Hukum Pencurian; Dalam Islam Menurut Fiqih Mestinya Dipotong

Diposting pada

Hukum Pencurian; Dalam Islam Menurut Fiqih Mestinya Dipotong Pelajarilah Ketentuan Hukum Pencurian dalam islam. Pada artikel ini fiqih.co.id  akan menuliskan meteri tentang Fasal fi Ahkami qoth’is sariqati.

Di dalam “Fathul qoribul Mujib” pada Fasal fi Ahkami qoth’is sariqati, telah diterangkan mengani hukum pemotongan pada pencurian. Oleh karenanya Yuk kita langsung simak saja pada pokok bahasan kita di bawah ini.

Hukum Pencurian; Dalam Islam Menurut Fiqih Mestinya Dipotong

Mengenai masalah Menuduh zina ini sudah diterangkan dalam fan Fiqih hukumknya. Dan perihal ini penting kita pelajari agar kita tidak sembarangan dalam menjalani hidup beragama. Untuk itu lebih jelasnya mari kita lansung saja untuik belajar bersama.

Hukum Pencurian

Untuk difahami mengenai fasal ini adalah tidak diberlakukan di negri kita, karena negri kita tidak memberlakukan hukum ini.

Hukum pebcurian yang berlaku di Negara Indonesia adalah yang sesuai dengan perundang-undangan yang diundangkan di negri ini.

Kalau kita membaca dalam fiqih perkara tersebut adlah sebagai berikut;

فصلٌ): فِيْ أَحْكَامِ قَطْعِ السَّرِقَةِ وَهِيَ لُغَةً أَخْذُ الْمَالِ خَفْيَةً وَشَرْعاً أَخْذُهُ خَفْيَةً ظُلْماً مِنْ حِرْزِ مِثْلِهِ (وَتُقْطَعُ يَدُ السَّارِقِ بِثَلَاثَةِ شَرَائِطَ) وَفِيْ بَعْضِ النُّسْخِ بِسِتَّةِ شَرَائِطَ (أَنْ يَكُوْنَ) السَّارِقُ (بَالِغاً عَاقِلاً) مُخْتَاراً مُسْلِماً كَانَ أَوْ ذِمِيّاً فَلَا قَطْعَ عَلَى صَبِيٍّ وَمَجْنُوْنٍ وَمُكْرَهٍ

P a s a l : Menerangkan tentang hukum-hukumnya pemotongan pada pencurian.
Kata ”Sariqah”= menurut bahasa adalah mengambil harta dengan sembunyi-sembunyi. Sedang menurut syarak ialah mengambil harta secara sembunyi-sembunyi dan aniaya dari tempat simpanan harta itu tadi.

Dan dipotonglah tangan si pencuri dengan adanya tiga syarat, menurut sebagian keterangan dengan enam syarat yaitu:

Sekiranya pencuri adalah orang yang sudah dewasa, berakal sehat berkehendak sendiri (tidak dipaksa pen) baik dia orang Islam atau Kafir. Maka tidak wajib adanya hukum pemotongan atas anak kecil, orang gila dan orang yang terpaksa.

Aturan Hukum Pencurian

وَيُقْطَعُ مُسْلِمٌ وَذِمِيٌّ بِمَالٍ مُسْلِمٍ وَذِمِيٍّ، وَأَمَّا الْمُعَاهَدُ فَلَا قَطْعَ عَلَيْهِ فِيْ الْأَظْهَرِ وَمَا تَقَدَّمَ شَرْطٌ فِيْ السَّارِقِ، وَذَكَرَ الْمُصَنِّفُ شَرْطَ الْقَطْعِ بِالنَّظْرِ لِلْمَسْرُوْقِ فِي قَوْلِهِ (وَأَنْ يَسْرَقَ نِصَاباً قِيْمَتُهُ رُبُعُ دِيْنَارٍ) أَي خَالِصاً مَضْرُوْباً أَوْ يَسْرَقَ قَدْراً مَغْشُوْشاً يَبْلُغُ خَالِصُهُ رُبُعَ دِيْنَارٍ مَضْرُوْباً أَوْ قِيْمَتُهُ (مِنْ حِرْزِ مِثْلِهِ) فَإِنْ كَانَ الْمَسْرُوْقُ بِصَحْرَاءِ أَوْ مَسْجِدٍ أَوْ شَارِعٍ اُشْتُرِطَ فِيْ إِحْرَازِهِ دَوَامُ اللِّحَاظِ

