْ مُدَّةَ) أَيْ وَطْأً مُقَيِّداً بِمُدَّةٍ (تَزِيْدُ عَلَى أَرْبَعَةِ أَشْهُرٍ فَهُوَ) أَيْ الْحَالِفُ الْمَذْكُوْرِ (مُوْلٍ) مِنْ زَوْجَتِهِ سَوَاءٌ حَلَفَ بِاللهِ تَعَالَى أَوْ بِصِفَةِ مِنْ صِفَاتِهِ أَوْ عَلَّقَ وَطْءَ زَوْجَتِهِ بِطَلَاقٍ، أَوْ عِتْقٍ كَقَوْلِهِ : إِنْ وَطَئْتُكِ فَأَنْتِ طَالِقٌ، أَوْ فَعَبْدِيْ حُرٌّ فَإِذَا وَطِىءَ طُلِّقَتْ وَعَتَقَ الْعَبْدُ 

Dan ketika sang suami bersumpah untuk tidak menggauli (jimak) kepada isterinya secara mutlak (selama waktu tidak tertentu) atau pada suatu waktu saja. atau pula dengan jimak yang diikat dengan waktu tertentu yang lebih dari 4 bulan.

Orang yang bersumpah tersebut adalah orang yang sumpah ilak dari isterinya, baik dia bersumpah dengan menyebut nama Allah atau menyebut salah satu sifat dari beberapa sifat Nya atau pula menggantungkan jimak isterinya dengan Talak atau membebaskan budak, seperti ucapan sang suami :

“Jika aku menjimak mu, maka jadilah engkau perempuan yang tertalak” atau jadilah budakku sebagai orang merdeka” maka ketika dia melakukan jimak, jadi tertalaklah si isteri itu dan bebaslah status budak tersebut.

Termasuk Juga Sumpah Ila’

Demikian juga masuk pada hukum sunmpah ila’ bagi suami yang berucap ; “kalau kuhub badan denganmu maka bagi Allah wajiblah atasku berpuasa”. Hala ini deterangkan dalam fiqih sebagai berikut;

وَكَذَا لَوْ قَالَ إِنْ وَطَئْتُكِ فَلِلَّهِ عَلَيَّ صَلَاةٌ أَوْ صَوْمٌ أَوْ حَجٌّ أَوْ عِتْقٌ، فَإِنَّهُ يَكُوْنُ مُوْلِياً أَيْضاً (وَيُؤَجِّلُ لَهُ) أَيْ يُمْهَلُ الْمُوْلِي حَتْماً حُرًّا كَانَ أَوْ عَبْداً فِيْ زَوْجَةٍ مُطِيْقَةٍ لِلْوَطْءِ (إِنْ سَأَلَتْ ذَلِكَ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ) وَابْتِدَاؤُهَا فِيْ الزَّوْجَةِ مِنَ الْإِيْلَاءِ وَفِيْ الرَّجْعِيَّةِ مِنَ الرَّجْعَةِ

Demikian pula bila dia berkata : “Jika aku menjimakmu, maka bagi Allah wajib atas diriku shalat, puasa, haji atau membebaskan budak, maka sesungguhnya orang tersebut adalah orang yang bersumpah Ilak.

Dan hendaknya diundurkan (memberi tempo) si Muli (yang bersurnpah Ilak ) secara wajib baik dia orang yang merdeka atau budak dalam kaitannya dengan menyumpah isteri yang sudah kuat dijimak, jika ia (sang isteri) meminta mundur 4 bulan.

Adapun permulaan masa 4 bulan dalam menyumpah isteri, yaitu muali melakukan sumpah. Dan dalam kaitannya dengan isteri yang dirujuk, yaitu mulai ketika terjadi perujukan,

Seusai masa 4 bulan dari yang bersumpah ila’

Seperti yang diterangkan dalam fan fiqih sebgai berikut;

ثُمَّ بَعْدَ اِنْقِضَاءِ هَذِهِ الْمُدَّةِ (يُخَيِّرُ) الْمُوْلِي (بَيْنَ الْفِيْئَةِ) بِأَنْ يُوْلِجَ الْمُوْلِي حَشَفَتَهُ أَوْ قَدْرَهَا مِنْ مَقْطُوْعِهَا بِقُبُلِ الْمَرْأَةِ (وَالتَّكْفِيْرِ) لِلْيَمِيْنِ إِنْ كَانَ حَلَفُهُ بِاللهِ تَعَالَى عَلَى تَرْكِ وَطْئِهَا (أَوْ الطَّلَاقِ) لِلْمَحْلُوْفِ عَلَيْهَا

Kemudian sesudah sampai masa 4 bulan, pihak Muli dipersilahkan untuk memilih di antara tetap berbuat untuk memasukkan hasyafahnya atau sekadarnya dan hasyafah yang terputus dimasuk kan ke dalam vagina disertai membayar Kafarat karena sumpahnya itu, jika memang dalam bersumpah: si Muli menyebut “billahi” meninggalkan jimak si istri tersebut. Dan di antara mentalak perempuan (istri) yang di sumpah itu,

فَإِنِ امْتَنَعَ) الزَّوْجُ مِنَ الْفِيْئَةِ وَالطَّلَاقِ (طَلَّقَ عَلَيْهِ الْحَاكِمُ) طَلْقَةً وَاحِدَةً رَجْعِيَّةً فَإِنْ طَلَّقَ أَكْثَرَ مِنْهَا لَمْ يَقَعْ، فَإِنْ اِمْتَنَعَ مِنَ الْفِيْئَةِ فَقَطْ أَمَرَهُ الْحَاكِمُ بِالطَّلَاقِ

Apabila sang suami menolak untuk berbuat (jimak) dan mentalak, maka hendaknya Hakim mentalakkannya dengan Tala k Raj’i satu, jika sang Hakim mentalakkan lebih banyak (dari satu ) maka Talak tersebut tidak jadi.

Jika Muli tetap menolak untuk berbuat, maka hendaknya Hakim memerintahkan kepada sang suami untuk mentalak.

Sumpah Ila'
Sumpah Ila’

Demikian Materi tentang ; Sumpah Ila’ ; Hukum dan Penjelasannya Menurut Syara’ mudah-mudahan saja materi yang sesingkat ini dapat difahami oleh para pembaca. Mohon abaikan saja bila dalam materi tersebut tidak sefaham dengan para pembaca. Terimaksih kami ucapka atas kunjungannya.