Rujuk; Pengertian, Hukum dan Penjelasannya Menurut Fiqih

Rujuk; Pengertian, Hukum dan Penjelasannya Menurut Fiqih Fasal ini tidak kalah pentingnya utuk kita pelajiri. fiqih.co.id  akan menerangkan menganai hal tersebut dengan mengutip dari fathul qarib.

Dan dalam uraian kali ini juga sama dengan uraian sebelumnya kami tidak mengutip dari kitab fiqih yang lainnya. Untuk dapat segera difahami maka langsung saja mari kita ke materi pokok sebagai berikut.

Daftar Isi

Rujuk; Pengertian, Hukum dan Penjelasannya Menurut Fiqih

Dalam masalah rujuk, pengertian dan Hukumnya ini penting kita ketahu dan kita fahammi, dalam sebuah kitab kecil  “Fathul qorib”. Telah diteranmgkan khususu dalam satu fasal.

Perihala ini adalah sudah pasti adak hubungannya dengan uraian sebelumnya yaitu mengenai talak. Nah untuk lebih terangnya langsung saja kita kutip dari kitab fathul qorib sebagai berikut;

Rujuk

Rujuk adalah mempunyai arti kembali. Dan pada perkara ini diterangkan sebagai berikut;

فصل): فِي أَحْكَامِ الرَّجْعَةِ وَالرَّجْعَةُ بِفَتْحِ الرَّاءِ وَحُكِيَ كَسْرُهَا، وَهِيَ لُغَةً الْمَرَّةُ مِنَ الرُّجُوْعِ، وَشَرْعاً رَدُّ الْمَرْأَةِ إِلَى النِّكَاحِ فِيْ عِدَّةِ طَلَاقٍ غَيْرِ بَائِنٍ عَلَى وَجْهٍ مَخْصُوْصٍ، وَخَرَجَ بِطَلاَقِ وَطْءِ الشُّبْهَةِ وَالظِّهَارِ، فَإِنَّ اسْتِبَاحَةَ الْوَطْءِ فِيْهِمَا بَعْدَ زَوَالِ الْمَانِعِ لَا تُسَمَّى رَجْعَةً(وَإِذَا طَلَقَ) شَخْصٌ (اِمْرَأَتَهُ وَاحِدَةً أَوْ اِثْنَتَيْنِ فَلَهُ) بِغَيْرِ إِذْنِهَا (مُرَاجِعَتُهَا مَا لَمْ تَنْقِضْ عِدَّتُهَا

Pas a l : Menerangkan tentang hukum hukumnya Raj’ah /Rujuk (dengan dibaca fathah hurup Rak nya dan diriwayatkan dibaca kasrah) Menurut bahasa kata “Raj ‘ah ” (رَجْعَةْ) berarti “sekali kembali” sedangkan menurut syarak adalah mengembalikan istri yang masih dalam iddah Talak bukan Ba-in kepada pernikahan semula sesuai dengan peraturan yang ditentukan.

Kecuali Talak, yaitu Wati Syubhat dan Thihar. Karena sesungguhnya menghendaki adanya kebolehan Wati (jimak) di dalamnya (Wati syubhat dan dzihar) sesudah hilangnya sesuatu yang menghalangi, maka kebolehan Wati itu tidak dapat dinamai Rujuk.

Apabila seseorang (suami) mentalak isterinya satu kali atau dua, maka baginya boleh merujuknya tanpa seijin isterinya, selama masa iddahnya belum selesai.

Keterangan:

Adalah sah hukumnya, merujuk isterinya sebelum masa iddahnya selesai, selama Talak yang dijatuhkan itu belum maksimal, artinya baru Talak satu atau dua, tidak Talak tiga.

