Qadzaf adalah; Menuduh Zina Dan Beberapa Hukumnya

Diposting pada

Qadzaf adalah; Menuduh Zina Dan Beberapa Hukumnya Qadzaf dan Bersumpah Li’an mesti kita pelajari. Dalam pada ini fiqih.co.id  akan menguraikannya tentang perihal tersebut secara ringkas.

Pada uraian kali ini fiqih.co.id akan mengutipnya dari kitab: “Fathul qoribul Mujib” dalam fasal fi bayani ahkamil qadzfi Li’an. Untuk lebih terangnya mari kita langsung saja pada pokok pembahasan kita kali ini.

Qadzaf adalah; Menuduh Zina Dan Beberapa Hukumnya

Dalam perihal menuduh zina dan bersumpah li’an atau dalam fiqih disebut jiga dengan kata: (الْقَذْفِ اللِّعَانِ), ini mempunyai pengertian menurut luighot juga menurut syara’.

Di bawah ini kita akan jelaskan pengertian menurut penjelasan fiqih secara sederhana. Dalam sebuah kitab kecil  “Fathul qoribul mujib”.

Telah diterangkan secara khususu dalam satu fasal menerangkan fi bayani ahkamil qadzfi Li’an. Perihal ini erat hubungannya dengan masalah rumah tangga. Nah untuk lebih jelasnya mari langsung saja kita baca kutipannya berikut ini;

Qadzaf Li’an

Penjelasan tentang hukum qadzaf atau menuduh zina dan bersumpah li’an diterangkan seperti berikut;

فصل): فِيْ بَيَانِ أَحْكَامِ الْقَذْفِ اللِّعَانِ وَهُوَ لُغَةً مَصْدَرٌ مَأْخُوْذٌ مِنَ اللَّعْنِ، أَيْ الْبُعْدِ، وَشَرْعاً كَلِمَاتٌ مَخْصُوْصَةٌ جُعِلَتْ حُجَّةً لِلْمُضْطَرِّ إِلَى قَذْفٍ مَنْ لَطَخَ فِرَاشَهُ، وَأُلْحِقَ الْعَارُ بِهِ

Pasal; Menerangkan tentang hukum-hukumnya Qadzaf (menuduh zina) dan bersumpah Li’an, Kata “Li’an” = (لِعَانْ) menurut bahasa adalah masdar dari yang diambil dari kata “La’kni” = (لَعْنِ) bermakna “jauh”

Sedangkan menurut syarak, yaitu : beberapa suku kata yang ditentukan dan yang dijadikan hujjah (alasan) bagi orang yang memaksa menuduh orang yang mengotori alas (tidur)nya, dan orang yang membikin malu disamakan dengannya.

Suami Menuduh Istrinya

Bagaimana bila suami menuduh istrinya berzina? Berikut penjelasannya;

وَإِذَا رَمَى) أَيْ قَذَفَ (الرَّجُلُ زَوْجَتَهُ بِالزِّنَى فَعَلَيْهِ حَدَّ الْقَذْفِ) وَسَيَأْتِيْ أَنَّهُ ثَمَانُوْنَ جِلْدَةً (إِلَّا أَنْ يُقِيْمَ) الرَّجُلُ الْقَاذِفُ (الْبَيِّنَةَ) بِزِنَى الْمَقْذُوْفَةِ (أَوْ يُلَاعِنَ) الزَّوْجَةِ الْمَقْذُوْفَةِ وَفِيْ بَعْضِ النُّسْخِ أَوْ يَلْتَعِنَ، أَيْ بِأَمْرِ الْحَاكِمِ أَوْ مَنْ فِيْ حُكْمِهِ كَالْمُحَكَّمِ

Apabila sang suami menuduh kepada isterinya dengan berbuat zina, maka baginya terkena hukuman menuduh (zina) dan akan diterangkan, bahwa (hukuman menuduh zina) itu dijilid 80 kali, kecuali bila sang suami tersebut dapat mendatangkan saksi dalam hubungannya dengan perbuatan zina yang dituduhkan.

Atau dia berani bersumpah Li’an kepada isterinya (yang di tuduh zina), menurut sebagian keterangan (dikatakan) atau sang suami itu bersumpah Li’an lantaran perintahnya Hakim atau perintahnya orang yang berada dalam (naungan) hukumnya Hakim, seperti orang yang dijadikan Hakim.

