Hudud; Kitab Menerangkan Macam-macam Had

Diposting pada

Hudud; Kitab Menerangkan Macam-macam Had Yakni bermacam hukuman, ini juga penting bagi kita untuk difahami. Pada artikel ini fiqih.co.id  akan memberikan penjelasan tentang Tema tersebut.

Di dalam kitab fiqih: “Fathul qoribul Mujib” pada KITAB BAYANIL HUDU telah diterangkan mengani macam-macam had. Oleh karenanya Yuk kita langsung simak saja pada pokok pembahasan kita di bawah ini.

Hudud; Kitab Menerangkan Macam-macam Had

(كِتَابُ بَيَانِ الْحُدُوْدِ )

  جَمْعُ حَدٍّ وَهُوَ لُغَةً الْمَنْعُ وَسُمِّيَتْ الْحُدُوْدُ بِذَلِكَ لِمَنْعِهَا مِنْ اِرْتَكَابِ الْفَوَاحِشِ، وَبَدَأَ الْمُصُنِّفُ مِنَ الْحُدُوْدِ بِحَدِّ الزِّنَى الْمَذْكُوْرِ فِيْ أَثْنَاءِ قَوْلِهِ

Kata “Hudud” (حدود) adalah jamak dari kata “Haddun”  (Menurut bahasa ia mempunyai makna “mencegah” (melarang), dan dinamai kata Hudud dengan Had yang bermakna mencegah karena Ia mencegah dari mengerjakan beberapa perbuatan jelek.  Mushannif memulai keterangannya tentang Hudud dengan Had (hukuman) zina yang disebutkan di tengah-tengah perkataannya.

Macam Zina

Zina itu ada dua macam sebagaimana diterangkan dalm fiqih sebagai berikut;

وَالزَّانِي عَلَى ضَرْبَيْنِ مُحْصَنٍ وَغَيْرِ مُحْصَنٍ فَالْمُحْصَنُ) وَسَيَأْتِيْ قَرِيْباً أَنَّهُ الْبَالِغُ الْعَاقِلُ الْحُرُّ الَّذِيْ غَيَّبَ حَشَفَتَهُ أَوْ قَدْرَهَا مِنْ مَقْطُوْعِهَا بِقُبُلٍ فِيْ نِكَاحٍ صَحِيْحٍ (حَدُّهُ الرَّجْمُ) بِحِجَارَةٍ مُعْتَدِلَةٍ لَا بِحَصًى صَغِيْرَةٍ وَلَا بِصَخْرٍ 

Bahwa orang yang berzina itu ada dua macam, yaitu zina Mukhshan dan yang bukan Mukhsan.
Dan secara serentak akan diterangkan, bahwasanya “Mukhshan” adalah orang yang sudah dewasa berakal sehat, dan merdeka yang memasukkan Hasyafahnya atau sekadarnya dan orang yang terputus Hasyafahnya ke dalam farji (vagina) dalam ikatan pernikahan yang sah.
Adapun hukuman zina Mukhshan yaitu di Rajam (dilempari) dengan batu yang normal, tidak cukup dengan kerikil kecil dan pula tidak dengan batu besar.

Keterangan:
Pengertian zina yaitu suatu dosa besar yang paling besar setelah pembunuhan. Juga ada pendapat, bahwa zina itu lebih besar dosanya dari pada pembunuhan.

Had Zina Ghair Mukhshan

Hudud berikutnya yakni macah had yang diberlakukan bagi zina ghair mukhshan adalah sebagai berikut;

وَغَيْرُ الْمُحْصَنِ) مِنْ رَجُلٍ أَوِ امْرَأَةٍ (حَدُّهُ مِائَةُ جَلْدَةٍ) سُمِيَّتْ بِذَلِكَ لِاِتِّصَالِهَا بِالْجِلْدِ (وَتَغْرِيْبُ عَامٍ إِلَى مَسَافَةِ الْقَصْرِ) فَأَكْثَرَ بِرَأْيِ الْإِمَامِ وَتُحْسَبُ مُدَّةُ الْعَامِ مِنْ أَوَلِ سَفَرِ الزَّانِيْ لَا مِنْ وُصُوْلِهِ مَكَانَ التَّغْرِيْبِ، وَالْأَوْلَى أَنْ يَكُوْنَ بَعْدَ الْجِلْدِ (وَشَرَائِطُ الْإِحْصَانِ أَرْبَعٌ) الْأَوَلُ وَالثَّانِيْ (الْبُلُوْغُ وَالْعَقْلُ) فَلَا حَدَّ عَلَى صَبِيٍّ وَمَجْنُوْنٍ بَلْ يُؤْدَبَانِ بِمَا يُزْجِرُهُمَا عَنِ الْوُقُوْعِ فِي الزِّنَى

