Sunnah Shalat : Sebelum dan Sedang Dalam Mengerjakannya

3 min read

Sunnah Shalat Sebelum dan Sedang Dalam Mengerjakannya.jpg

Sunnah Shalat : Sebelum dan Sedang Dalam Mengerjakannya – Pada kesemptan ini Fiqih.co.id akan melanjutkan tentang Sunnahnya Shalat Menurut Fiqih. Dan uraian berikut ini merupakan lanjutan dari Pasal Rukun Shalat.

Sunnah Shalat : Sebelum dan Sedang Dalam Mengerjakannya

Adapun Uraian Tentang Sunnahnya Shalat yang kami sampaikan di sini, ialah mulai dari Sunnah Sebelum dan Sedang Dalam Mengerjakan Shalat.

Mukodimah

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ تَبَرُكًا بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ،  وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ الْكَرِيْمِ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ

Para Pembaca Kaum Muslimiin muslimat, mukminiin mukminat dan Para Santri, Rahimakumllah. Dalam pembahasan berikuit ini kami melanjutkan pembahasan dari rukun shalat yang sebelumnya.  Namun pada kesempatan ini yang kami smapiakan bukan rukunnya, tapi ini adalah sunnahnya.

Oleh karena itu ma’afkan juga kami jika uraian ini tidak berkenan. Baiklah mari kita lanjutkan membaca dan mempelajari sunnah sebelum dan sedang dalam mengerjakan shalat:

Sunnah di dalam shalat

وَ) سُنَنُهَا (بَعْدَ الدُّخُوْلِ فِيْهَا شَيْئَانِ التَّشَهُدُ الْأَوَّلِ وَالْقُنُوْتُ فِيْ الصُّبْحِ) أَيْ فِيْ اِعْتِدَالِ الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ مِنْهُ، وَهُوَ لُغَةً الدُّعَاءُ وَشَرْعاً ذِكْرٌ مَخْصُوْصٌ، وَهُوَ اللَّهُمَّ اهْدِنِيْ فِيْمَنْ هَدَيْتَ وَعَافِنِيْ فِيْمَنْ عَافَيْتَ الخ)

Sunnah-sunnah shalat yang perlu dikerjakan di dalam shalat itu ada 2 perkara. Yaitu tahiyyat pertama dan Qunut dalam shalat Shubuh. Qunut tersebut adalah ketika berada di dalam i’tidal rakaat kedua.

Makna “Qunut” menurut bahasa ialah ”doa”. Sedang menurut syara’ ialah dzikir yang sudah dikhususkan. Adapun lafadz dzikir yang sudah dikhususkan itu (Qunut) sebagai berikut ni :

اَللّهُمَّ اهْدِنِىْ فِيْمَنْ هَدَيْتَ ۞ وَعَافِنِى فِيْمَنْ عَافَيْتَ ۞ وَتَوَلَّنِىْ فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ ۞ وَبَارِكْ لِىْ فِيْمَا اَعْطَيْتَ ۞ وَقِنِيْ بِرَحْمَتِكَ  شَرَّمَا قَضَيْتَ ۞ فَاِ نَّكَ تَقْضِىْ وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ ۞ وَاِنَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ ۞ وَلاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ ۞ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ ۞ فَلَكَ الْحَمْدُ عَلَى مَا قَضَيْتَ ۞ اَسْتَغْفِرُكَ وَاَتُوْبُ اِلَيْكَ ۞ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ اْلاُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

Qunut Akhir Shalat Witir Pertengahan Ramadhan

﯁(وَ) الْقُنُوْتُ (فِي) آخِرِ (الْوِتْرِ فِي النِّصْفِ الثَّانِي مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ) وَهُوَ كَقُنُوْتِ الصُّبْحِ الْمُتَقَدِّمِ فِيْ مَحَلِّهِ وَلَفْظِهِ، وَلَا تُتَعَيَنُ كَلِمَاتُ الْقُنُوْتِ السَّابِقَةِ، فَلَوْ قَنَتَ بِآيَةٍ تَتَضَمَنُ دُعَاءَ وَقَصَدَ الْقُنُوْتَ حَصَلَتْ سُنَّةَ الْقُنُوْتِ

Qunut yang dikerjakan dalam akhirnya shalat witir dalam setengah yang akhir dari bulan Ramadhan. Qunut tersebut adalah seperti halnya Qunut Shubuh yang sudah disebutkan tadi, baik tempatnya maupun lafadznya.

