Sehat adalah Anugerah, Kelapangan ialah Pemberian, jangan sia-siakan

Sehat adalah Anugerah, Kelapangan ialah Pemberian, jangan sia-siakan – Pada halaman ini Fiqih.co.id akan menerangkannya. Pembaca yang rahimakumullah, kadang-kadang kita suka lalai akan nikmat yang telah Allah berikan. Maka pada lembaran ini kami akan terangkan uraiannya di bawah ini.

Daftar Isi

Sehat adalah Anugerah, Kelapangan ialah Pemberian, jangan sia-siakan

Sehat dan kelapangan adalah anugerah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalam Dua kesemptan tersebut sebaiknya jangan sampai disia-siakan. Jika kita tidak ambil pada dua kesempata sehat dan lapang, wallahu a’lam dua kesempatan itu belum tentu akan terulang.

Mukadimah

السّلام عليكم ورحمة الله

وبركاته الحَمْدُ للهِ، وَ اَشْكُرُ عَلَى نِعْمَةِ اللهِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ، وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ:  أَمَّا بَعْدُ

Puji dan syuku selalu kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wa ta’ala. Shalawat dan Salam semoga senantiasa Allah limpahkan kepada Nabi Agung Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa sallam. Pembaca yang kami banggakan. Pada lembaran ini kita akan membicarakan tentang nikmat sehat dan kelapangan.

Mensyukuri nikmat

Betapa banyak nikmat yang Allah telah anugerahkan kepada kita. Jika kita mau menghitung nikmat Allah yang sudah dan sedang kita rasakan ini pastila tidak mampuh untuk menghitungnya. Besrsykurlah atas nikmat yang telah Allah berikan kepada kita, semakin kita mensyukuri nikamt maka Allah pasti akanmenambahnya. Sebagaimana dijelaskan dalam firmanNya:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ، إبراهيم : ٧

Artinya: Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan. “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrahim : 7).

Beribadahlah KepadaNya sebagaimana Alla memerintahkan dalam firmanNya:

فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَذَا الْبَيْتِ، الَّذِي أَطْعَمَهُم مِّن جُوعٍ وَآمَنَهُم مِّنْ خَوْفٍ، سورة قريش : ٣ – ٤

Artinya: Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka’bah).

Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan. (QS. Quraisy : 3-4)

Dan Orang yang bersyukur atas nikmat Allah pasti nikmatnya itu akan ditambah, tetapi sebaliknya jika kufur terhadap nikmat maka siksa Allah amatlah pedih sebgaimana dalam firman-Nya:

Nikmat yang sring disia-siakan

Sebagaimana telah kami sampaikan di atas bahwa sering kali manusia menyia-nyiakan kesempatan. Kesempatan mana yang sering disia-siakan adalah sehat dan kelapangan. Dalam perihal ini rasulullah telah menerangkan dalam sabdanya:

عَنْ اِبْنِ عَبَاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ، قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: نِعْمَتَانِ مَغْبُوْنٌ فِيْهِمَا كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَةُ وَالْفِرَاغُ، رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

Aertinya: Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, katanya: Rasulullah ﷺ bersabda:

“Ada dua macam kenikmatan yang keduanya itu disia-siakan oleh sebahagian besar manusia iaitu kesihatan dan kelapangan waktu”. (Hadits Riwayat Bukhari) dikutip dar Riyadhush-sholihin.

Keterangan Hadits

Lafaz Maghbuun (مَغْبُوْنٌ) dalam Hadis ini, berasal dari kata Ghaban, iaitu membeli sesuatu dengan nilai yang melampaui batas dari yang semestinya dan berlipat-lipat dari yang sebenarnya dibayarkan, jadi yang semestinya dibeli sepuluh rupiah, tiba-tiba dibeli dengan nilai seratus rupiah. Ghaban juga bisa mempunyai arti menjual sesuatu dengan nilai yang sangat rendah, contohnya sesuatu itu bisa dijual dengan nila seribu rupiah, namun hanya dijual dengan nilai seratus rupiah saja.

Mukallaf yakni orang yang sudah baligh dan berakal, oleh Rasulullah ﷺ ditamsilkan sebagai seorang pedagang. Dan kesehatan badan serta kelapangan waktu, iaitu pada posisi yang dalam keadaan longgar, itu diibaratkan sebagai modal harta untuk berdagang, adapun ketaatan kepada Allah Ta’ala itu sebagai benda-benda yang diperdagangkan.

Akan tetapi demikian sebahagian besar ummat manusia tidak memahami alangkah pentingnya memiliki dua macam modal dasar dan ia bingung untuk memilih apa yang akan diperdagangkan, padahal sudah terang modalnya adalah kesihatan serta kelonggaran.

Waktu longgar yang semestinya dimanfaatkan untuk mendapat keuntungan yang sebanyak-banyaknya.

Ketaatan kepada Allah sangatlah menguntungkan. Keuntungan tersebut baik di dunia maupun di akhirat. Bukankah itu pula yang menjadikan wasilah memperolehi keuntungan yang sangat besar?. Tetapi saying sekali semua itu disia-siakan oleh sebahagian ummat manusia ketika mereka masih hidup di dunia ini.