Keberhasilan Rujuk

وَتَحْصُلُ الرَّجْعَةُ مِنَ النَّاطِقِ بِأَلْفَاظٍ مِنْهَا رَاجَعْتُكِ، وَمَا تَصَرَّفَ مِنْهَا وَالْأَصَحُّ أَنَّ قَوْلَ الْمُرْتَجِعِ رَدَدْتُكِ لِنِكَاحِيْ وَأَمْسَكْتُكِ عَلَيْهِ صَرِيْحَانِ فِيْ الرَّجْعَةِ وَأَنَّ قَوْلَهُ تَزَوَّجْتُكِ أَوْ نَكَحْتُكِ كِنَايَتَانِ

Dan berhasil suatu rujuk dari orang yang berkata dengan beberapa ucapan  yang antara lain : “Aku kembali lagi kepadamu “, dan kalimah yang dikembalikan kepadanya. Menurut pendapat yang lebih sah bahwa ucapan orang yang merujuk: “Aku mengembalikanmu kepada pernikahanku ” atau “Aku memegangmu atas pernikahan” maka keduanya adalah terang dalam hal merujuk. Dan ucapan perujuk “Aku mengawinmu ” atau “Aku menikahmu” keduanya adalah kinayah (sindiran).

Syaratnya Orang Yang Merujuk

وَشَرْطُ الْمُرْتَجِعِ إِنْ لَمْ يَكُنْ مُحْرِماً أَهْلِيَّةَ النِّكَاحِ بِنَفْسِهِ، وَحِيْنَئِذٍ فَتَصِحُ رَجْعَةُ السُّكْرَانِ لَا رَجْعَةُ الْمُرْتَدِّ، وَلَا رَجْعَةُ الصَّبِيِّ وَالْمَجْنُوْنِ، لِأَنَّ كُلاًّ مِنْهُمْ لَيْسَ أَهْلاً لِلنِّكَاحِ بِنَفْسِهِ بِخِلَافِ السَّفِيْهِ وَالْعَبْدِ فَرَجَعْتُهُمَا صَحِيْحَةٌ مِنْ غَيْرِ إِذْنِ الْوَلِيِّ وَالسَّيِّدِ، وَإِنْ تَوَقَفَ اِبْتِدَاءً نِكَاحُهُمَا عَلَى إِذْنِ الْوَلِيِّ وَالسَّيِّدِ 

Syarat orang yang merujuk yaitu jika dia bukan orang yang ihram, maka harus orang yang ahli nikah dengan sadar diri, dan ketika yang demikian itu, maka sahlah Rujuknya orang yang mabuk, tidak sah Rujuknya orang Murtad, anak kecil dan orang gila, karena masing-masing mereka itu bukan orang yang ahli nikah dengan sadar diri. Berbeda dengan orang bodoh dan budak, maka perujukan keduanya adalah sah tanpa sepengetahuan sang Wali atau Sayyid (Tuan), meskipun permulaan pemikahan keduanya terhenti sebentar untuk memperoleh ijin sang Wali dan Tuan.

Habis Masa ‘Iddah

فَإِنِ انْقَضَتْ عِدَّتُهَا) أَيْ الرَّجْعِيَّةِ (حَلَّ لَهُ) أَيْ زَوْجِهَا (نِكَاحُهَا بِعَقْدٍ جَدِيْدٍ وَتَكُوْنُ مَعَهُ) بَعْدَ الْعَقْدِ (عَلَى مَا بَقِيَ مِنَ الطَّلَاقِ) سَوَاءٌ اِتَّصَلَتْ بِزَوْجٍ غَيْرِهِ أَمْ لَا 

Jika sudah sampai (habis) masa iddah si perempuan yang tertalak Raj’i, maka halal bagi sang laki laki (suami) menikahnya dengan akad nikah yang baru.

Dan perempuan yang tertalak Raj’i bersama suaminya sesudah terjadi akad nikah yang baru itu, maka baginya masih ada sisa dari Talak, baik perempuan tersebut sudah bertemu dengan suami lainnya (suami bukan yang pertama, pen.) atau tidak.

