Mandi Besar : Hal-hal Yang Mewajibkannya Menurut Fiqih

Mandi Besar : Hal-hal Yang Mewajibkannya Menurut FiqihPada kesempatan kali ini kami Fiqih.co.id akan membahas tentang hal-hal yang menyebabkan wajinya mandi besar. Dan Pembahasan kami mengutip keterangannya dari fiqih madzhab syafi’i.

Daftar Isi

Mandi Besar : Hal-hal Yang Mewajibkannya Menurut Fiqih

Mandi Besar seperti junub, haidh dan yanglainnya itu hukumnya wajib. Dan untuk mengetahui secara terperinci maka di sini kami akan membahasnya. Untuk lebih jelasnya mari kita baca saja uraiannya di bawah ini.

Mukadimah

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ. بِسْمِ اللهِ الـحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ رَسُولِ الله. لَا حَوْلَ وَ لَا قُوَّةَ اِلَّا بِالله وَ بَعْدُ

Para pembaca yang dirahmati Allah Subhanahu wa ta’ala. Mencari ilmu itu hukumnya wajib terutama untuk mengetahui perkara wajib. Oleh karena itu mari kita sam-sama mempelajirinya terutama perkara yang diwajibkan agama. Dan Dalam Pembahasan mandi besar, di sini kami akan menyampaikannya menrut dari kitab fiqih yang bermadzhab Syafi’i.

Mandi Besar

Ada enam hal yang menyebakan wajibnya mandi besar, sebagaimana diterangkan dalam kitab Fathul qoribul mujib pada pasal berikut ini.

فَصْلٌ فِيْ مُوْجِبِ الْغُسْلِ. وَالْغُسْلُ لُغَةً سِيْلَانُ الْمَاءِ عَلَى الشَّيْئِ مُطْلَقًا. وَشَرْعًا سِيْلَانُهُ عَلَى جَمِيْعِ الْبَدَنِ بِنِيَةٍ مَخْصُوْصَةٍ. (وَالَّذِي يُوْجِبُ الْغُسْلَ سِتَةُاَشْيَاءَ). ثَلَاثَةٌ تَشْتَرِكُ فِيْهَاالرِّجَالُ وَالنِّسَاءُ. وَهِيَ (اِلْتِقَاءُ الْخِتَانَيْنِ).﯁

Artinya: (Fasal) menjelaskan tentang hal-hal yang mewajibkan mandi besar. Adapun mandi menurut pengertian bahasa adalah mengalirnya air pada sesuatu secara mutlak. Dan menurut syara’ adalah mengalirnya air ke seluruh badan yang disertai niat tertentu.

Yang Mewajibkan Mandi

Dan Adapun yang mewajibkan mandi besar itu ada enam perkara. Tiga di antaranya dialami oleh laki-laki dan perempuan. yaitu bertemunya alat kelamin.

وَيُعَبَّرُ عَنْ هَذَا الْاِلْتِقَاءِ بِاِيْلَاجٍ حَيٍّ وَاضِحٍ غَيَّبَ خَشَفَةَ الذَّكَرِ مِنْهُ اًوْقَدْرَهَا مِنْ مَقْطُوْعِهَا فِىْ فَرْجٍ. وَيَصِيْرُ الْآدَمِيُّ الْمُوْلَجُ فَيْهِ جُنُبًا بِاِيْلَاجٍ مَاذُكِرَ. اَمَّاالْمَيِّتُ فَلَايُعَادُ غَسْلُهُ بِاِيْلَاجٍ فِيْهِ وَاَمَّا الْخُنْثَى الْمُشْكِلُ فَلَاغُسْلَ عَلَيْهِ بِاِ يْلَاجِ خَشَفَتِهِ وَلَا بِاِيْلَاجٍ فِى قُبُلِهِ.﯁

Bertemunya alat kelamin ini diungkapkan dengan arti; orang hidup yang jelas kelaminnya yang memasukkan hasyafah penisnya atau kira-kira hasyafah dari penis yang terpotong hasyafahnya ke dalam farji. Anak Adam yang dimasuki hasyafah itu menjadi junub sebab dimasuki oleh hasyafah yang telah disebutkan di tadi.

Sedangkan bagi mayit yang sudah di mandikan, maka tidak perlu dimandikan lagi ketika dimasuki haysafah. Adapun khuntsa musykil, maka tidak wajib baginya melakukan mandi sebab memasukkan hasyafahnya atau kemaluannya dimasuki hasyafah.