Ia baru akan mengetahuinya kenikmatan sehat dan waktu lapang setealah ia jatuh sakit dan saat sempitnya waktu karena kesibukan.

Mudah-mudahan saja kita semua mendapat perlindungan Allah dari perihal yang sedemikian itu.

Kesungguhan Ibadah Rasulullah

Rasulullah ﷺ meski sudah makshum, belai masih tetap memnunaikan ibadah sunahnya yang luar biasa. Dalam hadits disebutkan sebagai berikut:

عن عائشة رَضِيَ اللَّهُ عَنْها أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَان يقُومُ مِنَ اللَّيْلِ حتَّى تتَفطَرَ قَدمَاهُ، فَقُلْتُ لَهُ، لِمَ تَصْنَعُ هَذَا يَا رَسُوْلَ اللَّهِ، وَقَدْ غَفَرَ اللَّه لَكَ مَا تقدَّمَ مِنْ ذَنبِكَ وَمَا تأخَّرَ؟ قَالَ: أَفَلاَ أُحِبُّ أَنْ أكُونَ عبْداً شكُوراً؟ متفقٌ عَلَيهِ

هَذَا لَفْظُ الْبُخَارِي. وَنَحْوُهُ فِي الصَّحِيْحَيْنِ مِنْ رِوَايَةِ الْمُغِيْرَةِ بْنِ شُعْبَةَ

Artinyas: Dari Aisyah radhiallahu ‘anha bahawasanya Rasulullah ﷺ berdiri untuk beribadat dari sebahagian waktu malam hingga pecah-pecahlah kedua telapak kakinya. Saya (Aisyah) lalu berkata padanya:

“Mengapa Tuan berbuat demikian, ya Rasulullah, sedangkan Allah telah mengampuni untuk Tuan dosa-dosa Tuan yang telah lalu dan yang terkemudian?”

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Apakah aku tidak senang untuk menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?” (Muttafaq ‘alaih)

Ini adalah menurut lafaz al-Bukhari dan yang demikian itu pula ada dalam kitab shahih – Bukhari Muslim dari riwayat Mughirah bin Syu’bah.

Penjelasan hadits:

Mengulas apa yang telah diungkapkan oleh Sayyidah Aisyah radhiallahu ‘anha bahawa Rasuiullah ﷺ itu sudah diampuni seluruh dosa-dosanya oleh Allah, baik yang dilakukan dahulu atau yang akan datang, maka al-lmam Ibnu Abi Jamrah r.a. memberikan penjelesan sebagai berikut:

“Sebenarnya tiada seorang pun yang dalam hatinya terlintas suatu persangkaan bahawa dosa-dosa yang diberitahukan oleh Allah Ta’ala yang telah diampuni yakni mengenai diri Nabi ﷺ itu adalah dosa yang kita maklumi dan yang biasa kita jalankan ini, baik yang dengan sengaja atau cara apapun.

Itu sama sekali tidak, sebab Rasulullah ﷺ, juga semua nabiyullah ‘alaihimus shalatu wassalam itu adalah terpelihara dan terjaga dari semua kemaksiatan dan dengan sendirinya tidak ada dosanya sama sekali (ma’shum minadz-dzunub). Semoga kita semua dilindungi oleh Allah dari memiliki persangkaan yang jelas salahnya sebagaimana di atas.

Tujuan Inti Hadits

Adapun inti dari tujuannya hanyalah sebagai mempertunjukkan kepada seluruh ummat, betapa besarnya kewajiban setiap manusia, yang di dalamnya termasuk pula Nabi Muhammad ﷺ untuk memaha agungkan kepada Allah serta senantiasa mensyukuri nikmat-nikmat Allah.

Karena apa yang dilakukan oleh manusia, bagaimanapun juga besar dan luhurnya nilai apa yang diamalkannya itu, masih belum memadai sekiranya dibandingkan dengan kenikmatan yang diberikan oleh Allah kepada manusia.

Oleh karena itu hak-hak Allah yang wajib kita penuhi sebagai imbalan kurniaNya itu, masih belum sesuai dengan perbuatan baik yang kita amalkan, meskipun menurut anggapan kita amal baik sudah amat banyak.

Maka jadi lemahlah kita untuk mengimbanginya dan itulah sebabnya, maka memerlukan adanya pengampunan meskipun tiada dosa yang dilakukan sebagaimana halnya Rasulullah Muhammad serta sekalian para nabiNya ‘alaihimus shalatu wassalam itu”.

Sehat adalah Anugerah
Sehat adalah Anugerah

Demikian Uraian Fiqih.co.id mengenai Sehat adalah Anugerah, Kelapangan ialah Pemberian, jangan sia-siakan Mudah-mudahan urai ini dapat m enginspirasi dari inti uraian tersebut. Mohon Abaikan saja uraian kami ini, jika pembaca tidak sependapat.Terima kasih atas kunjungannya. Wallahu A’lamu bish-showab.