BACA JUGA :  Perkara Yang Tertinggal Dalam Shalat : (Fardhu, Sunnah & Haiat)

Meskipun demikian, kalimah-kalimah Qunut itu tadi tidaklah ditentukan. Oleh karena itu jika seseorang membaca Qunut dengan bentuk ayat-ayat Al-Qur’an yang mengandung doa.

Dan ia bermaksud (membaca Qunut) maka ia sudah dinyatakan mendapat kesunnatannya Qunut.

Sunnah Haiat Shalat

﯁(وَهَيْئَاتُهَا) أيْ الصَّلَاةِ وَأَرَادَ بِهَيْئَاتِهَا مَا لَيْسَ رُكْناً فِيْهَا، وَلَا بَعْضاً يُجْبَرُ بِسُجُوْدِ السَّهْوِ (خَمْسَةَ عَشَرَ خَصْلَةً: رَفْعُ الْيَدَيْنِ عِنْدَ تَكْبِيْرَةِ اْلإِحْرَامِ) إِلَى حَذْوِ مَنْكَبَيْهِ (وَ) رَفْعُ الْيَدَيْنِ (عِنْدَ الرُّكُوْعِ وَ) عِنْدَ (الرَّفْعِ مِنْهُ وَوَضْعُ الْيَمِيْنِ عَلَى الشِّمَالِ) وَيَكُوْنَانِ تَحْتَ صَدْرِهِ وَفَوْقَ سُرَّتِهِ

Sunnah haiatnya shalat, yaitu hal-hal yang bukan termasuk rukun dalam shalat dan bukan sunnah yang dapat ditambal dengan sujud sahwi. Sunnah haiatnya shalat itu ada 15 perkara, yaitu :

  1. Mengangkat kedua tangan ketika Takbiratul Ihram sampai tepat pada kedua pinggulnya.
  2. Mengangkat kedua tangan ketika ruku’ dan ketika bangun dari ruku’. Dan meletakkan tangan kanan di atas pergelangan tangan yang kiri, di bawah dada dan di atas pusar.

وَالتَّوَجُهُ) أَيْ قَوْلُ الْمُصَلِّي عَقِبَ التَّحَرُّمِ: وَجَهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَاْلأرْضَ الخ. وَالْمُرَادُ أَنْ يَقُوْلَ الْمُصَلِّي بَعْدَ التَّحَرُّمِ دُعَاءَ اْاِ فْتِتَاحِ هَذِهِ الْآيَةَ أَوْ غَيْرَهَا مِمَّا وَرَدَ فِيْ الْاِسْتِفْتَاحِ)

  1. Membaca: وَجَهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَاْلأرْضَ yakni ucapan orang yang shalat mengiringi sesudah Takbiratul Ihram. Adapun lafadinya adalah sebagai berikut :

وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَالسَّمَاوَاتِ وَالْااَرْضَ حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا اَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ . اِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلهِ رَبِّ الْعَا لَمِيْنَ . لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَبِذَ لِكَ اُمِرْتُ وَاَنَا مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

Adapun yang dikehendaki dengan ucapan orang yang shalat sesudah Takbiratul Ihram yaitu doa Iftitah. Dengan ayat ini atau lainnya dari bacaan-bacaan yang biasa berlaku di dalam doa Iftitah.