Keterangan:

  1. Tidak disyaratkan dalam shighat Rujuk terdapat pentakliqan misalnya : “Aku merujuk dirimu, jika engkau mau”.
  2. Juga tidak disyaratkan dalam perujukan untuk mempersaksikan tetapi hanya sunnah status hukumnya.
  3. Apabila seorang laki-laki menikahi kembali isteri yang telah ditalak Raj’i (kurang dari Talak tiga) sekalipun perempuan itu sudah pernah dinikah laki-laki lain dan digauli, maka perempuan tersebut kembali ke tangannya dengan sisa Talak yang masih ada, baik itu satu atau dua (sisanya).

Suami Menjatuhkan Talak Tiga

فَإِنْ طَلَّقَهَا) زَوْجُهَا (ثَلَاثاً) إِنْ كَانَ حُراً أَوْ طَلَقَتَيْنِ إِنْ كَانَ عَبْداً قَبْلَ الدُّخُوْلِ أَوْ بَعْدَهُ (لَمْ تَحِلَّ لَهُ إِلَّا بَعْدَ وُجُوْدِ خَمْسِ شَرَائِطَ) أَحَدُهَا (اِنْقِضَاءُ عِدَّتِهَا مِنْهُ) أَيْ الْمُطْلَقِ. (وَ) الثَّانِي (تَزْوِيْجُهَا بِغَيْرِهِ) تَزْوِيْجاً صَحِيْحاً. (وَ) الثَّالِثُ (دُخُوْلُهُ) أَيْ الْغَيْرِ (بِهَا وَإِصَابَتُهَا) بِأَنْ يُوْلِجَ حَشَفَتَهُ أَوْ قَدْرَهَا مِنْ مَقْطُوْعِهَا بِقُبُلِ الْمَرْأَةِ لَا بِدُبُرِهَا بِشَرْطِ الْاِنْتِشَارِ فِيْ الذَّكَرِ، وَكَوْنُ الْمُوْلِجُ مِمَّنْ يُمْكِنُ جِمَاعُهُ لَا طِفْلاً. (وَ) الرَّابِعُ (بَيْنُوْنَتُهَا مِنْهُ) أَيْ الْغَيْرِ. (وَ) الْخَامِسُ (اِنْقِضَاءُ عِدَّتِهَا مِنْهُ)

Apabila si suami menjatuhkan Talak tiga kepada sang isteri jika orang yang bebas (merdeka), atau Talak dua jika budak sebelum terjadi jimak atau sesudahnya, maka tidak halal baginya (untuk kembali lagi dengan isterinya itu ) kecuali setelah adanya 5 syarat, yaitu :

  1. Sudah sampai (habis) masa iddah sang perempuan dari suami yang mentalaknya.
  2. Perempuan itu sudah kawin lagi dengan laki -laki selain .suami yang mentalaknya dengan perkawinan yang sah .
  3. Sang suami lain (bukan yang pertama) tersebut sudah menjimaknya dan sudah mengenai (sasaran) nya, yaitu sekira sudah memasukkan hasyafah (penis) atau menurut perkiraan bagi orang yang telah putus hasyafahnya dengan di masukkan ke dalam kubul (fagina) perempuan tidak cukup memasukkannya ke dalam duburnya, dan dengan syarat alat vital (dzakar) harus tegang serta yang memasukkan itu adalah orang yang mampu menjimaknya, tidak cukup anak kecil.
  4. Pihak suami (bukan yang mentalak) sudah mentalak Ba-in kepadanya.
  5. Telah selesai (habis) masa iddahnya dari suami lain tersebut
Rujuk
Rujuk

Demikian Materi tentang kami ; Rujuk; Pengertian, Hukum dan Penjelasannya Menurut Fiqih mudah-mudahan saja materi yang sesingkat ini dapat difahami oleh para pembaca. Mohon abaikan saja bila dalam materi tersebut tidak sefaham dengan para pembaca. Terimaksih kami ucapka atas kunjungannya.