Rukun Haji, Yang Apabila Tidak Dikerjakan Maka Hajinya Batal

Diposting pada

Rukun Haji, Yang Apabila Tidak Dikerjakan Maka Hajinya Batal – Assalamu’alaikum wa rohmatullahi wa barokaatuh. Dhuyufullah yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pada halaman ini fiqih.co.id akan menuliskan Materi tentang Rukun haji. Materi ini In Syaa Allah masih bersambung pada materi berikutnya seputar perhajian dalam hal yang sekira dianggap perlu utnuk dipelajari. Oleh karena itu sebaiknya antum baca semua artikel yang berhubungan dengan haji.

Rukun Haji, Yang Apabila Tidak Dikerjakan Maka Hajinya Batal

Di dalam pelaksanaan ibadah haji ada beberapa pekerjaan yang harus ditunaikan. Jika pekerjaan tersebut tidak ditunaikan, maka hajinya tidak sah. Selain itu juga pekerjaan tersebut tuidak bisa diganti dengan dam apa pun.

Itulah yang dinamakan dengan rukun haji. Rukun haji ini adalah perkara yang mesti ditunaikan oleh orang yang sedang mengerjakan ibadah haji di makkah al-mukarromah. Untuk lebih terangnya, antum silahkan baca uarain yang sangat ringkasnya di bawah ini.

Rukun haji

Rukun haji itu adal lima yaitu;

  1. Ihrom.
  2. Niat.
  3. Wuquf di Arafah.
  4. Thawaf di Baitullah.
  5. Sa’i antara shoffa dan marwah kemudian Mencukur rambut untuk tahalul

Lanatas bagaimana sebenarnya menggunting atau mencukur rambut itu wajib apa rukun?, silahkan antum baca pada link ini; Mencukur Rambut

Dalam Keterangan lain rukun haji itu enam yaitu;

  1. Niat/ Ihrom.
  2. Wukuf di ‘Arofah.
  3. Tawaf ifadloh.
  4. Sa’i
  5. Tahalul
  6. Tertib.
    Rukun haji tidak dapat ditinggalkan. Apabila di tinggalkan, maka hajinya tidak sah (batal.)

Rukun haji ersebut sebagai mana diterangkan dalam salah satu fiqih madzhab syafi’i yaitu Kifayatul Akhyar sebagai berikut;

وَأَرْكَانُ الْحَجِّ خَمْسَةٌ الْإِحْرَامُ وَ النِّيَّةُ وَ الْوُقُوْفُ بِعَرَفَةَ وَالطَّوَافُ بِالْبَيْتِ، وَالسَّعْيُ بَيْنَ الصَّفَا وَالمْرَوَةِ

Artinya: Adapun rukun-rukun haji itu ada lima, yaitu; 1. Ihram 2. Niat 3. Wukuf di arafah 4. Thawaf di baitullah. 5. Dan Sa’i antara shoffa dan marwah.

Ihram dan Niat

Mmengenai Rukun haji ke satu dan dua yaitu Ihram dan niat diterangkan dalam fiqih sebagai berikut;

Berkata Syaikh Abu Syujak;

لَمَّا ذَكَرَ الشَّيْخُ شُرُوْطَ وُجُوْبِ الْحَجِّ شَرَعَ فِيْ ذِكْرِ أَرْكَانِهِ : مِنْهَا الْإِحْرَامُ، وَهُوَ عِبَارَةٌ عَنْ نِّيَّةِ الدُّخُوْلِ فِيْ حَجٍّ أَوْ عُمْرَةٍ قَالَهُ النَّوَوِيُّ، وَزَادَ إبْنُ الرِّفْعَةِ أَوْ فِيْمَا يَصْلُحُ لَهُمَا أَوْ لِأَحَدِهِمَا، وَهُوَ الْإِحْرَامُ الْمُطْلَقُ، وَسُمِّيَ إِحْرَامًا لِأَنَّهُ يَمْنَعُ مِنَ الْمُحَرَّمَاتِ، وَسَيَأْتِيْ ذِكْرُهَا إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى، وَحُجَّةُ وُجُوْبِهِ قَوْلُهُ ﷺ : إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَهُوَ مَبْدَأُ الدُّخُوْلِ فِي النُّسُكِ وَالنُّسُكُ الْعِبَادَةُ، وَكُلُّ عِبَادَةٍ إِحْرَامٌ وَتَحَلُّلٌ، فَالْإِحْرَامُ رُكْنٌ فِيْهَا كَالصَّلَاةِ، وَهُوَ مَجْمَعٌ عَلَيْهِ 

Setelah pengarang menerangkan tentang syarat-syarat haji, sekarang beliau hendak menerangkan pula mengenai rukun-rukun haji. Di antara rukun haji ialah ihram. Yang disebut ihram ialah berniat memasuki ibadah haji atau umrah, begitulah kata Imam Nawawi.

