Hukum Shalat Hadiah : Ikhtilaf Dalam Pandangan & Pelaksanaanya

Hukum Shalat Hadiah : Ikhtilaf Dalam Pandangan & PelaksanaanyaPada kesempatan kali ini kami fiqih.co.id akan menerangkan tentang Hukum Shalat Hadiah. Shalat Hadiah itu dilakukan pada malam pertama mayit dikubur. Uraian ini kami Kutip dari Risalah “Majmu’ Masail Asmawi” Buku Karya M. Asmawi, Z.A. Pada Jilid dua halaman 16.

Daftar Isi

Hukum Shalat Hadiah : Ikhtilaf Dalam Pandangan & Pelaksanaanya

Memang mengenai Shalat Hadiah ini terdapat Perbedaan Pendapat. Dalam Madzhab Syafi’i juga Shalat hadih ini ada perbedaan pandangan,  tapi kami masih mau melakukannya. Alasan kami melakukan adalah: Karena niat Shalatnya bukan niat Shalat Hadiah, melainkan kami niatkan Shalat Muthlaq.

Lain dari pada itu, beliau Syekh Nawawi juga melakukan. Bagi kami tidak perlu berpikir panjang jika seorang ‘Ulama sekalibaer beliau membolehkan, maka untuk kami tidak perlu lagi mempertanyakannya.

Untuk lebih jelasnya yuk kita ikuti saja penjelasan kami berikut ini:

Mukadimah

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ بسم الله الرّحمن الرّحيم * الحمد لله، أشهد أن لا الٰه الا الله وأشهد أن محمّدا عبده ورسوله،  اللّهمّ صلّ وسلّم على سيّدنا محمّد واٰله وصحبه أجمعينِ أما بعد

Shalat Hadiah ini ada ikhtilaf di kalangan pengikut madzhab Syafi’i, ada yang berpendapat boleh  ada juga yang tidak boleh alasannya “tidak berdasarkan sunnah”

Untuk itu kami sangat menghargai bagi saudara kami semua yang tidak sepakat dengan kebolehannya Shalat Hadiah. Kami berharap yuk kita saling menghargai!!, sebab hal ini ada pada wilayah hati masing-masing.

Hukum Shalat Hadiah

Hukumnya Shalat Hadiah adalah mubah bagi yang mengatakan mubah. Shalat hadiah bisa juga “Sunnah” bagi yang berfaham bahwa itu sunah karena dengan niat shalat muthlaq. Shalat Hadiah bisa “haram” bagi orang yang tidak sepakat dengan kebolehannya karena tidak ada dasar, serta semata-mata diniati Shalat hadiah. oleh karena itu simak penjelasan kami berikut ini:

Mendoakan Yang Telah Beriman Lebih Dulu

Firman Allah QS al-Hasyr ayat: 10

“وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ ءَامَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Artinya: Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.”

Mendoakan Mayat Setelah Dikubur.

Hadits Riwayat Abu Daud Riyadhus Sholihin No. 946

داري أبو عَمِرو وقيل أبو عبد الله. وقيل أبو لَيْلَى يعني عثمان بن عفان بليو بركات :  ” كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، اِذَا فَرَغَ مِنْ دَفْنِ الْمَيِّتِ وَقَفَ عَلَيْهِ فَقَالَ إِسْتَغْفِرُوْا لِأَخِيْكُمْ  وَسَلُوْا لَهُ التَّثْبِيْتَ فَإِنَّهُ الْآنَ يُسْأَلُ” :  رواه أبو داود

Artinya: “Nabi SAW, sudah terbiasa apabila telah selesai menguburkan mayit, beliau tegak diatasnya seraya bersabda: Beristighfarlah kamu buat kawan atau saudaramu, dan mohonkanlah ketetapan iman baginya, sebab saat ini ia tengah menghadapi pertanyaan. (hadits Riwayat Abu Daud)

Tentang Shalat Hadiah

Keterangan Dalam Kitab Syarah Sittin Halaman 67

Kitab Syarah Sittin ini yang disusun oleh al-Imam Syihabuddin Abu al-‘Abbas  Ahmad bin Hamzah bin Ahmad al-Anshari al-Ramli. Dan kami ngaji kitab tersebut telah mengkhatamkannya pada tahun 1984 di Pesantren Salafiyah Nurul-Hidayah Istiqomah Ciseukeut.