Inzal (keluar sperma)

Deangan inzal maka seseorang tersebut wajib mandi besar

وَ مِنَ الْمُشْتَرَكِ (اِنْزَالُ) اَيْ خُرُوْجُ (الْمَنِيِّ) مِنْ شَخْصٍ بِغَيْرِ اِيْلَاجٍ وَاِنْ قَلَّ الْمَنِيُّ كَقُطْرَةٍ وَلَوْكَانَتْ عَلَى لَوْنِ الدَّمِ. وَلَوْكَانَ الْخَارِجُ بِجِمَاعٍ اَوْغَيْرِهِ فِى يَقْظَةٍ اَوْنَوْمٍ بِشَهْوَةٍ اَوْغَيْرِهَا مِنْ طِرِيْقِهِ الْمُعْتَادِ اَوْ غَيْرِهِ كَأَنِ انْكَسَرَ صَلْبُهُ فَخَرَجَ مَنِيُّهُ، وَ مِنَ الْمُشُتَرَكِ (الْمَوْتُ) اِلَّافِى الشَّهِيْدِ.﯁

Di antara hal yang di alami oleh laki-laki dan perempuan adalah keluar sperma sebab selain memasukkan hasyafah. Walaupun sperma yang keluar hanya sedikit seperti satu tetes. Walaupun berwarna darah.

Walaupun sperma keluar sebab jima’ atau selainnya, dalam keadaan terjaga atau tidur, disertai birahi ataupun tidak. Dari jalur yang normal ataupun bukan seperti punggungnya belah kemudian spermanya keluar dari sana. Di antara yang dialami oleh keduanya adalah mati, kecuali orang yang mati syahid.

وَثَلَاثَةٌتُخْتَصُ بِهَا النِّسَاءُ وَهِيَ الْحَيْضُ، اَيْ دَمُ الْخَارِجُ مِنْ إِمْرَأَةٍ بَلَغَتْ تِسْعَ سِنِيْنَ. (وَالنِّفَاسُ) وَهُوَ الدَّمُ الْخَارِجُ عَقِبَ الْوِلَادَةِ فَاِنَّهُ مُوْجِبُ لِلْغُسْلِ قَطْعًا. (وَالْوِلَادَةُ) الْمَصْحُوْبَةُ بِالْبَلَلِ مُوْجِبَةٌ لِلْغُسْلِ قَطْعًا وَالْمُجَرَدَةُ عَنِ الْبَلَلِ مُوْجِبَةٌ لِلْغُسْلِ فِى الْاَصَحِ

Yang Dialami Perempuan

Tiga hal yang mewajibkan mandi besar adalah tertentu dialami oleh kaum wanit. Yaitu haidh, yang dimaksud dengan haidh yaitu darah yang keluar dari seorang wanita yang telah mencapai usia sembilan tahun.

Dan nifas, yaitu darah yang keluar setelah melahirkan. Maka sesungguhnya nifas mewajibkan mandi secara mutlak. Melahirkan yang disertai dengan basah-basah mewajibkan mandi secara pasti. Sedangkan melahirkan yang tidak disertai basah-basah mewajibkan mandi menurut pendapat yang ashah.

Mandi Besar Hal hal Yang Mewajibkannya Menurut Fiqih
Mandi Besar Hal hal Yang Mewajibkannya Menurut Fiqih

Kesimpulan

Adapun Penyebab wajibnya mandi besar itu ada enam hal.

  1. Tiga hal yang dialami oleh laki-laki dan perempuan.
  2. Tiga hal yang hanya dialami oleh kaum perempuan.

Adapu tiga hal yang dialami oleh laki-laki dan perempuan itu adalah.

  1. Bertemunya dua alat kelamin.
  2. Inzal (keluar sperma) apapun penyebabnya.
  3. Mati (meninggal dunia) kecuali syahid.

Adapun tiga hal yang hanya dialami oleh kaum perempuan yaitu.

  1. Haidh (Datang bulan).
  2. Nifas (Darah setelah bersalin).
  3. Wiladah (melahirkan).

Demikian Uraian kami tentang Mandi Besar : Hal-hal Yang Mewajibkannya Menurut Fiqih – Semoga uraian ini bisa menginspirasi para pembaca dan bermanfaat serta memberikan tambahan ilmu pengetahuan bagi para pemula. Mohon abaikan saja uraia kami ini jika pembaca tidak sependapat. Terima kasih atas kunjungannya.

بِاللهِ التَّوْفِيْقُ وَالْهِدَايَةُ و الرِّضَا وَالْعِنَايَةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