Adapun orang zina yang bukan Mukhshan dari orang laki-laki atau perempuan, maka hukumannya yaitu 100 kali jilidan. Dinamakan ia dengan “jilid” karena cambukan itu bertemu dengan kulit. Dan diasingkan (dibuang jauh) selama satu tahun ke tempat (sejauh) boleh mengqashar shalat dan boleh jadi lebih jauh menurut keputusan imam. Masa satu tahun itu diperhitungkan dari permulaan kepergiannya orang yang berzina, tidak dari sesampainya ke tempat pembuangan (pengasingan). Adapun yang lebih utama mengasingkannya adalah sesudah di cambuk (dijilid ). Syarat-syarat Mukhshan yaitu ada empat :

  1. Sudah dewasa.
  2. Berakal sehat, maka tidak ada hukuman zina bagi anak kecil dan orang gila, tetapi keduanya diberi pelajaran dengan hal-hal yang dapat mencegahnya dari jatuh ke dalam jurang perzinaan.

وَ) الثَّالِثُ (الْحُرِيَّةُ) فَلَا يَكُوْنُ الرَّقِيْقُ وَالْمُبَعَّضُ وَالْمُكَاتَبُ وَأُمُّ الْوَلَدِ مُحْصَناً، وَإِنْ وَطِىءَ كُلٌّ مِنْهُمْ فِيْ نِكَاحٍ صَحِيْحٍ. (وَ) الرَّابِعُ (وَجُوْدُ الْوَطْءِ) مِنْ مُسْلِمٍ أَوْ ذِمِيٍّ (فِيْ نِكَاحٍ صَحِيْحٍ) وَفِيْ بَعْضِ النُّسْخِ فِيْ النِّكَاحِ الصَّحِيْحِ، وَأَرَادَ بِالْوَطْءِ تَغْيِيْبُ الْحَشَفَةِ أَوْ قَدْرِهَا مِنْ مَقْطُوْعِهَا بِقُبُلٍ، وَخَرَجَ بِالصَّحِيْحِ الْوَطْءُ فِيْ نِكَاحٍ فَاسِدٍ، فَلَا يَحْصُلُ بِهِ التَّحْصِيْنُ 

3  Merdeka, maka tidak ada budak, Muba’ad, Mukatab dan Ummul Walad berstatus Mukhshan, meskipun masing-masing mereka sudah pernah bersenggama dalam ikatan
pernikahan yang sah.

  1. Wujudnya jimak dari orang Islam atau Kafir Dzimmi dalam ikatan pernikahan yang sah. Menurut sebagian keterangan (dikatakan) dalam suatu ikatan pernikahan yang shaheh.
    Mushannif menghendaki pengertian Wathi (jimak) yaitu memasukkan khasyafah atau sekedarnya bagi orang yang putus Hasyafahnya ke dalam qubul (farji). Kecuali dengan ikatan pernikahan yang sah, yaitu wathi (jimak) dalam ikatan pernikahan yang Fasid (rusak), maka pengertian Mukhshan tidak dapat berhasil dalam kaitannya dengan pernikahan yang Fasid.

Penjelasan Zina Mukhshan

Keterangan :

1.Zina Mukhshan itu ialah zina seorang laki-laki atau perempuan yang memenuhi syarat-syarat tersebut di atas. Bagi Imam Malik dan Imam Abu Hanifah menambaahkan syarat lagi yaitu masing-masing harus Islam agamanya. Zina Mukhshan ini mengakibatklan adanya had (hukuman) Rajam yuitu dilempar batu sampai mati. Pelaksanaan hukuman ini dikerjakan di hadapan orang ramai untuk diambil pelajaran bagi mereka.

  1. Apabila yang berzina itu tidak memenuhi syarat-syarat sebagaimana tersebut di atas (yakni syarat-syarat zina Mukhshan), maka ia dinamai zina Ghair Mukhshon. Zina ini dapat ber’akibat terkena Had (hukuman) berupa dera (cambuk) sampai 100 kali, tapi hukuman dera ini tidak boleh melampaui batas, misalnya sampai mati. Hukuman ini juga dilaksanakan di hadapan orang banyak dengan tujuan agar dapat dambil pelajaran oleh mereka, sesudah didera kemudian diasingkan (dibuang jauh) sejauh jarak seseorang boleh mengqashar shalat. (± 90 atau 100 km.
  2. Tetapi tidak dapat dikenakan Had dera 100 kali, jika dalam melakukan perzinaan (Ghair Mukhshan) dengan menduga kehalalannya karena status pelaku zina baru saja memeluk agama Islam atau hidup terasing jauh dari ahli agama (dari Ulama)