Ta’awudz Takmin & Surat Ba’da Fatihah

﯁(وَالْاِسْتِعَاذَةُ) بَعْدَ التَّوَجُهِ وَتَحْصِلُ بِكُلِّ لَفْظٍ يَشْتَمِلُ عَلَى التَّعَوُّذِ، وَاْلأفْضَلُ أَعُوْذُباِللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

  1. Membaca Isti’adzah sesudah membaca Tawajuh (doa Iftitah). Boleh membaca isti’adzah dengan lafadz apa saja yang mengandung ‘Ta’awwudz artinya mengharap penjagaan. Dan yang paling baik yaitu :أَعُوْذُباِللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ A’udzu billahi minasy-syaithoonirrojiim.

﯁(وَالْجَهْرُ فِيْ مَوْضِعِهِ) وَهُوَالصُّبْحُ وَأَوَلَتَا الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ وَالْجُمْعَةُ وَالْعِيْدَانِ (وَالْإسْرَارِ فِيْ مَوْضِعِهِ) وَهِيَ مَا عَدَا الَّذِيْ ذُكِرَ

  1. Membaca dengan suara keras. Pada tempatnya yaitu pada shalat Shubuh. Pada dua rakaat yang awal dalam shalat Maghrib dan Isyak. Pada shalat Jum’at dan shalat dua Hari Raya. Juga sunnah merendahkan suara bacaan ayat-ayat pada tempatnya, yaitu pada rakaat-rakaat selain yang tersebut itu tadi.
BACA JUGA :  Yang Membatalkan Shalat : Bilangan Perkaranya Dalam Fiqih

﯁(وَالتَّأْمِيْنُ) أَيْ قَوْلُ آمين عَقِبَ الْفَاتِحَةِ لِقَارِئِهَا فِيْ صَلَاةٍ وَغَيْرِهَا، لَكِنْ فِيْ الصَّلَاةِ آكِدٌ وَيُؤْمِنُ الْمَأْمُوْمُ مَعَ تَأْمِيْنِ إِمَامِهِ، وَيجْهَرُ بِهِ

  1. Membaca (آمين) mengiringi bacaan Fatihah, bagi orang yang dalam shalatnya membaca Fatihah, demikian pula di luar shalat. Tetapi mem baca ” Aamiin” dalam shalat itu lebih ditekankan. Bagi makmum hendaknya membaca ”Aamiin” berbarengan dengan Aamiinnya Imam, dan hendaknya dibaca dengan suara keras.

﯁(وَقِرَاءَةُ السُّوْرَةِ بَعْدَ الْفَاتِحَةِ) لِإِمَامٍ وَمُنْفَرِدٍ فِي رَكْعَتَيْ الصُّبْحِ وَأَوَلَتَيْ غَيْرِهَا، وَتَكُوْنُ قِرَاءَةُ السُّوْرَةِ بَعْدَ الْفَاتِحَةِ، فَلَوْ قَدَّمَ السُّوْرَةَ عَلَيْهَا لَمْ تُحْسَبْ

  1. Membaca surat sesudah membaca Fatihah. Yaitu bagi Imam dan yang shalat sendirian di dalam dua rakaatnya shalat Shubuh dan dua yang awal selain shalat Shubuh. Surat tersebut harus dibaca sesudah selesai membaca Fatihah. Oleh karena itu maka apabila seseorang yang shalat itu membaca surat sebelum Fatihah maka bacaannya itu tidak dihitung.