فَيَقُوْلُ عِنْدَ الْحَاكِمِ فِيْ الْجَامِعِ عَلَى الْمِنْبَرِ فِيْ جَمَاعَةِ مِنَ النَّاسِ) أَقَلُّهُمْ أَرْبَعَةٌ (أَشْهَدُ بِاللهِ إِنَّنِيْ لَمِنَ الصَّادِقِيْنَ فِيْمَا رَمَيْتُ بِهِ زَوْجَتِيْ) الْغَائِبَةِ (فُلَانَةٍ مِنَ الزِّنَى

Maka dia berkata Di hadapan Hakim (dengan bertempat) di atas mimbar dalam Masjid (dan) di hadapan orang banyak, paling sedikit 4 orang, sang suami berucap: “Aku bersaksi demi Allah sesungguhnya aku termasuk orang yang benar dalam hal apa yang aku tuduhkan kepada isteriku Fulanah yang tidak ada di sini dari perbuatan zina”.

Jika istrinya hadir pada waktu kesaksian

Suami mesti berisyarat kepad istrinya seperti diterangkan berikut ini;

وَإِنْ كَانَتْ حَاضِرَةً أَشَارَ لَهَا بِقَوْلِهِ زَوْجَتِيْ هَذِهِ، وَإِنْ كَانَ هُنَاكَ وَلَدٌ يُنْفِيْهِ ذَكَرَهُ فِيْ الْكَلِمَاتِ فَيَقُوْلُ (وَإِنَّ هَذَا الْوَلَدَ مِنَ الزِّنَى وَلَيْسَ مِنِّي) وَيَقُوْلُ الْمُلَاعِنُ هَذِهِ الْكَلِمَاتِ (أَرْبَعَ مَرَّاتٍ وَيَقُوْلُ فِي) الْمَرَّةِ (الْخَامِسَةِ بَعْدَ أَنْ يُعِظَهُ الْحَاكِمُ) أَوِ الْمُحَكَّمُ بِتَخْوِيْفِهِ لَهُ مِنْ عَذَابِ اللهِ تَعَالَى فِي الْآخِرَةِ، وَأَنَّهُ أَشَدُ مِنْ عَذَابِ الدُّنْيَا (وَعَلَيَّ لَعْنَةُ اللهِ إِنْ كُنْتُ مِنَ الْكَاذِبِيْنَ) فِيْمَا رَمَيْتُ بِهِ هَذِهِ مِنَ الزِّنَى

Jika sang isteri berada di tempat itu, maka hendaknya memberi isyarat kepadanya dengan berkata: “Isteriku ini” dan bila di tempat itu terdapat anak, di mana sang suami tidak mengakuinya, maka hendaknya menyebutkan dalam beberapa kalimah Li’an dan berkatalah: “Sesungguhnya anak ini adalah dari zina dan bukan dari aku. Kalimah ini supaya diucapkan oleh Mula’in (yang bersumpah Li’an) sampai 4 kali.

Dan berkatalah si Mula’in untuk yang ke 5 kalinya , sesudah sang Hakim atau orang yang dijadikan Hakim memberikan nasehat yang bentuknya menakut-nakuti akan siksa Allah di akhirat dan siksa tersebut lebih berat dari pada siksa di dunia, yaitu (ucapan) “Dan atasku laknat Allah jika aku termasuk orang yang bohong” (dalam penuduhanku berupa perbuatan zina ini ).

Pengertian di atas mimbar

Adapun yang dimaksudkan di atas mimbar pengertiannya adalah sebagai berikut;

وَقَوْلُ الْمُصَنِّفُ عَلَى الْمِنْبَرِ فِي جَمَاعَةٍ لَيْسَ بِوَاجِبٍ فَيْ اللِّعَانِ، بَلْ هُوَ سُنَّةٌ (وَيَتَعَلَّقُ بِلِعَانِهِ) أَيْ الزَّوْجِ وَإِنْ لَمْ تُلَاعِنِ الزَّوْجَةُ (خَمْسَةُ أَحْكَامٍ) أَحَدُهَا (سُقُوْطُ الْحَدِّ) أَيْ حَدِّ الْقَذْفِ لِلزَّوْجَةِ الْمُلَاعَنَةِ (عَنْهُ) إِنْ كَانَتْ مُحْصَنَةً وَسُقُوْطُ التَّعْزِيْرِ عَنْهُ إِنْ كَانَتْ غَيْرَ مُحْصَنَةٍ

Perkataan Mushannif  “di atas mimbar, di hadapan orang banyak” adalah tidak wajib dalam hal sumpah Li’an, tetapi sunnah hukumnya. Ada 5 hukum yang berkaitan dengan sumpah Li’an sang suami, meskipun sang isteri tidak bersumpah Li’an, yaitu :

  1. Gugurnya hukuman pidana penuduhan. kepada isteri (perempuan) yang dili’an dari padanya, jika memang si Mula’anah (Perempuan yang dili’an) adalah terjaga, dan gugurnya pengajaran dari pihak suami jika perempuan tersebut tidak terjaga.