Keterangan Shalat Hadiah Dalam Syarah Syittin

Dalam Kitab tersebut ditulis:

دلم كتاب شرح الستين حلمن 67 ديسبوت دلم كتاب نَجْهَةُ الْمَجَالِس داري كتاب مطالع الأنوار داري نبي ﷺ : لاَيَأْتِىْ عَلَى الْمَيِّتِ أَشَدُّ مِنَ اللَّيْلَةِ الْأُولَى فَارْحَمُوْا مَوْتَاكُمْ بِالصَّدَقَةِ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَلْيُصَلِّ رَكْعَتَيْنِ  يَقْرَأُ فِىْ كُلِّ رَكْعَةٍ مِنْهُمَا فَاتِحَةَ الْكِتَابِ وَآيَةَ الْكُرْسِي أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ إلخ……. وَ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ  اِحْدَى عَشَرَةَ مَرَّةً

وَيَقُوْلُ : أَللَّهُمَّ إِنِّيْ صَلَّيْتُ هَذِهِ الصَّلاَةَ وَتَعْلَمُ مَا أُرِيْدُ  أَللَّهُمَّ ابْعَثْ ثَوَابَهَا  إِلَى قَبْرِ فُلَانِ ابْنِ فُلَانَةٍ * فَيَبْعَثُ اللهُ مِنْ سَاعَتِهِ إِلَى قَبْرِهِ  أَلْفَ مَلَكٍ مِنْ كُلِّ مَلَكٍ نُوْرٌ وَهَدِيَةٌ يُؤْنِسُوْنَهُ فِى قَبْرِهِ إِلَى أَنْ يَنْفَخَ  فِى الصُّوْرِ  وَيُعْطِى اللهُ الْمُصَلِّى بِعَدَدِ مَا طُلِعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ حَسَنَاتٍ وَيَرْفَعُ اللهُ لَهُ  اَرْبَعِيْنَ اَلْفَ دَرَجَةٍ وَاَرْبَعِيْنَ اَلْفَ حَجَّة وَعُمْرَةٍ وَيُبْنِىْ لَهُ اَلْفَ مَدِيْنَةٍ فِى الْجَنَّةِ  وَيُعْطَى ثَوَابَ اَلْفِ شَهِيْدٍ وَيُكْسَ اَلْفَ حُلَّةٍ. (حديث ضعيف)

Artinya: Tidak ada yang kejadian terdahsyat datang pada mayit yang melebihi dari malam pertama mayit itu dikubur, oleh karenanya kasihanilah kematian kalian itu dengan bershedekah, Lantas barang siapa yang tidak bisa melakunanya makaShalatlah dua roka’at, lalu kemudian bacalah pada setiap roka’atnya suratul-fatihah, ayat kursi, al-Hakumut Takatsur …dst, dan surat al-Ikhlash sebanya sebelas kali, kemudian berdoa:

أَللَّهُمَّ إِنِّيْ صَلَّيْتُ هَذِهِ الصَّلاَةَ وَتَعْلَمُ مَا أُرِيْدُ  أَللَّهُمَّ ابْعَثْ ثَوَابَهَا  إِلَى قَبْرِ فُلَانِ ابْنِ فُلَانٍ

Artinya: Ya Allah sesungguhnya aku telah menunaikan Shalat ini, Engkau maha tahu tujuanku, Ya Allah Sampaikanlah Pahalanya buat fulan bin fulan.

Maka langsung pada sa’at itu pula Allah SWT mengutus 1000 Malaikat datang ke kuburannya fulan bin fulan, setiap Malaikat, ia membawa cahaya dan Hadiah yang membuat mayit itu betah di dalam kuburnya sampai dengan sangkakala ditiup.

Lalu kemudian orang yang Shalat tersebut diberi pahala kebaikan oleh Allah SWT sebanyak hitungan benda yang terkena sinar matahari, diangkat derajatnya 4000 derajat, 4000 ibadah haji dan umroh dan baginya dibangunkan 1000 kota di dalam Syurga, diberi pahala 1000 syahid dan diberi 1000 perhiasan. (Hadits Dho’if. Dikutip dari Syarah Sittin)

Keterangan Shalat Hadiah Dalam Nihayatuzen

Keterangan dalam Kitab Nihayatuzen, terstulis pada halaman 108:

دان دلم نهاية الزين تأليف إبي عبد المعطي محمّد بن عمر بن علي نووي الجاوي البتني حلمن 108 ساما سفرتي دلم شرح ستين بيداۑا دلم نهاية الزين تداك ديسبوتكن كليمة (وَيُعْطِى اللهُ الْمُصَلِّى بِعَدَدِ مَا طُلِعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ حَسَنَاتٍ وَيَرْفَعُ اللهُ لَهُ  اَرْبَعِيْنَ اَلْفَ دَرَجَةٍ وَاَرْبَعِيْنَ اَلْفَ حَجَّة وَعُمْرَةٍ وَيُبْنِىْ لَهُ اَلْفَ مَدِيْنَةٍ فِى الْجَنَّةِ  وَيُعْطَى ثَوَابَ اَلْفِ شَهِيْدٍ وَيُكْسَ اَلْفَ حُلَّةٍ.)

Dalam Kitab Nihayatuzen terdapat keterangan yang sama hanya saja tidak disebutkan kalimat: “Lalu kemudian orang yang Shalat tersebut diberi pahala kebaikan oleh Allah SWT sebanyak hitungan benda yang terkena sinar matahari, diangkat derajatnya 4000 derajat, 4000 ibadah haji dan umroh dan baginya dibangunkan 1000 kota di dalam Syurga, diberi pahala 1000 syahid dan diberi 1000 perhiasan”.