Takbir Dan Tasbih

﯁(وَالتَّكْبِيْرَاتُ عِنْدَ الْخَفْضِ) لِلرُّكُوْعِ (وَالرَّفْعِ) أيْ رَفْعِ الصُّلْبِ مِنَ الرُّكُوْعِ (وَقَوْلُ سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ) حِيْنَ يَرْفَعُ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوْعِ. وَلَوْ قَالَ مَنْ حَمِدَ اللهَ سَمِعَ لَهُ كَفَى، وَمَعْنَى سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ تَقَبَّلَ اللهُ مِنْهُ حَمْدَهُ وَجَازَاهُ عَلَيْهِ وَقَوْلُ الْمُصَلِّي (رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ) إِذَا انْتَصَبَ قَائِماً

  1. Bertakbir ketika hendak turun karena ruku’ dan ketika bangun dariruku’.
  2. Membaca: (سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ) ketika mengangkat kepala dari ruku’. Seandainya orang yang shalat itu membaca : (مَنْ حَمِدَ اللهَ سَمِعَ لَهُ) maka bacaan tersebut mencukupi (boleh). Adapun arti dari ucapan ”Sami’allahu Liman Hamidah”. Adalah: “Semoga Allah menerima pujian orang yang shalat dan semoga Allah membalas kepadanya”. Dan membaca: (رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ) ketika sudah berdiri tegak.

وَالتَّسْبِيْحُ فِيْ الرُّكُوْعِ) وَأَدْنَى الْكَمَالِ فِيْ التَّسْبِيْحِ سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيْمِ ثَلَاثاً)

  1. Membaca Tasbih di dalam ruku’. Adapun bacaan tasbih yang mendekati sempurna yaitu:

(سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيْمِ) berulang sampai 3 kali.

﯁(وَ) التَّسْبِيْحُ فِي (السُّجُوْدِ) وَأدْنَى الْكَمَالِ فِيْهِ سُبْحَانَ رَبِّيَ اْلأعْلَى ثَلَاثاً وَالْأكْمَلُ فِيْ تَسْبِيْحِ الرُّكُوْعِ وَالسُّجُوْدِ مَشْهُوْرٌ

  1. Membaca Tasbih di dalam sujud. Bacaan tasbih dalam sujud yang mendekati sempurna yaitu:

(سُبْحَانَ رَبِّيَ اْلأعْلَى) berulang sampai 3 kali. Sedang yang paling sempurna bacaan tasbih dalam ruku’ dan sujud itu sudah populer.

(وَوَضْعُ الْيَدَيْنِ عَلَى الْفَخْذَيْنِ فِي الْجُلُوْسِ) لِلتَشَهُدِ الْأَوَّلِ وَاْلأخِيْرِ (يَبْسُطُ) الْيَدَ (الْيُسْرَى) بِحَيْثُ تَسَامَتْ رُؤُوْسُهَا الرُّكْبَةَ (وَيَقْبُضُ) الْيَدَ (الْيُمْنَى) أَيْ أَصَابِعَهَا (إِلَّا الْمُسَبِّحَةَ) مِنَ الْيُمْنَى فَلَا يَقْبُضُهَا (فَإِنَّهُ يُشِيْرُ بِهَا) رَافِعاً لَهَا حَالَ كَوْنِهِ (مُتَشَهِداً) وَذَلِكَ عِنْدَ قَوْلِهِ إِلَّا اللهُ وَلَا يُحَرِّكُهَا، فَإِنْ حَرَكَهَا كُرِهَ وَلَا تَبْطُلُ صَلَاتُهُ فِيْ اْلأصَحِ

Meletakkan kedua tangan di atas dua paha di waktu duduk karena hendak Tahiyyat pertama dan akhir. Pada Tahayita tersebut dengan membeberkan tangan yang kiri sekira ujung jari-jemarinya sejajar dengan lutut.

BACA JUGA :  Sholat Mayit Anak kecil, Laki Peraktek, Doa & Hadiah Fatihah

Dan sunnah menggenggamkan jari-jari tangan kanan kecuali jari telunjuknya, maka tidak perlu menggenggamkannya.

Sebab dengan jari itulah orang yang shalat dapat memberi petunjuk seraya mengangkatnya ketika membaca tahiyyat. Yaitu ketika sampai kepadaucapan: (إِلَّا اللهُ) Tidak boleh jari penunjuk itu digerak-gerakkan. Jika digerak-gerakkan maka hukumnya makruh dan menurut pendapat yang lebih shaheh, maka shalatnya orang tersebut tidak bathal.

