Tata Cara Haji, Bagi Yang Tamattu Miqat Dari Pemondokan

Diposting pada

Tata Cara Haji, Bagi Yang Tamattu Miqat Dari PemondokanYang sangat perlu difahami jamaah untuk melaksankannya. Asslaamu ‘alaiku dhuyufullah, rahmtullahi ‘alaikun ajma’in aamiin. Setelah berhari hari jamaah di Makkah baik yang gelombang pertama maupun gelombang ke dua tiba lah saat yang ditunggu-tunggu yaitu tanggal 8 dzul hijjah.

Nah di halaman ini fiqih.co.id Kita bahas mengenai pelaksanaan haji mulai dari Pemondokan masing-masing. Jadi apa yang mesti kita lakukan? Dimulai dari mana dan bagaimana? Yauk kita simak saja uraian ringkasnya di bawah in.

Tata Cara Haji, Bagi Yang Tamattu Miqat Dari Pemondokan

Saudarkau semua para Tamunya Allah yang berbahagia, mari kita belajar bersama dan fahami bersama terkait masalah hala-hal yang dilarang pada saat kita sedang ihram.

Tata cara haji pada dasarnya sama saja baik Ifrad, Qiran Mau pun tamattu, yang membedakan adalah hanya dalam pelaksanaannya.

Jadi kalau kita menunaikan haji qiran, berarti kita mesti membarengkan ihram umrah dana haji dari miqat. Kemudian jika kita tunakan haji Ifrad berati kita menyendirikan haji dan umrah. Artinya kita ihram haji dari miqat tanpa umrah, kemudian setelah selesai rangkaian ibadah haji yang kita tnaukan maka kemudian selanjutnya kita menunaikan umrah pada bulan dzul hijjah tahun itu juga.

Tata Cara Haji

Secara umum kebanyakannya dalam Pelaksanaan ‘Ibadah Haji, terutama haji reguler caranya adalah sebagai berikut;

  1. Bersuci yaitu mandi sunah, terus wudlu.
  2. Memakai pakaian ihrom.
  3. Solat sunah ihrom dua roka’at.
  4. Niyat untuk berhaji.
  5. Berangkat menuju ‘Arofah pada tanggal 8 Dzulhijjah.
  6. Membaca Talbiyah, Solawat dan Do’a Lafadnya sama dengan waktu pelaksanaan ‘umroh.
  7. Begitu masuk Padang ‘Arofah baca do’a.
  8. Sambil menunggu waktu wuquf pada tanggal 9 Zdul-hijjah maka sebaiknya diisi dengan memper banyak Dzikir, Tasbih, Baca Al-qur’an, Talbiyah dan do’a.
  9. Sebelum masuk waktu wuquf kita mendengarkan khutbah wuquf. memper banyak dzikir, tasbih, dan baca Al-qur’an.
  10. Wukuf dimulai sa’at tergelincirnya mata hari  hingga terbenam mataharai.
  11. Pada waktu wuquf kita memper banyak berdo’a, dzikir, talbiyah, istighfar, membaca Al-qur’an dan ibadah-ibadah lain.
  12. Masuk waktu magrib kita solat magrib dilangsungkan solat ‘isya kosor jama’ taqdim.
  13. Selesai solat kita berangkat menuju Muzdalifah untuk mabit (nginap) di Muzdalifah dan mengambil batu 7 butir guna melontar Jumroh ‘Aqobah  di Mina.
  14. Yang sebaiknya di Muzdalifah itu kita ngambil batu tidak hanya 7 butir melainkan cukupkan untuk persiapan lontar pada tanggal 11, 12 dan 13 dzul hijjah. Jadi pada saat kita berminap di Muzdalifah tersebut sebaiknya ambilah batu sebanyak 70 butir guna persiapan nafar stani. Kemudian di Miana kegiatan kita adalah Mabit dan Lontar.

Di Mina

Tata Cara haji yang dilakukan yakni dikerjakan ketika sedang berada di Mina ialah;

  1. Di Mina kewajiban kita adalah mabit dan melontar jumroh juga menyembelih hewan untuk bayar dam nusuk kalau ada waktu jika tidak maka tidak mengapa diakhirkan saja. Bahkan dalam madzhab Syafi’i dibolehakan memotong dam nusuk itu setelah selesai umrah wajib waktu sebelum ke arafah.
  2. Pada waktu di Mina ini jika kita sudah menunaikan lontar jumrotul ‘aqabah maka bisa langsung tahalul dengan menggunting rambut. Kemudian setelah ini baru bebas larangan ihram kecuali satu.
  3. Apabila kita mau ngambil nafar awal, maka kita di Mina bermalam dua malam yaitu malam tgl. 11 dan 12, kemudian pada tgl. 12 zdulhijjah kita meninggalkan mina  setelah melontar jumroh ula, wusto dan ‘aqobah.
  4. Tapi jika kita mau ngambil nafar tsani, maka kita bermalam di Mina selama 3 malam yaitu 11, 12, 13 pada tgl 13 kita meninggalkan Mina menuju Makah, setelah melontar jumroh Ula, Wustho dan ‘Aqobah. Bagaimana jika kita ngambil nafae awal?.

Nafar Awal

  1. Bagi jam’ah haji yang nafar awal berarti persiapan kerikil harus 42 + 7 = 49. Sedang kan untuk yang nafar tsani maka persiapan kerikil harus 63 + 7 = 70.
  2. Setelah selesai kita menyelesaikan tugas pokok di Mina, yaitu mabit dan lontar, maka kita akan kembali ke Makkah.
  3. Setelah cukup istirahat satu atau dua hari atau kurang dari satu hari kita berada di Pemondokan, maka kita masih punya pekerjaan yang belum terselesaikan yaitu rukun haji menunaikan tawaf ifadhah dan sa’i.
  4. Jika sudah dikerjakan Tawaf dan sa’inya dengan tertib maka berakhirlah dengan Tahalul Kubro.
  5. Setelah tahalul kubro ini maka sudah bebas larangan ihram secara keseluruhan dan sudah boleh hubungan pasutri.
  6. Jika kita belum bayar dam, maka segeralah bayar dam nusuk.

Pentup

Para pembaca yang dirahmati Allah semoga menjadi haji yang mabrur dan mabrurah Aamiin. Uraian tatacara ibadah haji yang kami paparkan di atas ini sebagaui gambaran buat para jamaah yang akan menunakan ibadah haji. Dan untuk lebih rincinya nanti bisa secara langsung praktek di lokasi.

Melalui kesempatan ini kami fiqih.co.id selalu memohon kepada semua jamaah calon haji kiranya tetap terus semangat mengikuti manasik haji yang dibimbing oleh para pembimbing haji profesional dan bersertifikat. Selanjutnya kemudian bertanyalah kepada ahli fiqih di bidang haji agar tidak salah memahami.

Tata Cara Haji
Tata Cara Haji

Demikian ringkasan materi yang dapat kami sampaikan mengenai; Tata Cara Haji, Bagi Yang Tamattu Miqat Dari Pemondokan – mudah mudahan materi ini bisa membantu. Mohon kiranya  bagi jamaah yang kurang sependapat dengan materi ini kami harap untuk diabaikan saja. Kami menuliskan materi ini hanya menyiapkan saudara kami yang memang benar benar memerlukan. Materi ini juga bisa dijdaikan sebagai bahan Pemateri Manasik haji bagian fiqih haji. Terimakasih atas kinjungannya. Wallahul muwaffiq ila aqwamith thoriq.