Ibnu Rif’ah menambahkan definisinya begini ;  Atau memasuki sesuatu yang patut untuk haji dan umrah, atau yang patut untuk salah satu dari haji dan umrah.

Apa yang dikatakan oleh Ibnu Rif’ah adalah ihram yang mutlak. Disebut ihram karena di dalam ihram itu orang harus menjauhi perkara-perkara yang diharamkan. Insya Allah nanti akan diterangkan perkara-perkara yang haram dilakukan pada waktu ihram.

Yang menjadi dalil wajibnya ihram ialah sabda Nabi Muhammad s.a.w.”Sesungguhnya amal jadi sah bila disertai niat”  ihram ialah permulaan masuk nusuk, manakala nusuk itu adalah ibadah. Tiap-tiap ibadah yang terdapat padanya ihram dan tahallul, tentu ihrom menjadi rukun di dalamnya. Misalnya ibadah shalat. Rukun ihram ini sudah disepakati oleh para Ulama.

Macam Ihram

Rukun haji di antaranya adalah ihrom. Ihrom tersebut ada 3 maca sebagaimana diteranmgkan;

وَاعْلَمْ أَنَّ الْإِحْرَامَ ثَلَاثَةُ وُجُوْهٍ، الْإِفْرَادُ، وَالتَّمَتُّعُ، وَالْقِرَانُ، وَلَا خِلَافَ فِيْ جَوَازِ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهَا، لَكِنْ مَا الْأَفْضَلُ؟ فِيْهِ خِلَافٌ الْمَذْهَبُ الَّذِيْ نَصَّ عَلَيْهِ الشَّافِعِيُّ فِيْ عَامَّةِ كُتُبِهِ أَنَّ الْإِفْرَادَ أَفْضَلُ، وَيَلِيْهِ التَّمَتُّعُ، ثُمَّ الْقِرَانُ، وَصُوْرَةُ الْإِفْرَادِ أَنْ يُحْرِمَ بِالْحَجِّ وَحْدَهُ، وَيَفْرُغُ مِنْهُ ثُمَّ يُحْرِمُ بِالْعُمْرَةِ، ثُمَّ شَرْطُ كَوْنِ الْإِفْرَدِ أَفْضَلُ مِنْهُمَا أَنْ يَعْتَمِرَ فِيْ تِلْكَ السَّنَةِ فَلَوْ أَخَّرَ الْعُمْرَةَ عَنْ سَنَتِهِ فَكُلُّ مِنَ التَّمَتُّعِ وَالْقِرَانِ أَفْضَلُ مِنَ الْإِفْرَادِ لِأَنَّ تَأْخِرَ الْعُمْرَةِ عَنْ سَنَةِ الْحَجِّ مَكْرُوْهٌ

Ketahuilah, bahwa ihram itu ada tiga macam: (1) Ihram Ifrad (2) Ihram Tamattuk dan (3) Ihram Qiran, Tidak ada khilaf mengenai wenangnya ketiga-tiga ihram tersebut.

Tetapi mana yang lebih afdhal? Ada khilaf. Menurut mazhab yang kuat yang telah dinash oleh Imam Syafi’i . di sebagian banyak kitab beliau, Ihram Ifrad ialah yang paling utama. kemudian Ihram Tamattuk lalu Ihram Qiran.

Gambaran Ihram Ifrad itu begini : Hendaknya orang itu berihram haji kemudian setelah menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan haji lalu lalu berihram Umrah pula. Kemudian, syarat adanya ihram Ifrad lebih afdhal daripada Tamattuk dan Qiran, orang itu harus melakukan ibadah Umrah pada tahun itu juga. Jadi andaikata orang itu menunda Umrahnya dari tahun itu, Tamattuk dan Qiran adalah lebih utama daripada Ifrad. Sebab mengakhirkan Umrah dari tahun hajinya hukumnya makruh.

Selanjutnya antum baca juga beberapa artikel terkait dengan masalah haji ini. Boleh natum buka pada link ini; ihram tamattu 

Rukun haji
Rukun haji

Pentup

Demikian ringkasan materi yang dapat kami sampaikan mengenai; Rukun Haji, Yang Apabila Tidak Dikerjakan Maka Hajinya Batal – mudah mudahan materi ini dapat bermanfaat. Mohon bagi saudaraku yang tidak suka dengan materi ini untuk diabaikan saja. Kami hanya menuliskan materi ini buat saudara kami yang memang memerlukan saja. Materi ini juga bisa dijdaikan sebagai bahan Pemateri Manasik haji bagian fiqih haji. Terimakasih atas kinjungannya. Wallahul muwaffiq ila aqwamith thoriq.