Duduk Iftirasy

﯁(وَالْاِفْتِرَاشُ فِيْ جَمِيْعِ الْجَلَسَاتِ) الْوَاقِعَةِ فِيْ الصَّلَاةِ كَجُلُوْسِ اْاِوسْتِرَاحَةِ، وَالْجُلُوْسُ بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ، وَجُلُوْسُ التَّشَهُدِ الْأَوَلِ، وَالْاِفْتِرَاشُ أَنْ يَجْلِسَ الشَّخْصُ عَلَى كَعْبِ الْيُسْرَى جَاعِلاً ظَهْرَهَا لِلْأَرْضِ، وَيَنْصِبُ قَدَمَهُ الْيُمْنَى وَيَضَعُ بِالْأَرْضِ أَطْرَافَ أَصَابِعِهَا لِجِهَةِ الْقِبْلَةِ

  1. Duduk Iftirasy dalam semua duduk yang terjadi dalam shalat. Seperti duduk karena istirahat, duduk di antara dua sujud dan duduk karera tahiyyat awal. Duduk Iftirasy ialah seseorang yang duduk di atas telapak kaki kiri dan menjadikan punggung kakinya ke bumi (alas). Menegakkan telapak kaki yang kanan dan meletakkan ujung jari-jarinya di atas bumi dihadapkan ke arah qiblat.

Duduk Tawaruk

﯁(وَالتَّوَرُكِ فِيْ الْجَلْسَةِ اْلأَخِيْرَةِ) مِنْ جَلَسَاتِ الصَّلَاةِ، وَهِيَ جُلُوْسُ التَّشَهُدِ اْلأَخِيْرِ وَالتَّوَرُكِ مِثْلَ اْاِافْتِرَاشِ، إِلَّا أَنَّ الْمُصًلَّي يُخْرِجُ يَسَارَهُ عَلَى هَيْئَتِهَا فِيْ اْاِوفْتِرَاشِ مِنْ جِهَةِ يَمِيْنِهِ، وَيلْصُقُ وَرَكَهُ بِاْلأَرْضِ، أَمَّا الْمَسْبُوْقُ وَالسَّاهِي فَيَفْتَرِشَانِ وَلاَ يَتَوَرُكَانِ

  1. Duduk Tawarruk dalam duduk akhir dari beberapa duduk yang ada di dalam shalat, yaitu duduk Tahiyyat akhir. Duduk Tawarruk itu sama dengan duduk Iftirasy, hanya orang yang shalat tersebut mengeluarkan kaki kirinya dari keadaannya dalam duduk Iftirasy. Mengeluarkannya dari arah kanan dan kemudian orang tersebut mempertemukan pantatnya dengan bumi (alas duduk). Adapun makmum yang kedahuluan imam (masbuq) dan orang yang lupa, maka supaya keduanya melakukan duduk Iftirasy, jangan sampai duduk Tawarruk.

وَالتَّسْلِيْمَةُ الثَّانِيَةُ) أَمَّا اْلأُوْلَى فَسَبَقَ أَنَّهَا مِنْ أَرْكَانِ الصَّلَاةِ)

15.Salam yang kedua. Adapun salam yang pertama maka sudah terdahulu keterangannya, bahwa ia termasuk ke dalam rukun-rukun shalat.

Sunnah Shalat Sebelum dan Sedang Dalam Mengerjakannya.jpg
Sunnah Shalat Sebelum dan Sedang Dalam Mengerjakannya.jpg

Demikian Sunnah Shalat : Sebelum dan Sedang Dalam Mengerjakannya – Semoga bermanfaat dan memberikan tambahan ilmu pengetahuan untuk kita semua. Abaikan saja uraia kami ini jika pembaca tidak sependapat.Terima kasih atas kunjungannya. Wallahu A’lamu bish-showab.