Tapi dalam Kitab tersebut tertulis sebagai berikut:

وَفِيْ الْحَدِيْثِ : أَنَّ فَاعِلَ ذَلِكَ لَهُ ثَوَابٌ جَسِيْمٌ مِنْهُ أَنَّهُ لَا يَخْرُجُ مِنَ الدُّنْيَا حَتَّى يَرَى مَكَانَهُ فِيْ الْجَنَّةِ

Artinya: Dan dalam sebuah hadits: “Bahwasanya orang yang melakukan shoalat Hadiah, ia akan mendapat pahala besar, diantaranya adalah: dia tidak akan meninggalkan dunia ini hingga dia melihat tempatnya di dalam syurga.

Yang Mengharamkan Shalat Hadiah

Alasan Orang yang Mengharamkan Shalat Hadiah. Sebagaimana telah kami katakan di muka bahwa Shalat Hadiah ini di kalangan madzhab syafi’i juga terdapat ikhtilaf. Jadi alasan orang yang tidak mau melakukan Shalat Hadiah diantranya adalah:

Keterangan dalam Kitab Tuhfatul-Muhtaj Juz 2 Bab Shalat Isyroq

وَلَا تَصِحُ الصَّلَوَاتُ بِتِلْكَ النِّيَّاتِ الَّتِيْ اِسْتَحْسَنَهَا الصُّوْفِيَّةُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يُرِدَ لَهَا أَصْلٌ فِيْ السُّنَّةِ، نَعَمْ إِنْ اَطْلَقَ الصَّلَاةَ ثُمَّ دَعَا بَعْدَهَا يَتَضَمَّنُ نَحْوَ اِسْتِعَاذَةٍ أَوْ اِسْتِخَارَةٍ مُطْلَقَةً لَمْ يَكُنْ بِذَلِكَ بَأسٌ. أَمَّا حَدِيْثُ صَلَاةِ الْهَدِيَةِ الَّذِيْ ذُكِرَ فِيْ الْمَوْهِبَةِ فَلَا يُعْرَفُ صَحَّةُ رِوَايَةٍ

Artinya: Tidak sah Shalat dengan niat seperti yang dianggap baik oleh kalangan Sufi tanpa dasar hadits sama sekali.

Jika melakukan Shalat muthlaq lalu kemudian berdoa sesudahnya dengan sesuatu yang mengandung semisal “Isti’adzah, Istikhoroh” maka Shalat tersebut sah-sah saja.

Mengenai tentang Shalat Hadiah, seperti yang tertulis dalam kitab al-muhibah, hal itu tidak diketahui keshohihan perowiny. (dikutip dari Kitab Tuhfatul-Muhtaj Juz: 2 Bab Shalat Isyroq)

Pengamalan Hadits Dhoif

Keterangan Dalam Kitab al-Wafi Syarah al-Arba’in al-Nawawi Mukadimah halaman 8:

“وَقَدِ اتَّفَقَ الْعُلَمَاءُ عَلَى جَوَازِ الْعَمَلِ بِالْحَدِيْثِ الضَّعِيْفِ فِيْ فَضَائِلِ الْأَعْمَالِ، وَمَعَ هَذَا فَلَيْسَ إِعْتِمَادِيْ عَلَى هَذَا الْحَدِيْثِ، بَلْ عَلَى قَوْلِهِ ﷺ فِيْ الْأَحَادِيْثِ الصَّحِيْحَةِ ”

Artinya: Para Ulama telah sepakat tentang kebolehannya mengamalkan hadits dhoif dalam hal “Fadhoilul- A’mal” artinya dalam hal keutaman segala ‘amal, dan ini bukan berarti dho’ifnya hadits ini yang jadi peganganku, akan tetapi adalah lebih kepada sabda nabi SAW dalam beberapa hadits yang shohih.

Kesimpulan Tentang Shalat Hadiah:

Dalam pada ini kami menyimpulkan sebagai berikut:

  1. Untuk menghindari dari Perbedaan kami niatkan Shalat tersebut sebagai Shalat Mutlaq yang pahalanya kami minta kepada Allah untuk dihadiahkan
  2. Kami Tidak Mengajak
  3. Kami Tidak Menyuruh
  4. Tapi Kami Melakukan

Untuk Cara Bacaan dan Perakteknya monggo dibaca pada link yang ini : Shalat Hadiah : Doa Dan Perakteknya

"<yoastmark

Demikian Uraian tentang Hukum Shalat Hadiah : Ikhtilaf Dalam Pandangan & Pelaksanaanya – Semoga bermanfaat dan memberikan tambahan ilmu pengetahuan untuk kita semua. Abaikan saja uraian kami ini jika pembaca tidak sependapat.Terima kasih atas kunjungannya. Wallahu A’lamu bish-showab.