Dan dipotonglah orang Islam dan Kafir Dzimmi. Sedangkan Kafir Mu’aahad, maka tidak Wajib dikenakan hukuman potong atasnya. Demikian menurut pendapat yang lebih jelas.
Adapun hal-hal yang sudah tersebut di muka adalah merupakan syarat bagi si pencuri. Mushannif juga menerangkan tentang syarat hukuman potong dengan melihat kepada barang yang dicuri dalam perkataannya, bahwa sekiranya si Sariq (peacuri) itu mencuri barang 1 (satu) nishab yang nilai harganya seper empat dinar, artinya benda tersebut dalam keadaan murni sudah tercetak atau mencuri sekedar barang yang sudah dicampur dan nilai kemurniannya mencapai seperempat dinar yang sudah tercetak atau pula telah sampai harga seperempat dinar tersebut dari tempat yang biasanya barang seperti yang tercuri itu disimpan di sana.

Jika barang yang dicuri itu berada di tanah lapang atau di masjid atau pula di jalan raya, maka disyaratkan agar barang tersebut terjaga dengan senantiasa memberikan pengawasan.

Barang yang dicuri

وَإِنْ كَانَ بِحِصْنٍ كَبَيْتٍ كَفَى لِحَاظٌ مُعْتَادٌ فِيْ مِثْلِهِ. وَثَوْبٌ وَمَتَاعٌ، وَضَعَهُ شَخْصٌ بِقُرْبِهِ بِصَحْرَاءِ مَثَلاً إِنْ لَاحِظَهُ بِنَظْرِهِ لَهُ وَقْتاً فَوَقْتاً، وَلَمْ يَكُنْ هُنَاكَ اِزْدِحَامٌ طَارِقَيْنِ فَهُوَ مُحْرَزٌ، وَإِلَّا فَلَا

Bila barang itu (yang dicuri) berada di tempat penjagaan (disebuah gedung) seperti rumah, maka cukup diadakan pengawasan menurut perhitungan yang semisal dengan barang tersebut.

Adapun pakaian dan harta di mana seseorang telah meletakkannya di tempat yang dekat dengannya, misalnya di tempat tanah lapang jika dia sewaktu-waktu dapat melirik dengan penglihatannya dan di sana tidak terdapat berjubel-jubel orang yang sama lewat (melalui) jalan, maka setatus dia (orang yang meletakkan Pakaian itu) adalah sebagai penjaga. Dan bila dia tidak melirik (mengawasi dari jauh) maka dia tidak berstatus sebagai penjaganya.

K e t e r a n g a n:

Maksudnya, apabila seseorang meletakkan pakaian di suatu tempat yang berada di luar rumah, maka langkah penjagaannya disyaratkan dengan mengadakan pengawasan sepantasnya. Sedangkan orang yang bekerja di pinggir jalan yang pakaiannya di luar, kemudian diletakkan di suatu tempat yang tidak jauh dari padanya maka cukuplah bagi dia sering-sering saja melihat pakaiannya itu selama di tempat tersebut tidak banyak orang yang berjalan. Dengan demikian maka perkaian tersebut berstatus sebagai barang yang sudah terjaga.

Syarat orang yang menjaga

وَشَرْطُ الْمُلَاحَظِ قُدْرَتُهُ عَلَى مَنْعِ السَّارِقِ، وَمِنْ شُرُوْطِ الْمَسْرُوْقِ مَا ذَكَرَهُ الْمُصَنِّفُ فِيْ قَوْلِهِ (لَا مِلْكَ لَهُ فِيْهِ وَلَا شُبْهَةَ لَهُ) أَيْ لِلسَّارِقِ (فِيْ مَالِ الْمَسْرُوْقِ مِنْهُ) فَلَا قَطْعَ بِسَرِقَةِ مَالِ أَصْلٍ وَفَرْعٍ لِلسَّارِقِ، وَلَا بِسَرِقَةِ رَقِيْقٍ مَالَ سَيِّدِهِ

Syarat Mulahidl (orang yang menjaga) yaitu dia berkuasa (mampu) mencegah (menghalau) si pencuri. Sedangkan syarat-syarat benda yang dicuri yaitu sebagaimana Mushannif menerangkan dalam suatu perkataannya, bahwa tidak ada hak milik bagi pencuri dalam kaitannya dengan barang itu, dan juga tidak ada keserupaan hak milik bagi si pencuri dalam hubungannya dengan barang yang dicuri dari padanya.

Maka tidaklah wajib adanya hukum pemotongan bagi Pencuri yang disebabkan mencuri harta (milik) orang tua anak. Dan juga tidak wajib sebab pencurian yang dilakukan oleh hamba (budak) kepada harta tuannya.