وَ) الثَّانِيْ (وُجُوْبُ الْحَدِّ عَلَيْهَا) أَيْ حَدِّ زِنَاهَا مُسْلِمَةً كَانَتْ أَوْ كَافِرَةً إِنْ لَمْ تُلَاعِنْ (وَ) الثَّالِثُ (زَوَالُ الْفِرَاشِ) وَعَبَّرَ عَنْهُ غَيْرُ الْمُصَنِّفُ بِالْفِرْقَةِ الْمُؤَبَّدَةِ، وَهِيَ حَاصِلَةٌ ظَاهِراً وَبَاطِناً وَإِنْ كَذَّبَ الْمُلَاعِنُ نَفْسَهُ (وَ) الرَّابِعُ (نَفْيُ الْوَلَدِ) عَنِ الْمُلَاعِنِ، أَمَّا الْمُلَاعَنَةُ فَلَا يَنْتَفِي عَنْهَا نَسَبُ الْوَلَدِ (وَ) الْخَامِسُ (التَّحْرِيْمُ) لِلزَّوْجَةِ الْمُلَاعَنَةِ (عَلَى اْلأَبَدِ) فَلَا يَحِلُّ لِلْمُلَاعِنِ نِكَاحُهَا وَلَا وَطْؤُهَا بِمِلْكِ الْيَمِيْنِ، لَوْ كَانَتْ أَمَةً

  1. Wajibnya (dilakukan) hukuman pidana zina atas isterinya, baik ia perempuan Islam atau kafir jika memang tidak membalas bersumpah Li’an.
  1. Rusaknya Firasy (hubungan perkawinan), selain Mushannif telah membuat ibarat dengan istilah “Cerai selama-lamanya ” yaitu telah menjadi cerai secara lahir batin, meskipun Mulain mendustakan dirinya sendiri.
  2. Meniadakan (nasab ) anaktersebut dari Mula’in (yang meli’an). Adapun perempuan yang dilian, maka tidak dapat meniadakan nasabnya anak daripadanya.
  3. Pengharaman untuk selamalamanya bagi perempuan yang dili’an, maka tidak sah si Mula’in menikah dan menjimaknya dengan jalan memiliki Amat bila ia perempuan Amat (dengan cara membelinya).

Tambahan Perkara

وَاشْتَرَاهَا وَفِيْ الْمُطَوَّلَاتِ زِيَادَةٌ عَلَى هَذِهِ الْخَمْسَةِ مِنْهَا سُقُوْطُ حَضَانَتِهَا فِيْ حَقِّ الزَّوْجِ إِنْ لَمْ تُلَاعِنْ حَتَّى لَوْ قَذَفَهَا بَعْدَ ذَلِكَ بِزِنَى لَا يُحَدَّ (وَيَسْقُطُ الْحَدُّ عَنْهَا بِأَنْ تَلْتَعِنَ) أَيْ تُلَاعِنُ الزَّوْجَ بَعْدَ تَمَامِ لِعَانِهِ (فَتَقُوْلُ) فِيْ لِعَانِهَا إِنْ كَانَ الْمُلَاعِنُ حَاضِراً (أَشْهَدُ بِاللهِ إِنَّ فُلَاناً هَذَا لَمِنَ الْكَاذِبِيْنَ فِيْمَا رَمَانِيْ بِهِ مِنَ الزِّنَى) وَتُكَرِّرُ الْمُلَاعِنَةُ هَذَا الْكَلَامَ (أَرْبَعَ مَرَّاتٍ وَتَقُوْلُ فِيْ الْمَرَّةِ الْخَامِسَةِ) مِنْ لِعَانِهَا (بَعْدَ أَنْ يَعِظَهَا الْحَاكِمُ) أَوْ الْمُحَكَّمُ بِتَخْوِيْفِهِ لَهَا مِنْ عَذَابِ اللهِ فِيْ الْآخِرَةِ وَأَنَّهُ أَشَدُّ مِنْ عَذَابِ الدُّنْيَا (وَعَلَيَّ غَضْبُ اللهِ إِنْ كَانَ مِنَ الصَّادِقِيْنَ) فِيْمَا رَمَانِيْ بِهِ مِنَ الزِّنَى وَمَا ذُكِرَ مِنَ الْقَوْلِ الْمَذْكُوْرِ مَحَلَّهُ فِيْ النَّاطِقِ، أًمَّا الْأَخْرَسُ فَيُلَاعِنُ بِإِشَارَةٍ مُفْهِمَةٍ