Had Abid dan Amat

Hudud selanjutnya yakni macam had berikutnya ialah mengnai had Abi dan Amat diterangkan sebagaui berikut;

وَالْعَبْدُ وَالْأَمَةُ حَدُّهُمَا نِصْفُ حَدِّ الْحُرِّ فَيُحَدُّ كُلٌّ مِنْهُمَا خَمْسِيْنَ جَلْدَةً، وَيُغْرَبُ نِصْفَ عَامٍ وَلَوْ قَالَ الْمُصَنِّفُ : وَمَنْ فِيْهِ رِقٌّ حَدُّهُ الخ … كَانَ أَوْلَى لِيَعُمَّ الْمُكَاتَبُ وَالْمُبعَّضُ وَأُمُّ الْوَلَدِ 

Adapun budak atau perempuan amat, maka had (hukuman) yang berlaku atas keduanya yaitu separoh Had orang merdeka. Masing-masing dari keduanya supaya dihad berupa dera 50 kali dan diasingkan setengah tahun saja. Jika Mushannif  berpendapat . “Dan orang yang berktetapan sifat budak, maka hukurnannya……..” maka yang demikian itu adalah lebih utama, supaya dapat mencakup pengertian budak Mukatab. Muba’adl dan Ummul Walad.

Hukum Liwath

Apa yang dimaksud dengan kata liwath dan bagaimana hadnya?, ini juga bagian dari macam hudud, uraiannya adalah sebagai berikut;

وَحُكْمُ اللِّوَاطِ وَإِتْيَانُ الْبَهَائِمِ كَحُكْمِ الزِّنَى) فَمَنْ لَاطَ بِشَخْصٍ بِأَنْ وَطِئَهُ فِيْ دُبُرُهِ حُدَّ عَلَى الْمَذْهَبِ، وَمَنْ أَتَى بَهِيْمَةً حُدَّ كَمَا قَالَ الْمُصُنِّفُ، لَكِنْ الرَّاجِحُ أَنَّهُ يُعْزَرُ (وَمَنْ وَطِىءَ) أَجْنَبِيَّةً (فِيْمَا دُوْنَ الْفَرْجِ عُزِرَ وَلَا يَبْلُغُ) الْإِمَامُ (بِالتَّعْزِيْرِ أَدْنَى الْحُدُوْدِ) فَإِنْ عَزَّرَ عَبْداً، وَجَبَ أَنْ يَنْقُصَّ فِيْ تَعْزِيْرِهِ عَنْ عِشْرِيْنَ جَلْدَةً أَوْ عَزَّرَ حُرّاً وَجَبَ أَنْ يُنْقُصَّ فِيْ تَعْزِيْرِهِ عَنْ أرْبَعِيْنَ جَـلْدَةً، لِأَنَّهُ أَدْنَى حَدٍّ كُلٌّ مِنْهُمَا

Adapun bentuk hukuman Liwath (jimak pada dubur) dan mengumpuli binatang adalah seperti hukum berzina. Barang siapa Wathi dubur dengan seseorang dimana dia mewathi dalam duburnya, maka harus dihad menurut pendapat madzhab dan barang siapa mengumpuli binatang juga harus dihad, sebagaimana pendapat Mushaiinif Tapi menurut Qaul Rajih (pendapat yang unggul) sesungguhnya orang tersebut harus dita’zir (dihajar).

Barang siapa melakukan Wathi dengan prempuan lain (Ajnabiyah) pada sesuatu selain farji, maka ditakzirlah dan didalam mentakzir si Imam tidak boleh melaksanakan di bawah (aturan) hudud.
Apabila si Imam mentakzir hamba (budak) maka wajib mengurangi pentakzirannya dari dua puluh jilidan, atau juga sekiranya dia mentakzir orang merdeka, maka wajib baginya (imam) mengurangi pentakzirannya dari empat puluh jilidan, karena hal itu adalah serendah -rendahnya had masing-masing dari keduanya (hamba dan orang yang merdeka)

Hudud
Hudud

Demikian Materi tentang ; Hudud; Kitab Menerangkan Macam-macam Had semoga saja saja materi yang sesingkat ini dapat difahami oleh para pembaca. Mohon abaikan saja bila dalam materi tersebut tidak sefaham dengan para pembaca. Terimaksih kami ucapka atas kunjungannya.