Keterangan :

Orang yang mencuri harta milik sebagian dirinya, baik milik orang tua atau anak keturunannya atau pula mencuri harta milik Tuannya, maka si pencuri tersebut, tidak dapat dikenakan hukum pemotongan disebabkan untuk semuanya ini ada kesyubhatan turut memiliki sebagai nafkah.

Sipencuri yang dipotong adalah

وَيُقْطَعُ) مِنَ السَّارِقِ (يَدُهُ الْيُمْنَى مِنْ مَفْصَلِ الْكُوْعِ) بَعْدَ خَلْعِهَا مِنْهُ بِحَبْلٍ يُجَرُّ بِعَنْفٍ، وَإِنَّمَا تُقْطَعُ الْيُمْنَى فِيْ السَّرِقَةِ الْأُوْلَى (فَإِنْ سَرَقَ ثَانِياً) بَعْدَ قَطْعِ الْيُمْنَى (قُطِعَتْ رِجْلُهُ الْيُسْرَى) بِحَدِيْدَةٍ مَاضِيَةٍ دَفْعَةً وَاحِدَةً بَعْدَ خَلْعِهَا مِنْ مَفْصَلِ الْقَدَمِ. (فَإِنْ سَرَقَ ثَالِثاً قُطِعَتْ يَدُهُ الْيُسْرَى) بَعْدَ خَلْعِهَا (فَإِنْ سَرَقض رَابِعاً قُطِعَتْ رِجْلُهُ الْيُمْنَى) بَعْدَ خَلْعِهَا مِنْ مَفْصَلِ الْقَدَمِ كَمَا فُعِلَ بِالْيُسْرَى، وَيُغْمَسُ مَحَلُّ الْقَطْعِ بِزَيْتٍ أَوْ دُهْنٍ مُغْلِيِّ (فَإِنْ سَرَقَ بَعْدَ ذَلِكَ) أَيْ بَعْدَ الرَّابِعَةِ (عُزِرَ وَقِيْلَ يُقْتَلُ صَبَراً) وَحَدِيْثُ الْأَمْرُ بِقَتْلِهِ فِيْ الْمَرَّةِ الْخَامِسَةِ مَنْسُوْخٌ

Wajib dipotong si pencuri, yaitu tangan kanannya dari ruas-ruas pergelangan sesudah tangan tersebut diputuskan dari padanya dengan tali dadung yang ditarik kuat.  Akan tetapi tangan kanan dipotong dalam pencurian yang pertama,  maka jika mencuri yang kedua kali sesudah dipotong tangan yang kanan, hendaknya dipotonglah kakinya yang kiri dengan memaakai alat pemotong (gaman = bhs. Jawa) yang tajam sekali pemotongan setelah dilepaskan kaki yang kiri itu dari ruas-ruas telapak kaki.

Jika si pencuri itu melakukan pencurian yang ketiga kali, maka dipotonglah tangannya yang kiri sesudah dilepaskannya. Jika si pericuri mencuri lagi untuk yang ke empat kali, maka di potonglah kaki yang kanan sesudah dilpaskan kaki tersebut. Kemudian tempat pemotongannya dimasukkan ke dalam air (diclupkan bhs jawa) dengan diberi minyak kacang atau minyak mendidih. Bila dia mencuri lagi sesudah itu artinya sesudah  yang ke empat kali, maka ditakzirlah dia (si pencuri) itu dikatakan dia harus dibunuh dengan sabar. Adapun hadits yang memerintahkan agar si pencuri tersebut dibunuh pada pencurian yang ke lima kalinya adalah sudah di Nasikh (dihapus = diganti).

Mengenai pencuri

Keterangan :

Bagaimana dengan pencuri yang berkali-kali melakukan pencurian, sedangkan dia belum pernah tertangkap sehingga dapat lolos dari had (hukuman) pemotongan ?. .Jawabnya bahwa si pencuri yang melakukan berkal-kali dengan tanpa pernah terkenai pemotongan, maka tidak dikenakan padanya selain satu hukuman had saja. Menurut pendapat yang muktamad. maka cukup dipotong tangan kanannya saja sebagai had seluruh pencurian yang dilakakan selama itu, karena masih berada dalam kerangka tunggal sebabnya, sehingga had-had masuk satu kepada lainnya.

Hukum Pencurian
Hukum Pencurian

Demikian Materi tentang ; Hukum Pencurian; Dalam Islam Menurut Fiqih Mestinya Dipotong semoga saja saja materi yang sesingkat ini dapat difahami oleh para pembaca. Mohon abaikan saja bila dalam materi tersebut tidak sefaham dengan para pembaca. Terimaksih kami ucapka atas kunjungannya.