Tersebut di dalam kitab yang panjang lebar keterangannya, bahwa ada tambahan atas 5 perkara tersebut di antaranya ialah :

Hilangnya pemeliharaan sang perempuan yang dili’an dalam kaitannya dengan hak si suami meskipun sang perempuan (isteri) tidak bersumpah Li’an, sehingga jika sang suami menuduhnya (berbuat zina pen.) sesudah terjadi sang suami menjatuhkan Li’an nya dengan menuduh zina, maka sang suami tidak dapat dihukum pidana (dihad).

Dan gugurlah hukuman pidana dari sang isteri yaitu dengan adanya pembalasan sumpah Li’an sang isteri, artinya ia bersumpah kepada suaminya sesudah sempurna summpah Li’annya sang suami. Jika Mula’in (suami yang Li’an) itu hadir (di tempat) maka berkatalah di dalam sumpah Liannya (sang isteri) itu :

“Aku bersaksi demi Allah, sesungguhnya si Fulan adalah benar termasuk orang yang bohong terhadap apa yang dia tuduhkan kepadaku berupa zina” Perkataan ini hendaknya diucapkan sampai 4 kali dan berkatalah  untuk yang ke 5 kalinya dari sumpah Li’annya isteri) sesudah pihak Hakim atau orang dijadikan Hakim memberikan nasehat dengan menakut-nakuti akan siksa Allah di akhirat kelak yang justru lebih berat daripada siksa di dunia, (perkataan itu ialah): “Dan bagiku siksa Allah jika aku termaasuk orang-orang yang benar dari apa yang aku tuduhkan berupa zina”.

Apa yang telah diterangkan dari ucapan tersebut adalah berlaku bagi orang yang dapat berucap. Adapun orang bisu (tuna wicara) maka bersumpah Li’anlah dengan isyarat yang memahamkan.

Penjelasan

Keterangan: Ucapan-ucapan yang harus dilakukan dalam sumpah Li’an sebagaimana diterangkan di atas adalah berlaku bagi orang yang bisa berucap (berbicara), akan tetapi jika yang bersumpah (Mula’in) itu orang yang bisu(tuna wicara) maka agama memberikan kebijaksanaan cukup dengan memberikan isyarat (petunjuk ntau alamat) yang dapat dipahami orang lain (termasuk juga yang dili’an) dalam arti isyarat tersebut dapat memahamkan semua pihak.

وَلَوْ أَبْدَلَ فِيْ كَلِمَاتِ اللِّعَانِ لَفْظَ الشَّهَادَةِ بِالْحَلْفِ كَقَوْلِ الْمُلَاعِنِ أَحْلِفُ بِاللهِ، وَلَفْظَ الْغَضَبِ بِاللَّعْنِ أَوْ عَكْسِهِ كَقَوْلِهَا لَعْنَةُ اللهِ عَلَيَّ وَقَوْلُهُ غَضَبُ اللهِ عَلَيَّ أوْ ذُكِرَ كُلٌّ مِنَ الْغَضَبِ، وَاللَّعْنِ قَبْلَ تَمَامِ الشَّهَادَاتِ الْأَرْبَعِ لَمْ يَصِحَّ فِي الْجَمِيْعِ

Apabila Mula’in itu mengganti beberapa kata dalam Li’an, (misalnya) kata “Syahadah” diganti dengan· “Halafa”, seperti ucapan Mulain : “Ahlifu Billahi” atau kata “Ghadlab” diganti dengan kata “Lakni” atau sebalik nya, seperti ucapan perempuan (isteri): “Laknatullahi Alayya” (Laknat Allah menimpa diriku) dan ucapan “Ghadlabullahi Alayya” (Murka Allah menimpa diriku) atau bahkan disebutkan masing-masing dari kata “Ghadlab” dan “Li’an” sebelum persaksian yang 4 kali itu sempurna maka tidak sah Li’an tersebut secara keseluruhan.

Qadzaf adalah
Qadzaf adalah

Demikian Materi tentang ; Qadzaf adalah; Menuduh Zina Dan Beberapa Hukumnya mudah-mudahan saja materi yang sesingkat ini dapat difahami oleh para pembaca. Mohon abaikan saja bila dalam materi tersebut tidak sefaham dengan para pembaca. Terimaksih kami ucapka atas kunjungannya.